Bad news is good news ?

Menjadi instruktur wartawan memang tidaklah mudah, apalagi kalau kita juga sekaligus dianggap sebagai sumber berita. Sebagai instruktur, kita ingin memberikan contoh kepada mereka, tentang topik yang dibicarakan, tetapi kalau kita juga dianggap sebagi sumber berita, maka kita akan ditanyai segala macam. Bahkan tidak jarang ada pertanyaan yang tidak terduga.

Tadi pagi saya jadi pembicara pada acara workshop di ITS dengan peserta para wartawan Surabaya. Selain saya ada Bu Hermien dari KLH Jakarta dan juga bu Dewi dari Bapedalda Propinsi Jatim, sementara moderatornya adalah Bu Lili dari ITS. Jadi saya laki-laki sendiri di depan peserta.

Semula acara dikemas untuk menjadi workshop, tapi kemudian berjalan sebagai diskusi panel, sehingga kami bertiga sebagai pembicara langsung paparan didepan hampir 40 orang wartawan Surabaya. Topik pembahasan adalah mengenai AMDAL. Bu Hermien bicara soal kebijakan mengenai Amdal baik dari tingkat pusat maupun implementasi di daerah. Bu Dewi bicara tentang partisipasi masyarakat dalam penyusunan Amdal. Sementara saya sendiri diminta bicara tentang monitoring Amdal di Surabaya.

Sesungguhnya saya sudah mempersiapkan diri untuk berbicara di workshop untuk para wartawan ini. Saya berusaha mengontrol bicara supaya tidak ada perkataan saya yang bisa ditafsirkan ganda oleh wartawan. Tapi itulah masalahnya, kebiasaan saya kalau bicara di seminar atau workshop, ya bicara apa adanya termasuk hal-hal yang negatif yang mungkin timbul dari suatu kegiatan. Begitu juga pada workshop ini saya sempat agak terlalu detail bicara soal kemungkinan adanya dokumen UKL/UPL yang tidak difahami oleh pemrakarsa UKL/UPL itu. Sebagaimana diketahui UKL/UPL biasanya disusun oleh orang lain bukan oleh pemrakarsa, karena UKL/UPL memang harus disiapkan oleh orang punya kualifikasi untuk itu. Jadi ada keungkinan pemrakarsa kurang memahami isi dokumen Amdalnya.

Begitu saya mengutarakan sinyalemen saya itu, maka para wartawan menanyai lebih detail lagi. Mereka bertanya sudah berapa yang diduga dokumen UKL/UPL yang seperti itu, sudah berapa lama hal itu berlangsung, apa tindakan yang sudah diambil dan berbagai pertanyaan yang ingin mencari informasi yang lebih jauh.

Padahal sewaktu saya mengatakan sinyalemen itu, maksudnya adalah supaya wacana para wartawan lebih luas. Tapi mereka beranggapan itu menjadi berita yang perlu disebarkan. Saya tidak tau apa yang akan mereka tulis besok di media Surabaya. Saya akan lihat dan akan kumpulkan di NEWS kalau mereka muat besok.

Itulah wartawan, yang konon mereka beranggapan bahwa bad news is good news.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s