TREK

Trek, saya terjemahkan secara serampangan dari bahasa Inggeris “track”.
Di sini, Trek merupakan ‘perjalanan kehidupan‘ saya, dari sejak saat yang masih bisa saya ingat. Banyak yang terlupa, jadi tak bisa dituliskan, tapi ada juga yang sengaja tidak saya tuliskan. Ya inilah Trek saya.
Tentulah Trek ini jauh dari lengkap, karena itu saya akan terus meng-update agar menjadi lebih lengkap dan lebih informatif. (agak narsis memang, apa boleh buat !).

Silahkan diloncat saja kalau tidak punya waktu untuk baca semua.

*****************
SILABAN (trek awal)

Putra tertua dari pasangan T. Silaban dan I.Sihombing, saya dilahirkan di dusun Lumban Silintong, desa Silaban Margu, kecamatan Lintong ni Huta, kabupaten Tapanuli Utara (sekarang kabupaten Humbang Hasundutan), Sumatera Utara. Kami bersaudara semua sembilan orang, lima laki-laki dan empat perempuan. Di gereja HKBP resort Silaban saya dibaptis ketika masih bayi.

Ketika itu di desa Silaban Margu tidak ada sekolah taman kanak-kanak, maka ketika sudah dianggap cukup umur, saya dimasukkan ke SD Negeri, dimana ibu saya bekerja sebagai guru. Bapak saya juga seorang guru SD, tapi di lain sekolah. Murid kelas 1, saat itu menggunakan “batu tulis” sebagai alat tempat menulis, karena buku tulis belum kami pakai. Saya tidak tau, kenapa masih pakai batu tulis, mungkin lantaran belum mampu beli buku tulis.

Tidak lama setelah saya mulai bersekolah, bapak pindah tugas ke kecamatan Selesai, kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Seingat saya waktu itu setelah peristiwa G30S PKI, karena waktu bapak dan saya berangkat ke Selesai, pemeriksaan di perjalanan sangat ketat dan lama.

SELAYANG (trek kedua)

Selama kurang lebih setahun, saya dan bapak hanya berdua di Selesai, sementara ibu dan adik-adik tinggal di Silaban Margu. Di Selesai kami mengontrak rumah di desa Selayang, yang jaraknya cukup jauh dari SD tempat bapak mengajar. Untuk pergi ke tempat tugas, bapak harus menaiki sepeda (kereta angin, kata orang Medan) melalui jalan desa yang berbatu-batu, melewati kawasan hutan dan rawa dengan tumbuhan rumbia. Ada sungai Bohorok yang harus diseberangi dengan rakit bambu. Pada musim penghujan, arus sungai Bohorok sangat deras, sehingga sangat berbahaya menggunakan rakit. Saya bersekolah di SD di desa Selayang, yang relatif tidak terlalu jauh dari rumah yang kami kontrak.

Selang tahun kedua, ibu dan adik saya (ketika itu adik masih 4 orang), menyusul ke desa Selayang. Sekitar setahun tinggal bersama di di Selayang, kami tidak tahan menghadapi serangan nyamuk malaria. Kami semua menderita sakit malaria, karena di sekitar tempat tinggal kami, dikelilingi rawa. Beruntung kami masih bisa sembuh. Karena alasan kesehatan itu, kami akhirnya harus pindah ke Tg. Morawa, di sebelah selatan kota Medan.

TG. MORAWA (trek ketiga)

Sejak pindah ke Tg. Morawa, saya masuk kelas 3 SD, di sekolah di tempat bapak dan ibu bekerja, SD Negeri Pasar 13 Tg. Morawa Kanan, (catatan: Tg. Morawa terdiri dari Tg. Morawa Kanan dan Tg. Morawa Kiri, yang dibatasi oleh Sungai Belumai). Di sekolah yang lantainya tanah, pada saat itu kami tidak memakai baju seragam, tidak menggunakan alas kaki (alias nyeker). Kelas 3 SD, guru kelas saya adalah ibu saya sendiri. Ketika saya kelas 5, bapak kemudian menjadi guru kelas saya.

Tamat dari SD saya melanjutkan ke SMP Bersubsidi yang berlokasi di Tg. Morawa Kiri. Dari rumah ke SMP Bersubsidi jaraknya kurang lebih 4 kilometer. Bersama teman-teman SMP lainnya, saya jalan kaki ke sekolah. Di SMP ini, sudah diwajibkan pakai seragam dan harus pakai sepatu.

Selepas SMP, saya melanjut ke SMA Negeri-3 di Jl. Dr. Sutomo, Medan. Kelas 1 SMA, sekolahnya mulai siang, sementara kelas 2 dan 3, belajar pagi hari. Dari rumah di Tg. Morawa, ke sekolah di pusat kota Medan, cukup jauh juga. Perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan angkutan secara bersambung, karena Tg. Morawa sudah di luar wilayah kota Medan. Untuk menghemat biaya, dengan sekali naik bis kota, saya naik sepeda (sepeda pancal kata orang Surabaya) ke batas kota Medan. Lalu kemudian bersambung naik bis kota ke Sambu (waktu itu, bis kota sampai Sambu, sekarang mungkin hanya sampai Olympia). Integrated moda sepeda dan bis kota itu saya lakoni sejak kelas 2 sampai kelas 3 SMA.

Secara total ada 9 tahun saya menetap di Tg. Morawa.

BANDUNG (trek keempat)

Dengan dorongan dari seorang paman, saya ke Bandung setelah tamat SMA untuk ikut testing ke ITB. Kali pertama testing, saya gagal. Setelah setahun menetap di Bandung, sambil mempersiapkan diri, test kedua kalinya saya berhasil diterima di ITB sebagai mahasiswa. Di tahun kedua (1978), saya testing juga ke Institut Teknologi Tekstil Bandung, kemudian lulus, dan testing ke Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan lulus juga. Sampai sekarang surat panggilan dari ITS masih tersimpan di berkas arsip saya.

Gabungan antara malas dan “keangkuhan” sebagai mahasiswa, menjadikan penyelesaian Tingkat Pertama Bersama (TPB) di ITB saya cukup lama. Sejak 1978 sampai 1981, saya “terlalu aktif” di 8EH Radio ITB, sehingga banyak mata kuliah tercecer. Baru setelah 8EH Radio ITB non aktif, saya kembali ke “normal” kuliah. Pada saat itu, terjadi proses “pencarian jati diri“, membentuk dan mengembangkan kepribadian. Setelah berusaha mengejar, akhirnya, baru bisa lulus dari ITB pada tahun 1986. (Lama sekali ya kuliahnya…)

Bergaul dengan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air, memberi tambahan nilai bagi saya. Secara khusus, bergaul dengan mahasiswa asal Tapanuli, menjadikan saya harus belajar mempraktekkan bahasa Batak secara verbal. Kemampuan berbicara dalam bahasa Batak barulah saya alami di Bandung. Ibu saya sempat kaget mengetahui saya mulai lancar berbicara bahasa Batak, sementara di Tg. Morawa, kemampuan itu nyaris tidak ada.

Secara rohani, saya juga semakin berkembang di Bandung. Meski tidak menjadi aktifis di persekutuan mahasiswa, “pengembangan rohani” terjadi melalui kegiatan persekutuan mahasiswa dan kegiatan di gereja. Dengan tekat yang susah payah (karena menjadi peserta yang tertua, peserta lainnya pada umumnya anak SMA dan anak SMP), saya mengikuti pelajaran katekisasi sidi di HKBP Bandung selama setahun penuh. Tanpa diketahui orang tua, dan teman-teman, saya ikut pengukuhan pengakuan iman, lepas sidi, di HKBP.

Pertama kali ketemu Maya Situmeang di Bandung pada suatu kesempatan yang tidak direncanakan. Pada pertemuan pertama itu, tak terpikir kalau kemudian dia menjadi pendamping hidup saya. Dari pertemuan pertama ke pertemuan berikutnya jaraknya cukup lama juga. Tidak terasa pertemuan kedua dan seterusnya semakin sering terjadi. Sampai akhirnya setelah lebih dari 2 tahun, sepakat berlanjut kepernikahan.

JAKARTA (trek kelima)

Tinggal di Jakarta, setelah bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, dimulai sebagai pegawai kontrak, dari tahun 1987 sampai 1988. Akhir 1987, ikut seleksi CPNS, dan kemudian lulus CPNS dengan gaji pertama Rp. 81.000 mulai tanggal 1 April 1988. Tepat setahun sebagai CPNS, 1 April 1989, saya diangkat sebagai Pemimpin Bagian Proyek. Dan pada tanggal 1 April 1989 pula, kami menikah di HKBP Kebayoran baru, Jl. Hang Lekiu.

Tidak lama setelah menikah, istri saya, Maya hamil. Sayang kehamilan pertama itu tidak dapat dipertahankan, jabang bayi hanya berumur sekitar 2 bulan, Maya mengalami keguguran. Lewat setahun setelah keguguran, belum ada tanda-tanda kehamilan. Setelah berganti-ganti dokter kandungan, Tuhan akhirnya menunjukkan Dokter Harun Harahap di Jalan Pramuka. Dokter ini secara sistematis membantu proses kehamilan, sampai akhirnya Daniel lahir. Pada saat-saat konsultasi ke Dr. Harun, saat yang sama saya sedang ikut seleksi untuk melanjutkan sekolah.

Kantor pertama saya di Jakarta terletak di Jl. Surabaya, kawasan Menteng. Kebetulan ada kawan yang menawarkan untuk tinggal di asrama UI, jadilah saya menjadi pekerja yang tinggal di asrama mahasiswa. Sekitar pertengahan tahun 1990, saya ikut seleksi beasiswa CIDA, Canada. Seleksi yang berlangsung seminggu di Sanur Bali, diikuti kurang lebih 80 orang, dan akhirnya terseleksi sebanyak sekitar 15 orang termasuk saya. Januari 1991, ke 15 orang ikut kursus intensif Bahasa Inggeris di IALF Bandung selama 3 bulan. Salah seorang dari 15, tidak lulus Bahasa Inggeris, jadi tidak dapat berangkat ke Canada. Saya berangkat ke Winnipeg Canada, tanggal 31 Mei 1991, untuk kuliah di University of Manitoba.

WINNIPEG (trek ke-enam)

Pergi ke Winnipeg, Canada adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri di tahun 1991. Meski ada “pre departure workshop”, begitu sampai Winnipeg, ya kagok juga. Tempat tinggal saya yang pertama adalah dormitory universitas, yaitu semacam hotel yang disewakan bagi umum. Saya hanya tinggal dua hari di dormitori, karena sewa kamar perharinya cukup mahal untuk ukuran mahasiswa sepeti saya. Jadi harus cari tempat kost yang lebih murah. Akhirnya saya dapat kamar kost di Silverstone Street, salah satu rumah yang kamarnya memang dikhususkan untuk disewakan bulanan. Jarak tempat kost saya ke kampus sangat dekat, tidak sampai satu kilometer ke Engineering Building, dimana saya akan kuliah.

Sejak 1 Juni sampai akhir Agustus, saya dan beberapa mahasiswa Indonesia, mengikuti kursus bahasa Inggeris secara intensif dari pagi sampai sore. Saat itu kampus sepi, karena libur panjang summer. Selang beberapa bulan, saya diajak oleh Armein Langi, sharing kamar di apartemen “Univillage“. Tempatnya lebih jauh, tapi harganya sewa lebih murah ketimbang kos-kosan. Ada beberapa teman mahasiswa Indonesia yang tinggal di Univillage. Sharing dengan Armein, sampai tiba liburan pada bulan Juni 1992.

Libur summer, saya kembali ke Jakarta, selain untuk menengok anak pertama saya Daniel, dan ibunya, juga untuk mengumpulkan data bagi bahan thesis nantinya. Kami bertiga bertolak ke Winnipeg, sekitar awal Agustus, padahal kuliah baru akan dimulai awal September. Sengaja datang lebih awal, supaya Maya dan Daniel, sempat “aklimatisasi” terhadap iklim musim dingin Winnipeg. Dalam waktu yang relatif singkat itu, Maya masih sempat menikmati “garage sale” yang digelar setiap hari minggu pagi.

Dari apartemen Univillage ke kampus, jaraknya hampir 1,5 km. Kalau cuaca tidak dingin sekali, saya lebih sering jalan kaki ke kampus. Memasuki awal 1993, saya sudah mulai menyusun thesis. Beruntung waktu itu sudah ada internet, meski masih sangat terbatas. Setidaknya saya bisa mengerjakan thesis di rumah, lalu mencetak di printer kampus. Entah karena “semangat nekat“, meski sambil banyak main dengan bayi kami (waktu itu), perkuliahan saya lancar, sehingga bisa selesai tepat waktu. Malahan masih bisa ikut wisuda pada akhir Mei 1993. Begitu selesai wisuda, langsung pulang ke Indonesia, karena beasiswa hanya sampai bulan Mei 1993. Dalam perjalanan pulang dari Winnipeg, kami sempatkan lewat California, untuk mampir di Disneyland Anaheim dan ke Universal Studio, serta nyampe di San Diego untuk melihat Sea World.

SURABAYA (trek ketujuh)

Trek selanjutnya …???