Fleksibilitas pemberian dekke sitio-tio

Kematian tidak bisa diketahui kapan datangnya. Kalau kematian memang sudah tiba saatnya, tak seorangpun bisa menghindar. Yang Maha Kuasa yang memutuskan kapan waktunya. Begitulah, seorang “parboruon” kami meninggal, maka sebagai hula-hula kami mempunyai beberapa kewajiban dalam proses kematian “hela/lae” kami tersebut. Karena almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang belum menikah, maka kami hula-hula berkewajiban memberikan “ulos tujung” kepada ito kami boru Silaban, istri yang ditinggalkan almarhum.

Menurut adat Batak yang biasa dilakukan di Surabaya, maka malamnya diadakan “tonggo raja”, karena almarhum meninggal siang hari. Proses tonggo raja berjalan lancar, karena praktis proses pemakaman secara adat Batak termasuk sederhana. Dalam kriteria adat Batak, bahkan itu masih masuk kategori “mate makkar”, walau usia almarhum sudah termasuk lanjut.

Sesuai kesepakaan dalam “tonggo raja”, acara adat dalam proses pemakaman adalah menyampaikan “ulos tujung” kepada istri almarhum dan “ulos holong” kepada putri yang ditinggalkan. Direncanakan setelah selesai pulang dari pemakaman, maka “ulos tujung” akan “dibuka” oleh kami pihak hula-hula di rumah kediaman. Sesungguhnya proses adatnya sederhana. Meski begitu, pihak dongan tubu almarhum, tetap merencanakan adanya santap makan bersama, dan memesan “na marmiak-miak” lengkap dengan “namargoar”. Begitulah kesepakatan tonggo raja malam itu.

Karena pihak suhut dan dongan tubu almarhum akan memesan “namarmiak-miak” ke penyedia jasa katering Batak di Surabaya, maka kamipun sebagai hula-hula, malam itu sekalian ikut pesan “dekke sitio-tio” ke penyedia katering tersebut. Acara “martonggo raja” selesai sekitar jam 10 malam (karena telat dimulai), sudah sulit bagi kami untuk mencari ikan mas di Surabaya yang akan jadi dekke sitio-tio. Itulah sebabnya kami pesan sekalian ke penyedia katering. Biasanya penyedia jasa katering, punya stok ikan mas, jadi kapan saja ada permintaan, biasanya bisa dipenuhi. Karena kami sudah pesan ke penyedia katering, saya dan dongan tubu sudah tidak mencari sendiri lagi, dan tidak minta pihak boru kami untuk menyiapkannya.

Begitulah, ketika keesokan harinya, acara pemakaman dilaksanakan, saya dan dongan tubu tidak lagi mempersoalan kesiapan “dekke sitio-tio”, karena yakin sudah disiapkan oleh penyedia katering. Sepulang dari pemakaman, pihak suhut almarhum dan kami sudah berkumpul dirumah almarhum. Saya hanya minta salah satu boru untuk mencek dan mempersiapkan “dekke”, karena tidak lama lagi acara akan dimulai.
Betapa terkejutnya saya mendapati laporan, kalau penyedia jasa katering tidak menyiapkan “dekke”, sementara dia menyediakan “namarmiak-miak”. Ketika saya suruh tanya apa alasannya, jawabannya adalah “LUPA“. Minta ampun, malunya kami nanti melaksanakan “buka tujung”, tanpa bawa “dekke sitio-tio”. Pihak suhut almarhum pun tau, kalau kami pesan dekke sitio-tio, karena pemesanannya justru dilakukan pertelepon oleh salah seorang pihak suhut ke penyedia katering.

Setelah dirundingkan, akhirnya diputuskan dengan mencari pengganti ikan mas sebagai “dekke sitio-tio”. Apa akal, akhirnya salah seorang kerabat mengusulkan membeli ikan bandeng presto dari Pasar Genteng. Tapi hal itu kami rundingkan terlebih dahulu kepihak suhut. Pihak suhut dapat memahami keadaan dan bisa menerima fleksibilitas penggantian ikan mas menjadi “bandeng presto” dari pasar. Dengan sedikit menahan malu, kamipun akhirnya melaksanakan pemberian “dekke sitio-tio” dengan ikan bandeng presto, disertai ucapan permohonan maaf. Saya tidak tau, apakah kalau sudah kepepet seperti itu, fleksibilitas adat masih berkenan bagi banyak orang.

About these ads

7 thoughts on “Fleksibilitas pemberian dekke sitio-tio

  1. Bah, tuani do nunga moderen dohot pengertian hamuna angka halak hita i Surabaya i ate, gabe ndang pala masalah dekke iganti dohot Bandeng Presto :-)
    Anggo i Siantar huta nibaan ra kejadian songonni, nungga gabe parbadaan dohot ihata jolma ..tung muse, ala unggodang do lapo i Siantar, bohi dope i pala2i ra mangalului dekke anggo pas darurat…

    Intina, nang pe gabe ingkon fleksibel adat i, sai tu nadenggan ma jala rap maklum saluhutna ate..

    Like

  2. hahaha… jei bandeng presto do hape dekke simudur-udur dekke sitio-tio na dipasahatmuna i ‘pung… Amang jo tahe bah..

    Alai marboha baenon nama molo nungga songoni ‘pung.. maklum do akkka tondongta dohot loloan na ro i.. Alai nga porlu skak mat on par kettering bah.. hehehe…

    Like

  3. Bah, sampe Pdt David Silaban muruk tu par katering i, alana dohot do pandita manelepon parkatering borngin i. Hape jotjot do parkatering i manjumpangi pandita i da, jala sai diingothon, molo adong angka tondong na porlu jasa kaetring asa dohot pandita patuduhon tu ibana. Hape ia pas pandita i na butuh katering, ba lupa ninna.
    Untung ma denggan tanggapan ni tondong, anggo soi.. ba, nunga gabe repot.

    Like

  4. Aek godang aek laut, dos ni roha sibahen na saut , ima tutu…
    Ida hinadenggan ni angka na saroha i, marpambahenan na burju nang hatana pe tutu….

    Like

  5. Molo ahu paboahon, songon na hurang suman. Pandita “Lapotimus” David Silaban ma nian paboahon tu hamu. Alai molo apala porlu, hupaboa pe lewat japri.

    Molo pinaboa dison, songon na pakejamhu, nangpe nunga dipaila iba.
    (tak jauh-jauh nya dia itu, dekat kita juga).

    Like

  6. memang kalau menurut kebiasaan pemberian “Dekke sitio tio” janggal kalau bukan Ikan Mas.
    Tetapi menurut yang saya tau, aslinya sebenarnya bukan Ikan Mas tetapi IHAN BATAK, tetapi sayangnya ikan ini sudah tidak ditemukan lagi di danau toba, bahkan dikategorikan “punah” sebab itulah digantikan dengan Ikan mas yang dulunya sangat banyak dan mudah menangkapnya di Danau Toba.
    Hanya satu tempat yang saya ketahui masih memiliki IHAN BATAK, yaitu disebuah mata air yang keluar dari Gua didaerah “Sitio” (karena masyarakat setempat mengkeramatkan tempat ini sehingga tidak ada yang berani mengusik Ikan Ikan itu), ma’af saya lupa nama daerahnya, tapi jalan ke daerah ini saya ingat bisa dari Tambunan atau dari simpang sibulele Tampubolon, melewati onansappang, saya terahir kesana sekitar tahun 1988.
    Michael Siregar -USA

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s