Biasanya Sabtu dan Minggu saya jarang ngenet, lebih sering di rumah dengan acara keluarga maupun acara lainnya. Sabtu malam ini, ketika saya nyambangi blog saya ini, di dasbor, terlihat berita terbanyak adalah tentang meninggalnya Sophan Sophian karena kecelakaan motor di perbatasan Jatim dan Jateng. Rombongan Sophan, bersama kurang lebih 300 moge, Jumat pagi sekitar jam 08.30 pagi, dilepas Walikota dari Balaikota Surabaya. Sebelum berangkat, Sophan sempat berfoto bersama dengan Walikota dan mantan Kapolri Rusmanhadi di tangga balaikota. Mungkin itulah foto “action” terakhir dari Sophan Sophian di Surabaya.
Rombongan 300 “moge” tiba di Surabaya, Kamis siang, setelah nginap semalam, mereka melanjutkan perjalanan dan dilepas dari balaikota Surabaya pagi hari. Saya yang mendampingi walikota, masih sempat melihat Sophan dengan motor gedenya. Sebelum diberangkatkan walikota, sebagian peserta sempat menikmati kopi yang disuguhi Bagian Umum Pemkot Surabaya. Wartawan yang meliput acara itu meminta Walikota Surabaya, Bambang DH berfoto dengan beberapa bikers, termasuk Sophan Sophian dan Mantan Kapolri Rusmanhadi.
Sewaktu berangkat dari balaikota Surabaya, Sophan yang start dibarisan depan berboncengan dengan seorang wanita cantik, yang pada waktu itu saya mengira itu adalah Widyawati, istri Sophan. Pada waktu foto bersama walikota, hanya Sophan yang ikut, sementara wanita itu sudah menunggu disamping motor dengan helm dan jaket lengkap, sehingga saya tidak bisa lihat jelas apakah itu Widyawati atau bukan. Menurut detikcom, Widyawati ada di Jakarta, saat Sophan kecelakaan, tapi saya melihat Sophan berboncengan dengan “Widyawati” di Surabaya. Salah seorang wartawan malah sempat mengabadikan mereka berdua di “moge”nya beberapa saat sebelum start. Saya malah sempat ceritakan tentang kehadiran “Widyawati” itu ke istri saya di rumah Jumat sore.
Menurut berita, Sophan kecelakaan tunggal, padahal mereka dalam rombongan 300 buah motor gede. Yang membuat saya tidak habis pikir, bagaimana rombongan seperti itu kecelakaan masuk lobang besar, padahal dibagian depan didahului dengan kendaraan “pembuka jalan” yang berupa kendaraan polisi atau kendaraan pendukung. Ketika di Surabaya, rombongan “moge” itu selalu dikawal polisi sebagai “pembuka jalan”.
Tapi itulah hidup, baru saja berfoto di Surabaya, berita kemudian, sudah meninggal di Sragen.
Selamat jalan Sophan Sophian.






3 Comments
18 May, 2008 at 11:15 am
Ternyata saya benar, Jumat 16 Mei pagi melihat Widyawati dibonceng Sophan Sophian di balaikota Surabaya. Berarti detik.com kurang akurat melaporkan karena terburu-buru. JawaPos melaporkan “pisahnya” Widyawati dengan Sophan.
Lihat http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=10486
18 May, 2008 at 4:46 pm
peringatan biar pengendara moge tidak arogan di jalan
18 May, 2008 at 8:47 pm
Menurut Kompas, jalan itu sudah lama rusak. PU setempat buru-buru memperbaiki jalan setelah kecelakaan itu.
Sophan Sophian adalah seorang nasionalis yang memiliki integritas tinggi. Tahun 2002 dia mundur dari DPR, padahal jabatannya cukup tinggi yaitu Ketua Fraksi PDIP. Mana ada zaman sekarang politisi yang berani mengambil keputusan seperti itu ?
Selamat jalan Bung Sophan Sophian.