Purna tugas kehidupan; “Matampuk na malamun”

Awal September ini, seorang kerabat “purna tugas” dalam kehidupan. Beliau menghadap sang Khalik meninggalkan segala hiruk pikuk duniawi. Sebagai putra Batak, prosesi pemakamannya dilaksanakan dengan secara adat “saur matua“, termasuk kategori “horja” besar, suatu prosesi pemakaman adat yang tinggi.

Makna bertanya pada “pinggan panungkunan”

Untuk kedua kalinya, saya “dipaksa” menjadi “parsinabung” alias juru bicara adat pada pernikahan antara boru Silaban dengan marga Simanjuntak. Saya berusaha menghindar menjadi “parsinabung“, karena masih merasa tak mampu menjalankan tugas itu. Tapi bagaimana lagi, kalau Pdt. David Silaban sudah memaksa, ini tugas adat, dan harus diselesaikan, tak ada pilihan lain.

Memberi marga, apa resikonya

Sebuah email baru masuk di inbox saya, memberikan tanggapan tentang resiko yang mungkin timbul kalau kita memberi marga kepada seseorang. Contohnya ketika kami di Surabaya, mangain (mengangkat) seseorang menjadi marga Silaban beberapa waktu lalu. Ketika itu seorang kelahiran Filippina bernama Moises Castro diberi marga Silaban pada 30 Nopember 2008. Posting ini sekaligus menjawab tanggapan dan [...]

Seberapa lengkap suatu “adat na gok”.

Adat Batak bisa dilaksanakan secara sederhana, bisa juga kompleks. Adat do nabalga, adat do na metmet (Besar atau kecil, sama-sama adat). Itu kesimpulan saya sementara ini. Sebenarnya seberapa jauh suatu proses adat Batak bisa dikatakan lengkap. Apakah dalam pelaksanakan “adat na gok” harus dipaksakan semua elemen hadir dan mengambil peran ?.

Mangain anak (marga) Silaban

Untk kedua kalinya, kami, Silaban di Surabaya “mangain” anak. Yaitu mengesahkan seseorang yang semula bukan kelahiran Batak menjadi seseorang yang diberi marga Silaban. Sejak acara “pemberian” marga itu, secara adat, orang tersebut menjadi bagian dan anggota dari keluarga besar Silaban.

Dos do nakkokna dohot tuatna

Salah satu prinsip kemasyarakatan yang universal diterima adalah keseimbangan dalam arti luas. Begitu juga dalam adat Batak. Kalau ada “memberi”, maka biasanya, juga akan ada “menerima”. Walau yang diterima, bentuk dan besarannya tidak harus sama atau senilai dengan apa yang diberi. Tapi prinsip itu secara umum berlaku. Hal itu pula sebabnya ada “pepatah”: “Dos do [...]

Fleksibilitas pemberian dekke sitio-tio

Kematian tidak bisa diketahui kapan datangnya. Kalau kematian memang sudah tiba saatnya, tak seorangpun bisa menghindar. Yang Maha Kuasa yang memutuskan kapan waktunya. Begitulah, seorang “parboruon” kami meninggal, maka sebagai hula-hula kami mempunyai beberapa kewajiban dalam proses kematian “hela/lae” kami tersebut. Karena almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang belum menikah, maka kami hula-hula [...]

Acara adat saur maulibulung ditengah kota

Senin kemarin, saya bolos kantor lebih dari setengah hari sampai sore, karena menghadiri acara persiapan pemakaman seorang kerabat. Karena orang yang meninggal sudah “full gabe”, maka proses pemakamannya masuk katagori “saur maulibulung“. Meski malam sebelumnya saya hadir dalam rapat “tonggo raja”, saya lupa bagaimana ceritanya sampai pemakamannya sudah “berkelas” saur maulibulung.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.