Lapangan Gasibu Bandung

Bandung memang sudah banyak berubah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Perubahan yang mencolok yang bisa terlihat adalah tingginya  kegiatan dengan pertumbuhan pusat-pusat ekonomi termasuk kegiatan perhotelan dan sebagainya. Salah satu yang menurut saya yang cukup signifikan adalah pembangunan jalan layang yang menghubungkan Jalan Pasteur dan Jalan Cikapayang. Jalan layang ini menghubungkan jalan arteri Hasan Mustofa yang sering disebut Jalan Suci ke Jalan terusan Pasteur dan jalan tol Purbaleunyi. Karena itu jalan layang ini merupakan jalan arteri yang sangat penting dan merupakan jalan penghubung Surabaya bagian Barat ke bagian Timur Bandung.

Jalan layang Pasteur-Cikapayang berakhir di dekat lapangan Gasibu yang terletak diseberang Gedung Sate. Lapangan yang sekarang ini sering menjadi tempat kegiatan pertunjukan panggung hiburan dan konser. Secara arsitektur perkotaan, posisi lapangan ini menghubungkan Gedung Sate dengan taman yang membentang kedepan kampus UNPAD. Sehingga terbentuk kawasan perkotaan yang harmonis membentuk kawasan taman kota dari Gedung Sate ke kampus Unpad. Posisi kawasan ini seolah ingin memperkuat keinginan kota Bandung untuk menjadi kota kembang yang modern.

Jumat  malam 8 Maret 2007  saya melewati lapangan Gasibu sepulang dari kawasan Antapani dari Surabaya Timur ke Sukagalih di kawasan Barat. Jadi pilihan jalan akses yang paling optimal harus melalui jalan layang Pasteur-Cikapayang yang berada disebelah lapangan Gasibu. Mendekati lapangan Gasibu, jalan Hasan Mustofa sudah macet, saya berpikir kemacetan ini biasa saja. Semakin dekat dengan lampu merah Gasibu kemacetan semakin tinggi. Mobil nyaris tidak bisa bergerak, jumlah sepeda motor banyaknya bukan main. Mau memutar menghindari kemacetan sudah tidak bisa, jadi jalan satu-satunya ya ikut saja menikmati kemacetan Jalan Suci alias jalan Hasan Mustofa. Saya dibonceng dengan sepeda motor oleh sepupu saya, dengan berliku-liku seperti “urban cross road”, akhirnya sampai juga kami lapangan Gasibu. Ternyata malam itu ada acara “live show” salah satu televisi swasta, sehingga penonton membludak disekitar lapangan Gasibu. Sepeda motor parkir di Jalan Suci sehingga menyisakan hanya selebar 3 meter bagi pengguna jalan. Para pengendara sepeda motor banyak yang nongkrong diatas sepeda motor yang parkir itu membuat lalu lintas nyaris tidak bergerak. Belum lagi para penyeberang jalan yang jumlahnya juga sangat banyak.

Kemacetan  jumat malam di Gasibu tentulah sudah sering terjadi bila lapangan itu digunakan untuk perhelatan apakah pertunjukan atau upacara. Hal itu bisa difahami, karena lapangan Gasibu nyaris tidak mempunyai fasilitas parkir. Tak pelak lagi bila ada acara di lapangan Gasibu, maka jalan Suci mejadi tempat parkir. Padahal jalan suci yang berada tepat diujung jembatan layang Pasteur-Cikapayang yang merupakan jalan arteri utama kota Bandung.  Fungsi jembatan layang yang dibangun cukup lama itu menjadi sangat rendah pada saat lapangan Gasibu dipakai untuk tempat acara.

Saya berfikir mengapa jalan layang Pasteur-Cikapayang tidak direncakan lebih panjang ke Timur sehingga melewati perempatan Gasibu, sehingga fungsi arteri utama kota tidak terganggu. Tetapi mungkin dipertimbangkan juga segi keindahan kawasan Gedung Sate ke Utara (Unpad) akan terganggu bila ada jalan layang memotong koridor itu. Serba salah memang. Karena itu barangkali komprominya adalah bahwa lapangan Gasibu tidak digunakan untuk acara yang menghimpun banyak orang.  Bila lapangan Gasibu dirubah menjadi taman kota, selain memperindah kawasan Gedung Sate, maka kemacetan akan jauh berkurang.  Mungkin itu bisa mengembalikan Bandung menjadi “kota kembang” lagi dan bukan “kota outlet”.   

One thought on “Lapangan Gasibu Bandung

  1. Menurut saya, pejabat pemerintah kota Bandung dungu total.

    (Mungkin) Hanya karena uang, mereka mengijinkan PKL untuk jualan pada setiap hari minggu (di lapangan tersebut).

    Akibat-nya, setiap hari minggu, kondisi gasibu tidak tertib sama sekali dan nyaris tanpa adab. Warga sekitar (saya yakin) merasa terngganggu. Tamu tamu yang datang dari luar kota, akan terbengong bengong melihat kondisi lalu lintas setelah melalui Fly Over Cikapayang.

    Saya sudah hubungi polisi cibeunying kaler. Polres bandung tengah, hasilnya sama saja, mereka tidak berdaya menertibkan ketertiban Umum.

    Harus Push dari Atas dan kalangan akademisi tidak boleh tinggal diam. Wagub sama saja, beliau mengatakan itu bukan kewenangan pemerintah propinsi.

    Polisi pamong praja? Dada Rosada ? wah ga ngerti. Semua orang sibuk urus dirinya sendiri

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s