Gemuruh Gelombang Cinta

Posted on Updated on

Sekitar empat tahun lalu, istri saya meminta sebuah tanaman hias dari mertua saya di Jakarta untuk dibawa ke Surabaya. Pada waktu itu saya melihat tanaman itu memang unik, mertua saya bahkan tidak tau nama tanaman itu. Tanaman itu sempat hampir mati, daunnya tinggal selembar, sehingga saya pindahkan dari kamar tamu kehalaman samping. Entah karena diluar, dia tumbuh berkembang lagi, tapi kami merawatnya seadanya saja. Baru awal bulan Agustus lalu, ketika istri ke Malang, jalan-jalan ke salah satu nursery, dan lihat tanaman yang sama dengan yang kami punya, ternyata namanya Gelombang Cinta. Dan yang mengagetkan istri saya, gelombang cinta dengan ukuran yang seperti kami punya harganya sekitar Rp. 1.500.000,-

Sewaktu istri saya bilang bahwa tanaman kami harganya sekitar 1,5 juta rupiah, saya semula agak ragu. Baru setelah awal September ini saya mampir ke pameran tanaman hias di Surabaya, saya melihat sendiri, bahwa Gelombang Cinta dengan daun sebanyak 10 lembar dan panjang daun sekitar 40 cm, memang harganya sekitar 1,5 juta rupiah. Saya geleng-geleng kepala tidak habis pikir melihat harga tanaman hias pada pameran itu.

Gelombang Cinta (Waves of Love) termasuk tanaman kelompok Anthurium yang belakangan ini memang sedang meroket pamornya dan harganya luar biasa. Kelompok Anthurium yang lain, Jenmanii, lebih gila lagi. Pada pameran kemarin saya melihat sebuah Jenmani dengan daun sebanyak 6 lembar dan panjang daun sekitar 12 cm, ditawarkan dengan harga Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah !!). Padahal disebelahnya ada tanaman kelompok Anthurium sejenis Jenmanii yang ukuran daunnya hampir 1,5 meter. Pada tag tanaman itu tidak dicantumkan harganya, tapi saya sudah tidak berminat menanyakan harganya. Karena pasti akan mahal sekali. Pada stan lain, saya melihat Black Beauty, kelompok Anthurium yang lain dengan tinggi sekitar 40 cm dan daun sebanyak 7 lembar ditawarkan dengan harga Rp. 25.000.000,-.

Sejak tau bahwa tanaman kami harganya termasuk mahal, sekarang istri saya rajin merawat Gelombang Cinta tersebut. Media tanaman sudah kami ganti dengan campuran sekam bakar dan serabut pakis, ditambah pupuk organik penemuan Sahputra. Beberapa hari lalu, bunga bakal biji sudah keluar, sehingga tanaman itu sudah bisa menjadi induk untuk pembibitan. Bila bunga pertama ini berhasil dikembangkan menjadi biji, bisa menjadi penghasilan tambahan. Karena harga bibit dengan dua lembar daun berukuran 1 (satu) sentimeter sudah berkisar Rp. 25.000,-.

Harga tanaman hias belakangan ini memang rasanya tidak masuk akal. Meningkatnya harga itu selain dikarenakan kelangkaan dan sulitnya untuk mengembangkan, menurut saya lebih dipacu oleh “pengkondisian psikologis” oleh kolektor tanaman hias. Rasanya sulit membayangkan harga tanaman Black Beauty senilai 20 jutaan. Bentuknya tidak terlalu jauh dari keladi yang biasa dibudidayakan petani. Ketika ada kolektor nyentrik yang karena rasa penasarannya berani menawar harga sangat tinggi untuk sebuah tanaman hias. Maka penawaran kolektor itu dijadikan patokan untuk harga umum tanaman hias. Menurut saya ini agak keterlaluan, tetapi dari pameran ke pameran “pengkondisian psikologis” itu seolah terbangun, bahkan para pengelola nursery ikut menambah kegilaan harga tanaman hias.

Sampai kapan Gelombang Cinta akan terus bertahan di papan atas tanaman hias di Indonesia. Waktu akan mencatat. Apakah mekanisme harga pasar tanamn hias yang seperti itu akan bertahan lama. Akankah Gelombang Cinta bergelombang turun naik mengikuti arus jaman tanaman hias?.

About these ads

21 thoughts on “Gemuruh Gelombang Cinta

    syifa said:
    15/02/2012 at 07:14

    sekarang gelombang cinta sudah murah. aku beli karna suka aja liat daunnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s