Nilai Adipura Jeblok, Pemkot Salahkan Masyarakat

Jebloknya nilai Adipura Surabaya membuat Pemkot merapatkan barisan. Sejumlah pejabat menggelar rapat dipimpin Wakil Wali Kota Surabaya

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkot, Togar Silaban, mengatakan, tahun ini Surabaya hanya mampu mengantungi nilai 66 dalam tahap pertama penilaian Adipura 2007. Angka ini turun, karena tahun lalu di tahap yang sama skor yang diraih 73,78.

“Kami rapat untuk membahas perbaikan-perbaikan di lokasi yang menjadi penilaian tim adipura. Sehingga jika tim Adipura datang sewaktu waktu pada penilaian tahap kedua semua sudah dibenahi,” tegas Togar, kepada Surya, kemarin.

Sekadar mengingatkan penilaian Adipura untuk Kota Surabaya dilaporkan jeblok penilaian tahap pertama ini dilakukan Agustus-September 2006 dan tahap kedua Februari 2007.

Turunnya nilai Adipura Surabaya paling banyak disumbang kondisi tiga jenis kawasan yang dinilai jauh dari ideal. Yaitu pasar, terminal, dan sungai. Terdapat 15 jenis atau item yang menjadi acuan penilaian.

Jatuhnya nilai Adipura untuk pasar karena hampir semua tempat perbelanjaan tradisional di Surabaya ini tidak memiliki sistem drainase dan minimnya sarana kebersihan. Togar mengatakan, persoalan kebersihan dan kesehatan lingkungan pasar menjadi pekerjaan rumah pemkot.

“Pasar sulit bersih itu karena memang banyak orangnya. Selain itu PD Pasar juga terkesan kurang sistematis dalam pengelolaan kebersihan,” tambahnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya, Achmad Ganis Purnomo, mengakui sangat sulit menyulap pasar menjadi lebih hijau dan bersih. Kata dia, sikap pedagang kadang menjadi kendala kebersihan pasar.

“Di Pasar Pucang, saya pernah menanam puluhan pohon di atas pot raksasa. Letaknya di trotoar depan pasar. Namun besoknya pot-pot itu sudah dihancurkan, alasannya agar memudahkan bongkar muat,” kata Ganis kepada Surya.

Ganis mengaku tengah menyosilisasikan kepada para pedagang untuk ikut menjaga lingkungannya. Kendala lain, jebloknya nilai Adipura untuk pasar itu karena kebanyakan pasar kumuh berada di pusat kota. Karena lokasinya yang strategis itu, menurutnya, justru menjadi sorotan tim penilai.

Namun jika faktanya masih kerap ditemui pasar kumuh, kata Ganis, itu karena persoalaannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. “Ini masalah kota, bukan masalah PD pasar sajah,” kilahnya.

Oleh Arif Afandi untuk mengevaluasi perkembangan perbaikan kualitas kebersihan dan lingkungan.

Sumber : (uca) Surya, Surabaya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s