“Koen wis nggawe dolanan aku. Kabeh dunyomu, omahmu mulai sing Kupang Gunung, Jombang sampai wismamu tak ringkes. Kudu kok serahno aku kabeh. Nek gak, tak sel sak keluargamu. (Kamu sudah membuat mainan aku. Seluruh hartamu, rumahmu yang Kupang Gunung, Jombang sampai wismamu akan kurampas. Semua harus kamu serahkan, kalau tidak seluruh keluargamu saya sel)”, ancam Purwanto pada Sumiarsih. Sambil berkata demikian, Purwanto memukulkan popor pistolnya di kepala Sumiarsih, thok thok!. Kaki wanita cantik itu gemetaran. Tangannya dingin. Wajahnya pucat seperti kapas.
Paragraf diatas adalah cuplikan dari buku Mami Rose karangan Ita Siti Nasyi’ah. Buku Mami Rose, diterbitkan kurang dari seminggu setelah Sumiarsih dieksekusi mati oleh regu tembak Polda jawa Timur. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Sumiarsih mulai dari keadaan miskin, melarat di Jombang, kemudian menjadi hostes kelas atas di Jakarta, sampai menjelang detik-detik kematiannya. Sumiarsih dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan setelah membunuh Letkol Purwanto sekeluarga di tahun 1988. Setelah melalui perjalan panjang selama 20 tahun, wanita itu ditembak mati 19 Juli 2008 dinihari. Permohonan pengampunan dan grasi yang ia ajukan ditolak Presiden SBY.
Membaca buku karangan Ita ini, kita seolah membaca perjuangan hidup seorang gadis desa lugu menjadi seorang PSK (dulu istilahnya hostes). Latar belakang kemiskinan dan kemelaratan menjerat keluarga Sumiarsih. Bahkan dikisahkan keluarga dengan 6 anak itu sering hanya makan tiwul saja karena tak mampu beli beras. Orang tua Sumiarsih hanya buruh tani di desa, dan tak punya apa-apa. Dengan status janda muda beranak satu pada umur 15 an, dan berbekal nekat Sumiarsih merantau ke Jakarta untuk mencari uang. Karena nyaris tak punya pengetahuan ia kemudian terjerumus menjadi hostes. Sumiarsih memang cantik dan cerdas, ia bisa menjadi hostes kelas atas, padahal SD pun ia tidak tamat. Menurut buku itu, ia bahkan sering “menemani” Menteri ketika melakukan kunjungan ke daerah. Dari penghasilannya sebagai hostes itu, ia kemudian bisa merubah kehidupan keluarganya, membeli sawah, membeli ternak, membangun rumah yang semula baginya cuma mimpi.
Dasar Sumiarsih memang cerdas, dalam usia masih sangat muda ia menjadi hostes kelas atas. Tapi dia juga tau, bahwa suatu saat pelanggannya akan menurun, karena itu ia mempersiapkan diri dengan kursus kecantikan. Bermodalkan kursus itu, ia kemudian membuka salon. Salonnya menjadi ramai, karena para mantan “langganan” juga datang ke salon nya. Tanpa direncanakan, salonnya kemudian menjadi “tempat transaksi” hostes, dan termasuk pegawai salon yang mau “nyambi”. Sumiarsih melihat peluang bisnis dari ketidak sengajaan itu. Dan akhirnya ia sekalian terjun menjadi mucikari betulan.
Sumiarsih harus meninggalkan Jakarta, karena ia terlibat percintaan dengan seorang “langganan”. Dari percintaannya dengan laki-laki yang sudah beristri dan punya anak itu, Sumiarsih melahirkan Wati, putri tunggal dan kesayangannya. Istri laki-laki itu sampai menghina Sumiarsih beberapa kali, ia tak tahan, dan akhirnya memutuskan meninggalkan Jakarta. Tidak punya ketrampilan lain, akhirnya Sumiarsih membuka Wisma Happy Home di gang Dolly. Ia menjadi germo di “pusat” bisnis esek-esek Surabaya.
Lagi-lagi Sumiarsih cerdas dan bertangan dingin menjalankan bisnisnya. Happy Home menjadi wisma terlaris di Dolly. Banyak orang yang konon sampai antri untuk bercinta dengan PSK Happy Home. Sumiarsih memang lihai mencari PSK, ia hanya menggunakan wanita muda dari desa. PSK di Happy Home hanya boleh bekerja paling lama 2 tahun. Karena itulah PSK Happy Home digandrungi para pelanggannya.
Salah satu pelanggan yang sering ke Happy Home adalah Letkol Purwanto. Kepala Primkopal Surabaya itu rupanya mencium “bau uang” dari usaha Sumiarsih. Akhirnya Letkol Purwanto dan Sumiarsih “bekerjasama” membuka satu wisma baru “Sumber Rejeki” di tanah milik Purwanto. “Kerjasama” itu mewajibkan Sumiarsih membayar Rp. 20 juta per bulan ke Purwanto. Bila terlambat, maka Sumiarsih harus membayar bunga. Awalnya kerjasama itu berjalan lancar. Tapi lama kelamaan, bisnis esek-esek Gang Dolly mengalami pasang surut. Sementara kewajiban membayar ke Purwanto tidak boleh terlambat. Konsdisi bisnis Sumiarsih menurun, tapi ia ditekan untuk membayar setoran. Bahkan ia di maki-maki kalau terlambat, kadangkala pemukulan fisik juga terjadi.
Puncak dari persoalan Sumiarsih, adalah ketika Purwanto meminta “mencicipi” Wati, anak kesayangan Sumiarsih. Ia stress berat menghadapi keinginan birahi Purwanto. Sumiarsih, sampai buru-buru menikahkan Wati yang masih berusia 14 tahunan kepada Adi Saputro, seorang Polisi di Jombang. Wati, yang parasnya molek, memang sudah ditaksir banyak orang termasuk Adi Saputro. Sumiarsih berharap, dengan menikahkan kepada seorang Polisi, Purwanto bisa melupakan keinginan untuk “menikmati” Wati. Tapi rupanya Purwanto tidak berubah, meski sudah diperistri orang dia tetap meminta Wati sebagai “kompensasi” keringanan setoran. Tak tahan dengan tekanan itu, Sumiarsih akhirnya memutuskan untuk menghabisi Purwanto. Tapi bagaimana caranya seorang germo melawan tentara berpangkat Letkol?. Ibarat pelanduk melawan gajah. Akhir dari kisah itu, Purwanto sekeluarga bibantai oleh Sumiarsih dan keluarganya. Stress berat bisa mengakibatkan orang berbuat nekat.
*****
Mami Rose, nama populer Sumiarsih di dunia esek-esek, dijadikan judul bukunya oleh Ita, wartawati majalah Kartini. Nama asli Sumiarsih sebenarnya adalah Sumiasih (tanpa r), entah bagaimana, nama Sumiarsih yang lebih populer setelah kejadian pembunuhan Letkol Purwanto. Padahal dilingkungan bisnis esek-esek yang dilakoninya, panggilannya adalah Mami Rose. Penulisan buku Mami Rose terkesan sangat buru-buru. Ita nampaknya menulis buku itu hanya berdasarkan penuturan Sumiarsih sebagai sumber informasi. Padahal ada banyak sumber informasi yang bisa digali, mulai dari masa kecil Sumiarsih di Jombang sampai kehidupannya dalam penantian 20 tahun di penjara.
Kalau mau meluangkan waktu lebih banyak untuk mengumpulkan informasi penulisan, mungkin buku Mami Rose akan lebih baik. Bagian hidup Sumiarsih selama menunggu penantian panjang di penjara, tak kalah menariknya untuk ditulis. Tapi bagian itu nyaris tak ada di buku ini.
Kesalahan ketik yang mengganggu, juga masih cukup banyak. Padahal mestinya buku itu sudah dikoreksi oleh beberapa orang sebelum naik cetak. Kata pengantar dari Dahlas Iskan, mantan atasan Ita Siti Nasyi’ah, juga belum cukup untuk mempertajam buku saku itu. Kalau saja tidak dipaksa untuk menerbitkan setelah eksekusi mati Sumiarsih, buku itu akan lebih bagus. Rupanya pertimbangan marketing, lebih besar ketimbang kelengkapan isinya.
*****
Judul buku : Mami Rose, Jual diri, ke mucikari sampai eksekusi mati.
Pengarang : Ita Siti Nasyi’ah
Penerbit : JP Books, Surabaya, Juli 2008
Tebal : 168( +12) halaman + xii






3 Comments
12 August, 2008 at 9:34 am
Rp20jt/bln thn ‘88? Luarbiasa!
12 August, 2008 at 1:24 pm
Ya itulah, 20 juta di tahun 88 itu kalo enggak salah udah harga mobil bagus. Kurs US Dolar aja mungkin masih sekitar Rp.400. (kalo diekivalenkan dengan uang sekarang mungkin kira-kira nilainya 400 juta,.. halahh…. saya aja jadi kaget).
Makanya penghasilan Purwanto dari bisnis esek-esek itu besar sekali. Dengan pangkat dan uang seperti itu, apa yang tidak bisa dilakukan. Jaman itu kan gak ada yang berani melawan “orang rambut cepak”.
Jadi kalau orang tidak tamat SD, spt Sumiarsih sampai nekat melawan “gajah”, kan mesti karena ada hal yang tak tertahankan lagi… (itu logika umum).
29 October, 2008 at 6:29 pm
yaa intinya jangan sok kuasa, hargai kerja keras orang klo menurut saya, harus di lihat secara terperinci masalahnya….
1. Purwanto juga salah namanya bisnis tidak bisa seperti itu jangan memandang rendah orang miskin yg tidak punya apa2 karena sumarsih membunuh purwanto dan keluarganya adalah nothing to lose….
2. sumarsih juga tidak sepantasnya membunuh semua anggota keluarga, istri dan anaknya mungkin tidak tahu apa2. dan sebaiknya pihak berwajib juga membantu cara penyelesainya, hukuman mati di sini tidak terlihat seperti keadilan, malah terlihat seperti tidak adil buat sumarsih.
bukan berati semua orang bebas membunuh tapi harus di lihat dia membunuh karena apa?? terdesak? tidak ada pilihan lain ??