Bandung membuang sia-sia Rp.2,5 milyar perhari

Kemacetan lalu lintas di Bandung sudah mencapai taraf yang sangat merugikan. Akibat kemacetan lalu lintas di Bandung, kota ini membuang uang menjadi sia-sia senilai Rp. 2,5 milyar perhari atau hampir Rp. 900 milyar pertahun. Kerugian sebesar itu akibat penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor yang tidak efisien.  Kemacetan mengakibatkan waktu tempuh kendaraan bermotor semakin lama, artinya semakin banyak bahan bakar yang digunakan untuk mencapai suatu jarak tertentu. 

Hal itu dikemukanan oleh Prof. DR. Ir. Ofyar Tamin, MSc. pakar transportasi dari ITB Bandung dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta 15 Maret 2007.  Menurut Prof. Ofyar Tamin kerugian senilai hampir Rp. 900 milyar pertahun itu baru dari segi penggunaan bahan bakar saja. Padahal kemacetan lalulintas perkotaan selain mengakibatkan inefisiensi bahan bakar, tetapi juga menimbulkan pencemaran udara, keletihan dan stress di perjalanan, biaya operasi pemeliharaan kendaraan meningkat dan kerugian immaterial lainnya.

Penelitian lain menunjukkan hal yang hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Prof. Ofyar Tamin. DR. Dollaris R. Suhadi dari Swisscontact yang melakukan penelitian di Surabaya memberikan angka yang tidak kalah fantastis.  Berdasarkan perhitungannya terhadap debu “partikulat” (PM10) salah satu pencemar udara perkotaan di Surabaya pada tahun 2005, mendapatkan bahwa kerugian ekonomis akibat PM10 di Surabaya mencapai hampir Rp. 900 milyar pertahun. Angka itu dihitung sebagai biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan penyakit yang ditimbulkan terutama infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), biaya untuk membersihkan properti dan kendaraan dari  debu PM10 termasuk untuk pengecatan bangunan dan lain-lain. Untuk kota Jakarta, bahkan angka kerugian akibat PM10 itu konon mencapai hampir Rp. 4 triliun pertahun.

Angka itu baru untuk satu jenis pencemar udara saja. Padahal masih banyak jenis zat pencemar lainnya seperti CO2, SO2, NOx, Ozon,  bahkan Pb yang setiap hari kita hirup kedalam paru-paru kita.  Gas CO2 yang merupakan komponen utama penyebab gas rumah kaca mempertipis lapisan ozon diatmosfer. Gas rumah kaca diketahui sebagai penyebab utama terjadinya perubahan iklim global.  Perubahan iklim sudah sangat dirasakan dewasa ini terutama di Indonesia dengan perubahan pola musim hujan dan musim kemarau, perubahan angin dan gelombang di laut. Khusus untuk zat Pb yang menjadi pencemar udara perkotaan berasal dari bahan bakar bensin yang digunakan. Pb atau timbal yang masuk kedalam darah dapat mengakibatkan penurunan kecerdasan anak. Maka anak-anak yang tinggal di perkotaan dan menghirup udara akan tercemar Pb (timbal). Semua itu adalah akibat pencemaran udara yang terjadi. Pencemaran udara perkotaan terutama diakibatkan oleh sektor transportasi.

Kondisi transportasi perkotaan di kota-kota besar di Indonesia bahkan di negara-negara berkembang di Asia menunjukkan kinerja yang semakin buruk. Berbagai penelitian meemperkirakan bahwa kota-kota besar dan metropolitan di Asia akan mengalami kesulitan yang sangat kompleks dalam 10 sampai 15 tahun mendatang akibat transportasi yang tidak baik. Kerugian itu akan semakin besar bila tidak ada langkah-langkah yang strategis dan konsisten untuk memperbaiki sistim transportasi kota-kota di Indonesia. 

Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki itu. Apakah kita hanya akan menunggu saja sampai anak kita tidak lagi bisa sekolah dengan baik karena tercemar timbal Pb, atau kita bersama-sama melakukan sesuatu untuk memperbaiki udara kota kita. Sampai sekarang belum ada udara dalam kemasan yang dapat dibeli. Kaya-miskin, tua-muda menghirup udara kotor yang sama. Do something guys…

7 thoughts on “Bandung membuang sia-sia Rp.2,5 milyar perhari

  1. Bagaimana dengan Jakarta ? Kelipatan berapa “harga” yang terbuang sia-sia ? Tak hanya karena kuantitas kendaraan dan daya tampung jalan yang menjadi masalah. Arogansi pejabat juga turut menambah “harga” tadi. Kebayang kan brp ratus-ribu mobil berkilometer yang dihentikan setiap rombongan pejabat anu pulang.

    Ngomong2 arogansi, barusan katanya DPR RI mempersenjatai dirinya dengan laptop yang akan menghabiskan dana negara 12,1 Milliar hanya agar terlihat trendy mirip dengan Tukul.. Padahal menghidupkan laptop aja belum tentu tau.. ehhhh… kembali ke lapppptopppp !!!

    Like

  2. Kondisi Jakarta pasti lebih buruk dibanding Bandung. Saya tidak punya angka persis tentang Jakarta.

    Untuk Presiden dan Wakil Presiden ada ketentuan untuk memberikan pengawalan dan membebaskan jalan yang akan dilewati dari lalulintas. Itu tidak hanya di Indonesia, di negara-negara lain juga sama. Ingat waktu Presiden George W. Bush datang ke Bogor, begitu ribetnya pengamanan termasuk lalulintas yang harus diblokir yang berarti pemborosan bahan bakar.

    Rasanya mungkin kurang adil untuk menunggu seorang lewat, jalanan yg sibuk di Jakarta harus dikosongkan.

    Untuk laptop DPR, saya tidak punya kompetensi untuk menanggapi, soalnya bukan bidangnya sih. Kita kembali aja ke laptop ehh.. ke aturan dan kewajaran.

    Like

  3. Horas, salam kenal.
    Suatu penemuan yang menarik. Apakah dalam penelitian itu telah dihitung dampak positif dari penghijauan atau pembuatan hutan kota untuk mengurangi dampak negatif diatas? Termasuk menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat taman kota Ompung?

    Cara paling efektif menurutku adalah ‘Back to Nature’ yang sudah lama didegung-dengungkan tapi tidak pernah terjadi (baru pada sebagian kecil orang Indonesia). Tapi untuk mengembalikan kondisi yang sekarang, akan membutuhkan biaya yang besar, kesadaran masyarakat yang tinggi, dan kemauan pemerintah.

    Menurut Op, bagaimana penataan yang sesuai?

    Like

  4. Salam kenal kembali, trims.

    Temuan Prof Ofyar memang menghitung kerugian ekonomis. Papernya tidak menjelaskan ttg positif dari tumbuhan hijau.
    Untuk diketahui parameter utama pencemaran udara ada banyak antara lain particulat (PM10), SOx, NOx, CO2, Ozone, dan gas-gas lain. Termasuk juga yang sangat berbahaya seperti Timbal yang berasal dari bensin. Tumbuhan hijau di taman kota hanya mengurangi pencemar CO2. Jadi sebanyak apapun tumbuhan, tidak akan menurunkan kadar PM10 atau SOx.
    Memang taman kota yang hijau memberikan kesejukan dan keteduhan, jadi panas (temperatur lokal) bisa berkurang. Tapi tumbuhan hijau hanya untuk CO2 saja. Itupun tidak semua tumbuhan hijau mempunyai kemampuan bagus untuk menyerap CO2. Ada tumbuhan yang kemampuan menyerap CO2 sangat kecil.
    Yang termasuk penyerapannya bagus adalah Angsana, cuma saja bentuk tajuk angsana kurang bagus dan kalau sudah besar tidak bagus di trotoir, karena akarnya merusak trotoir.

    Penataannya bagaimana ?. Pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Harus dimulai dari penataan ruang kota, kemudian manajemen transportasi yang baik, sistem transportasi berkelanjutan, teknologi kendaraan bermotor yang bersih, bahan bakar yang bersih, dan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk merawat kendaraan secara periodik. Semua hal itu adalah persoalan besar dan memerlukan penyelesaian mendasar untuk kota-kota besar.

    Kalau mau tau banyak tentang kualitas udara kota, klik aja di http://udarakota.bappenas.go.id/ , atau di http://www.cleanairnet.org/caiasia/

    Like

  5. Thanks untuk jawabannya Op,

    Saya sangat tertarik dengan issue ini, Kebetulan background pendidikan saya Ilmu Kelautan. Saat ini sedang membantu di Project Management Consultant (PMC) COREMAP II Tapanuli Tengah untuk rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang.
    Di bidang kelautan, kemampuan laut untuk menyerap carbon dianggap semakin menurun, karena mungkin sudah terlalu jenuh dan pastinya rusaknya ekosistem laut. Padahal, banyak organisme laut yang mampu mengendapkan carbon, misalnya ‘polyp karang’ yang mengendapkan carbon sebagai CaCO3 pada terumbu karang. Selain itu juga untuk pertumbuhan beberapa jenis biota laut sangat membutuhkan CaCO3 tersebut, misalnya jenis kerang2an.
    Dari upaya penataan yang ompung sampaikan, mungkin perlu juga dipertimbangkan, kemampuan alam itu sendiri untuk memperbaiki alam sendiri (Bioremediation). Beberapa jenis bakteri berperan dalam siklus Nitrat, SOx (Sulfida?) bisa dimanfaatkan tumbuhan untuk pertumbuhannya. Kerusakan habitat bakteri mungkin mengakibatkan berkurangnya jumlah bakteri untuk menguraikan partikel2 tersebut. Fungsi taman kota menurut saya, juga bisa menjadi habitat bakteri2 yang bisa menguraikan Nitrat dan CO2 (Khususnya bakteri Heterotroph).
    Memang untuk penataannya sangat sulit, apalagi tidak direncanakan dari berbagai sektor.
    Hanya sekedar memaparkan fungsi penting lingkungan alami dan proses2 alam yang berjalan secara alami. Dan tentunya untuk perencanaan kota, kondisi alami ini bisa dipertimbangkan. Paling tidak, menyediakan habitat untuk proses alam itu sendiri.
    Salam

    Like

  6. Idealnya memang, kalau alam bisa bekerja untuk menetralisir keadaan, maka itu akan lebih baik. Untuk mengubah bahan limbah (pollutan) menjadi bahan yang aman banyak bakteri yang bisa dibiakkan. Sayangnya untuk kota-kota besar, tekanan pencemaran sudah sangat berat, sehingga bakteri yang secara alamiah bisa mengkonversi polutan itu seolah kehabisan tenaga. Ibarat mobil sedan diharuskan membawa penumpang 50 orang, ya akan rusak mobilnya kan.

    Untuk kota-kota besar proses alamiah itu malahan bisa jadi lebih mahal dibanding upaya-upaya lain. Karena proses alamiah biasanya memerlukan ruang dan lahan yang luas. Itulah yang sangat sulit di kota, karena harga tanah yang mahal.
    Tapi kita kan tidak boleh berhenti berupaya, harus dicari terus terobosan-terobosan di kota.

    Di laut, wah aku kayaknya perlu belajar banyak nih tentang kelautan. Ivan bisa jadi narasumber untuk itu. Horas.

    Like

  7. Thanks Op,

    Memang itulah ide “Ompung Charly” ini paling ku kagumi. Memberi kita kesempatan untuk saling kenal dan berbagi (walaupun masih di dunia maya). Baik berbagi pengalaman dan pengetahuan.
    Dengan senang hati, kalau ada yang bisa saya bantu Ompung.

    Mungkin bisa dipertimbangan, jika di puncak gedung2 tinggi itu dibuat taman atau katakanlah sekedar kotak kecil yang ditanami tumbuhan dan mungkin dibiakkan beberapa jenis bakteri yang bisa mengoksidasi Nitrit atau Sulfit. Tapi mungkin perlu penelitian lebih jauh untuk memperoleh angka efisiensinya.

    Saya pernah tinggal di Perumahan Jatisari Permai, Waru dekat Bunguran. Dirumah Tulang, Edward Simanjuntak/Br. Sianipar.
    Horas

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s