Integritas seorang ilmuwan dan pecundang di jaman Soeharto.

Sudah lama saya menilai Emil Salim, mantan menteri dijaman Soeharto, sebagai sosok yang mumpuni. Sebagai dosen, ilmuwan, ahli ekonomi, ia juga mampu menjadi menteri lingkungan hidup yang dikenal baik.  Penilaian saya didasarkan pada pikiran-pikirannya yang saya baca di berbagai tulisan serta ketika mendengarkan paparan dan ceramahnya. Akan tetapi Minggu malam 2o Januari 2008 di acara “One to One East” TV Al Jazeera International, kesan saya menjadi lain ketika Emil Salim tampak sebagai pecundang, membela mantan atasannya, Soeharto.

Saya memang tidak menyaksikan acara Talkshow “One to One East” TV Al Jazeera International dari awal, tapi pada bagian akhir yang saya lihat, penampilan Emil Salim bagaikan orang yang tidak mempunyai kualitas dan integritas sebagai seorang ilmuwan sebagaimana yang saya ketahui selama ini. Acara “One to One East” Al Jazeera menampilkan bintang tamu Wimar Witular dan Mugiyanto, seorang aktivis Indonesia lainnya di studio TV Al Jazeera,  sementara Emil Salim diwawancarai di Jakarta melalui satelit (disiarkan pertama kali 17 januari 2008). Acara talkshow itu membahas tentang kepemimpinan Soeharto sebagai diktator.

Emil Salim membela Soeharto dengan mengatakan, bahwa pada masa Soeharto pembangunan ekonomi dilaksanakan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia. Pembangunan demokrasi dan politik memang menjadi prioritas rendah. Ia juga mengakui bahwa pada paruh akhir masa jabatan Soeharto banyak pihak yang berbeda pendapat dengan kebijakan yang diambil Soeharto. Tapi mengapa pada saat itu MPR dan pihak-pihak tersebut tidak mengajukan keberatan dan diam saja. Mengapa baru sekarang orang mempermasalahkan. Mendengar hal itu Wimar Witular langsung menyela dengan mengatakan:
“Mengapa orang seperti Emil Salim yang pintar dan punya kapasitas cukup juga tidak mengingatkan Soeharto”.

Mendengar itu, Emil Salim tidak dapat berkata apa-apa. Wimar kemudian menyela:

“Apakah Mr. Emil Salim juga berpendapat bahwa Soeharto baik?.

Mendengar itu Emil Salim juga tidak berkata selain:

“Saya memang pernah bekerja bersama Soeharto”……

Ketika Wimar mendesak lagi dengan pertanyaan yang sama, Emil Salim pun tidak berani menjawab apakah Soeharto baik atau buruk.

Saya tidak ingin mengutip seluruh pembicaraan talkshow tersebut, satu hal yang pasti dari acara talkshow itu adalah bahwa Emil Salim sebagai ilmuwan adalah kroni Soeharto yang membela Soeharto sampai sekarat. Pembelaan Emil Salim terkesan sangat konyol. Walaupun Emil Salim menyatakan bahwa ia tidak membela Soeharto secara pribadi melainkan membela kebijakan Soeharto. Malam itu integritas Emil Salim terkesan sangat rendah. Baru saja Desember 2007 lalu Emil Salim memimpin delegasi Indonesia dalam Negosiasi Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC di Bali, di Konferensi itu Emil Salim cukup pawai. Tapi ketika membahas kebijakan Soeharto, ia seolah jadi seperti pecundang.

Kasihan Emil Salim.

About these ads

6 thoughts on “Integritas seorang ilmuwan dan pecundang di jaman Soeharto.

  1. itulah jadinya jika seseorang mempunyai hutang budi. dia tidak bisa menilai dengan obyektif. pak emil tentu berhutang budi kepada pak harto karena dia pernah diberi kepercayaan yang besar sebagai mentri.

    saya tidak tahu apa jawaban habibie atas pertanyaan “Apakah Mr. Habibie juga berpendapat bahwa Soeharto baik?”

    Meskipun sudah ditolak untuk membesuk suharto, meski telah dicuekin oleh pak harto, saya yakin kerongkongan habibie pun akan memberikan jawaban yang sama.

    Like

  2. Tadinya saya beranggapan integritas seorang sekaliber Prof. DR.Emil Salim, cukup tangguh terhadap Soeharto. Sedemikian hebatkah Soeharto, sehingga seorang seperti Emil Salim pun tidak mampu berbuat apa-apa?.
    Atau Emil Salim sedang kebingungan ??.

    Like

  3. Jangan dibalik dong bos. Yang salah itu kita, bukan Pak Emil. Memangnya Pak Emil pernah meminta kita untuk menganggap dia sebagai intelektual atau negarawan yang punya integritas tinggi? Seingat aku, belum pernah ahli ekonomi yang kompromi menekuni lingkungan ini menggiring masyarakat untuk menilainya sebagai seorang idealis, misalnya.

    Kitalah yang terlalu berharap, lalu mensugesti diri sendiri, bahwa profesor yang selalu tersenyum ramah ini pasti orang baik, punya integritas. Kitalah yang tega menipu diri sendiri, mengharapkan di antara para loyalis Soeharto bakal muncul seorang tokoh yang punya integritas dan punya kekuatan moral untuk mengatakan : Soeharto is a big liar !

    Jadi kalau ada yang kecewa menonton acara Al Jazeera itu, kecewalah pada dirimu sendiri. Kok lambat kalinya kalian belajar dan… sadar?

    Horas

    Like

  4. Itu sudut pandang yang berbeda.

    Saya melihat dari sudut pandang orang kebanyakan (mungkin). Karena bagaimanapun kita (saya) berharap pada waktu SEKARANG ini Emil Salim mau mengoreksi apa yang sudah mereka buat dimasa lalu. Saya tadinya memang berharap bahwa SEKARANG Emil Salim punya keberanian moral. Tapi ternyata tidak.

    Dengan itu memang terbuktilah bahwa orang-orang seperti Emil Salim pun hanya kacung Soeharto. Apalagi kacung Soeharto yang lain yang kualitasnya tak sebanding dengan Emil Salim.

    Like

  5. Saya menhormati Pak Emil sbg seorang cendekiawan kita.
    namun dalam ilmu manajemen secara umum kan manusia harus punya 3 C yaitu competensi,cita cita/kemauan, dan character.

    ternyata pak emil gak punya karakter. maka dia hanya jadi jongos suharto yang berarti pak emil juga turut menyukseskan program pembusukan negara Indonesia.

    saya semakin ke sini melihat tingkah polah pak emil tak lebih seperti pedagang/penjual negara. seperti terlihat di unfccc di bali lalu. pak emil paling semangat dalam menyukseskan penjualan karbon, yang uangnya gak akan pernah dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil, karena korupsi akut.

    terimakasih pak togar

    Like

  6. Kalau di UNFCCC di Bali kemarin, saya kira pak Emil cukup lumayan, walaupun tidak semua perjuangan delegasi Indonesia berhasil. Saya juga mengakui kemampuannya negosiasi, pada awalnya kan sangat alot untuk menggolkan “BALI ROAD MAP”.

    Saya acung jempol sama beliau. Sebab semula kan penolakan Amerika dan Jepang untuk Road Map sangat tinggi. Itupun, delegasi Indonesia tidak seluruhnya berhasil, karena poin penting untuk penetapan komitmen penurunan emisi tidak disepakati oleh Amerika dan Jepang.

    Penjualan karbon itu mekanismenya sangat rumit pak. Tidak sesedarhana yang dibayangkan banyak orang. Prosedur pemanfaatkan uang penjualan karbon membutuhkan tahapan yang sangat panjang dan melelahkan. Yang disepakati di Bali kan baru prinsipnya. Supaya kita bisa dapat uang itu, maka harus disiapkan suatu proposal lengkap. Proposal itu akan dinilai oleh suatu tim dari berbagai negara sebelum disetujui oleh Badan PBB. Dalam proposal juga harus sudah dijelaskan sistem pemanfaatannya dan pengawasannya. Pokoknya rumitlah.

    Saya sudah pernah menyusun proposal untuk mendapatkan dana dari PBB melalui GEF (Global Environment Facility). Proposal yang sudah lolos di tingkat Pusat, tidak berhasil di badan PBB. Capek menyusun dan lama, tapi tidak berhasil.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s