Menginternalisasikan eco-efisiensi ke mekanisme pasar

Sebagai bagian dari usaha bersama untuk meningkatkan efisiensi ekologi, saat ini sedang dikampanyekan konsep “green growth”. Terminologi “green growth” dipilih ketimbang terminologi “ecological development“. Alasannya adalah bahwa lebih mudah menentukan dan mengukur indikator “growth” daripada mengukur indikator “development“. Konsep green growth dipromosikan oleh DR. Rae Kwon Chung, Direktur UN-ESCAP. DR. Chung sudah mempresentasikan konsep ini dalam beberapa seminar dan konferensi yang saya ikuti, dan ditekankan lagi pada saat “Asia Pacific Mayor Forum” yang dilaksanakan di Ulsan, Korea, 21-22 April 2008.

Konsep “green growth” sedang dikembangkan untuk mengajak semua pihak pada upaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena ide utamanya adalah mengintegrasikan pembangunan ekonomi dan pada saat yang sama meningkatkan kualitas lingkungan. Konsep pembangunan ramah lingkungan sudah lama didengungkan, tetapi harus diakui, bahwa belum banyak hasil yang dicapai, bahkan termasuk di negara-negara maju. Dengan terminologi “green growth“, dicoba ditetapkan indikator pencapaian, sehingga keberhasilan atau ketidak berhasilan dapat diukur oleh masing-masing pihak yang terlibat.

Green growth mengintegrasikan percepatan pembangunan ekonomi tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Dalam konsep ini peningkatan kesejahteraan rakyat dilaksanakan melalui pembangunan ekonomi, dan pada saat yang sama meningkatkan kualitas lingkungan. Konsep ini sekaligus menolak pemikiran “develop first, clean-up later“. Untuk diketahui banyak negara yang melakukan pembangunan ekonomi yang sangat cepat, karena diyakini bahwa pembangunan ekonomi merupakan jawaban terhadap kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan ekonomi memang meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi pada umumnya meninggalkan pencemaran yang cukup berat. Pada akhirnya investasi untuk membersihkan pencemaran menjadi sangat tinggi. Pendekatan yang disebut “develop first, clean-up later”, ternyata membawa konsekuensi yang lebih buruk. Investasi untuk membersihkan sangat besar.

Pada masa lalu, pendekatan pembangunan dan pelestarian lingkungan seolah merupakan permainan (“zero game“) yang tiada henti dan selalu bertentangan dengan hasil hampir selalu nihil. Pembangunan dan pelestarian lingkungan selalu ditempatkan pada dua sisi yang berbeda. Pelestarian lingkungan dilakukan dengan pendekatan dari sisi produksi (pada pembangunan ekonomi) dan dilihat sebagai “external cost“. Pendekatan yang dilakukan adalah bagaimana meminimalkan pencemaran pada waktu bersama meningkatkan jumlah pertumbuhan. Kedua aspek ini selalu dipertentangkan, dan semua tau, hasilnya tidak membawa dampak apa-apa.

Karena itulah para ahli kemudian mengembangkan “green growth” sebagai konsep dan pendekatan pembangunan yang lebih optimal. Pendekatan ini melaksanakan secara bersama sama pencapaian tujuan dari Millenium Development Goals nomor 1 dan nomor 7 (MDG1 dan MDG7), yaitu pengurangan kemiskinan dan peningkatan kualitas lingkungan. Konsep ini memfokuskan diri pada pembangunan berkelanjutan dan “Ecological Eficiency” (EE). Dengan konsep ini pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dilihat sebagai suatu kesatuan yang tidak dipisahkan. Prinsip utama adalah penghematan penggunaan enerji pada semua level. Salah satu upayanya adalah menginternalisasikan biaya lingkungan pada mekanisme pasar.

Contoh dari pendekatan internalisasi biaya lingkungan adalah dengan reformasi sistem perpajakan ekologi (eco-tax reform). Pada reformasi ini, pajak pemanfaatan energi ditingkatkan secara progresif. Artinya semakin tinggi pemanfaatan enerji, maka pajak yang dikenakan kepada pengguna enerji, semakin tinggi. Tujuannya adalah agar pengguna enerji dalam jumlah banyak, akan melakukan penghematan. Hasil dari peningkatan pajak pemanfaatan enerji, digunakan untuk program pelestarian lingkungan.

Pada saat yang sama bisa dilakukan penurunan pajak penghasilan, sehingga secara total, peningkatan pajak pada penggunaan enerji sesunguhnya tidak terlalu berbeda dengan keadaan sebelum reformasi pajak. Tentu saja reformasi sistem perpajakan ini harus dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tujuan internalisasi biaya lingkungan benar-benar menghasilkan biaya pelestarian lingkungan yang bertambah secara signifikan.

Konsep “green growth“, memerlukan penerapan yang konsisten. Karena itu, konsep ini memerlukan pemahaman yang baik dari semua stakeholder. Komitmen yang tinggi diperlukan untuk mengembangkan dan melaksanakan konsep ini. Kegagalan pelakksanaannya biasanya timbul karena lemahnya komitmen para penggambil keputusan dan para pelaku dilapangan.

Perubahan paradigma “green growth” dipilih sebagai solusi yang paling optimal saat ini. Pilihannya adalah melakukan pendekatan pembangunan untuk menghindari biaya yang lebih tinggi pada masa yang akan datang sebagai akibat pencemaran yang sulit ditanggulangi. Indonesia perlu mengadopsi pendekatan “green growth” ini.

About these ads

3 thoughts on “Menginternalisasikan eco-efisiensi ke mekanisme pasar

  1. Betul Green growth sangat perlu, yang pertama dilakukan adalah menyamakan persepsi, bahwa bukan cuma pembangunan yang penting tapi menjaga lingkungan lebih penting, para pejabat harus diajari lagi etika dan moral terhadap lingkungan, jangan cuma ngomong doang, belum lama Pak Hatta Radjasa berkoar akan meningkatkan devisa dg nanam sawit seluasnya, yg ada hutan makin gundul, lingkungan hancur, sudah banyak realitanya. Mari kita jaga terus lingkungan kita.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s