Mengelola Bencana Perkotaan

Harian Kompas edisi minggu 1 April 2007 halaman 25 memuat suatu tulisan dengan judul “Kota berbasis bencana”. Dalam tulisan itu dijelaskan perlunya penyiapan suatu fasilitas taman evakuasi kalau-kalau terjadi bencana kota. Meski tidak dijelaskan seperti apa bencana kota itu, tapi tersirat bahwa bencana kota yang terutama adalah banjir dan kebakaran. Taman evakuasi yang diusulkan berupa bangunan berlantai tiga dirancang diatas ruang terbuka hijau kota yang tetap dapat difungsikan untuk kegiatan tertentu pada saat tidak terjadi bencana.

Penulis artikel adalah seorang arsitektur lansekap, karena itu penjelasan aritektural bangunan taman evakuasi itu mendominasi tulisannya.  Sipenulis juga mengatakan kalau pemerintah harus menyiapkan ruang terbuka hijau (RTH) di setiap kawasan pemukiman kota. Pemerintah harus merevitalisasi ruang terbuka hijau. Dan pemerintah juga harus menghijaukan kembali ruang-ruang yang seharusnya  RTH tapi sudah terlanjur digunakan untuk yang lain.

Penulis artikel yang mengaruskan pemerintah berbuat banyak hal untuk mewujudkan taman evakuasi, seolah untuk melaksanakannya semudah membalik telapak tangan. Seolah pemerintah itu adalah suatu lembaga yang bisa melakukan apa saja dengan mudah. Padahal dalam kenyataannya, pemerintah punya banyak keterbatasan dan kendala.

Saya jadi teringat pada ilustrasi seorang pengkhotbah. Ditengah khotbahnya dia meminta jemaat untuk menyebutkan warna buku nyanyian yang dia buka diatas tangannya. Jemaatnya menjawab bahwa buku itu berwarna merah maroon, karena sampulnya memang berwarna merah maroon. Pengkotbah bilang bahwa jemaat keliru.
“Buku ini berwarna putih dan sebagian ada yang hitam yaitu huruf-huruf yang ada”, sambil mebalikkan buku agar jemaat bisa melihat halaman buku.
“Saya melihat buku ini lebih banyak putihnya daripada hitamnya”. 
“Orang memang sering hanya melihat dari sisi dirinya saja, tidak melihat sesuatu secara utuh, seperti anda melihat sampul buku ini”, penghotbah itu melanjutkan. Sepertinya penulis artikel yang disebut diatas juga tidak melihat pemerintah secara utuh.

Pada saat bencana terjadi, masyarakat umumnya panik, bingung, berusaha menghindari bencana, tapi tidak tau harus berbuat apa pada saat-saat yang sangat genting. Bukan hanya masyarakat yang panik, bahkan petugas pun seringkali terlihat tidak tau harus melakukan apa pada saat-saat bencana terjadi. Kondisi yang demikianlah yang sering kita lihat ketika banjir bandang, gempa bumi  ataupun kebakaran yang melanda kawasan permukiman.

Padahal dengan ketersiapan yang baik, bila bencana terjadi, tindakan dan langkah yang sistematis, terarah, dan tepat waktu dapat dilakukan; maka korban dan kerugian dapat dikurangi. Ketersiapan yang baik dapat diperoleh bila dilakukan program dan kegiatan-kegiatan untuk antisipasi menanggulangi bencana.
 
Bila terjadi bencana, fasilitas-fasilitas umum biasanya tidak berfungsi dengan baik, atau bahkan tidak bisa dipakai sama sekali. Aliran listrik terputus, fasilitas komunikasi seperti telepon juga tidak berfungsi, fasilitas air minum juga tidak bisa digunakan. Bahkan kadang-kadang rumah sakit juga mengalami kerusakan dan gangguan, dan supply bahan makanan juga dapat terganggu.

Padahal pada saat-saat bencana, justru fasilitas-fasilitas itu sangat dibutuhkan untuk menolong korban.  Karena itu dalam rangka ketersiapan menghadapi bencana harus dirancang suatu sistem pengelolaan bencana dengan asumsi bahwa fasilitas-fasilitas umum yang biasa tidak dapat dipakai. Untuk itu harus ada suatu fasilitas umum cadangan yang sewaktu-waktu dapat dioperasikan dalam keadaan darurat, dimana sarana dan prasarana pendukung tidak tersedia. Berarti listrik dalam keadaan darurat dan terbatas harus tersedia, demikian juga alat komunikasi cadangan harus ada.  Begitu juga air minum dan obat-obatan harus segera dapat disiapkan begitu bencana terjadi. Semua sarana dan prasarana itu harus berfungsi dalam keadaan bencana. Karena itu harus disiapkan bagaimana menyediakan dan memobilisasi fasilitas-fasilitas itu ke tempat bencana dalam waktu secepat mungkin. Tentu saja volume fasilitas itu tidak harus dalam jumlah yang banyak, tetapi yang terpenting dapat difungsikan segera ditempat bencana.

Untuk itu tempat penyimpanan sarana dan fasilitas itu harus tersedia dan tidak akan rusak meski terjadi bencana. Artinya lokasi penyimpanan dan perlindungannya harus dirancang sedemikian rupa sehingga tahan terhadap bencana. 

Yang juga sangat penting adalah ketersediaan sistem monitoring dan manajemen penanggulangan bencana. Pada saat terjadi becana harus tersedia suatu mekanisme kerja penanganan darurat bagaimana mengevakuasi dan merawat korban.  Bagaimana memobilisasi bantuan ke lokasi bencana dan memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak. Karena itu harus ada mekanisme kerja yang dikendalikan dalam waktu yang singkat. Idealnya ada suatu komando terpusat penanggulangan bencana yang terkendali secara terpadu. Untuk itu dibutuhkan manajemen penganggualangan yang sistematis, kemampuan personil pengendali dan pengawas yang handal serta didukung fasilitas dan peralatan yang memadai.  Keseluruhan operasi penanggulangan bencana bisa dikendalikan dari suatu “operation room” yang memadai yang bisa memonitor semua kegiatan dilapangan.

Sebagai perbandingan, tidak ada salahnya melihat apa yang dimiliki Jepang dalam sistem pengelolaan bencana perkotaan. Jepang dikenal sebagai daerah yang sering mengalami gempa. Karena itu sistem pengelolaan bencana di Jepang sangat maju dalam  menghadapi gempa, terutama setelah peristiwa gempa besar di Kobe tahun 1995.  Di Hyogo, Jepang, tersedia suatu ruangan pengendali penanggulangan bencana dengan kekuatan bangunan yang mampu bertahan terhadap gempa sampai berkekuatan 7  skala Richter.  Di ruangan ini tersedia banyak sekali monitor untuk melihat kondisi dan berita di lapangan. Di seluruh bagian kota ditempatkan sejumlah kamera yang terhubung ke monitor di ruangan pengendali. Setiap kamera dihubungkan dengan satu monitor. Selain itu terdapat sejumlah monitor dari stasiun televisi lokal maupun nasional.  Sehingga seluruh ruangan dikelilingi oleh banyak monitor televisi. Selain monitor televisi terdapat jaringan komputer yang menghubungkan semua meja dan sistim kendali bencana. Di ruangan itu semua instansi terwakili baik instansi pemerintah maupun lembaga-lembaga lain yang terkait. Seluruh operasi penanggulangan bencana dikendalikan dari ruangan itu dan keputusan-keputusan penting segera dapat diambil.

Di Indonesia umumnya telah terbentuk suatu tim ad-hoc yang disebut Satkorlak Bencana Alam.  Keberadaan Satkorlak ini perlu dilembagakan secara sitematis dan dan mempunyai mekanisme kerja yang terorganisir dengan baik.  Bentuk Satkorlak yang ad-hoc perlu ditingkatkan sehingga menjadi lembaga yang permanen yang mempunyai mekanisme kerja yang rapi, dilengkapi personil yang mampu dan handal serta fasilitas yang memadai. 

Ditingkat kota Satkorlak diketuai oleh Walikota dengan unsur-unsur terkait seperti pekerjaan umum, penanganan kesehatan, unsur keamanan termasuk instansi militer, palang merah, LSM, dan pihak-pihak terkait lainnya. Pada umumnya terdapat sekretariat yang mengelola tugas-tugas tim Satkorlak. Kebanyakan sekretariat ini dikelola dengan gaya birokrasi pada umumnya yang terkesan seadanya, sehingga efektifitas kerja Satkorlak sering kedodoran. Pada saat terjadi bencana, terasa bahwa ketersiapan Sekretariat Satkorlak juga kalang kabut.

Seringkali kinerja Satkorlak Bencana ditentukan oleh kemampuan personil inti yang menjadi Sekretaris. Padahal dalam kenyataannya sekretaris ini juga sering berganti sesuai irama pemerintahan. Biasanya sekretaris berasal dari aparat pemerintah. Jika penggnatinya adalah personil yang kurang mampu, maka hampir dipastikan mekanisme kerja Satkorlak akan payah.  Sebagai akibatnya pengelolaan bencana perkotaan akan menjadi kacau balau.

Ketersiapan” saya gunakan sebagai pengIndonesiaan “prepadness”,  sebab kalau digunakan kata “persiapan” yang dalam bahasa Inggeris adalah “preparation”. Kata ketersiapan lebih pas dari pada persiapan.

Ketersiapan  Satkorlak kota perlu dilembagakan dan direncanakan dengan baik. Bencana kota perlu diantisipasi dengan baik, dengan asumsi tingkat bencana yang dihadapi. Ketersiapan yang terlalu besar memang terkesan penghamburan uang, karena ketersiapan besar tentulah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi ketersiapan kota yang terlalu rendah juga bisa mengakibatkan kerugian yang besar. Bila bencana benar-benar terjadi dengan ketersiapan ala kadarnya maka akan sulit melakukan tindakan-tindakan tepat mengatasi bencana kota. Akibatnya kerugian yang timbul menjadi sangat besar.

Seberapa besar ketersiapan suatu kota dapat diperkirakan dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Termasuk “potential losses” bila bencana terjadi. Berbagai metode dan model antisipasi bencana sesungguhnya dapat dikembangkan untuk melakukan estimasi ketersiapan bencana kota. Semakin besar kota dan semakin padat penduduknya, maka ketersiapan harus benar-benar ada dan dapat difungsikan sewaktu-waktu.

2 thoughts on “Mengelola Bencana Perkotaan

  1. Salam… saya mahasiswa semester akhir jurusan perencanaan wilayah dan kota, sedang menyusun tugas akhir mengenai manajemen pegelolaan bencana banjir di kawasan perkotaa (Kota Makassar) mohon bantuan informasi dan sumber bacaannya….
    sebelumya terima kasih
    salam…

    Like

  2. saya setuju.
    kota merupakan rawan bencana, apalagi banjir!!!
    di lingkungan kota, keadaannya sudah 90% tertutup oleh beton. sudah tidak ada lagi tempat peresapan air. memang akan terlihat bersih, tidak becek. tapi saat hujan datang, banjir pun melanda. hal ini yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan warga setempat. jika menginginkan lingkungan yang rapi, keamanan lingkungan jangan sampai dilupakan…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s