Sungai Murasaki

Umumnya kota-kota dunia mempunyai sungai yang melintas ditengah-tengahnya. Pada awalnya kota berkembang dengan memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi. Kota-kota besar dunia umumnya berada tidak jauh dari pantai dan menjadikan sungai sebagai sarana transportasi. Dalam perkembangan kota-kota, fungsi sungai sebagai sarana transportasi kemudian bersaing dengan jalan raya dan jalan rel. Pada tahapan perkembangan kota sungai bahkan sering  kalah dalam persaingan itu dengan jalan raya.  Dengan semakin tingginya kebutuhan akan transportasi perkotaan, dan untuk pelestarian lingkungan, banyak kota-kota kemudian berbalik lagi untuk memanfaatkan sungai sebagai alat transportasi dan untuk rekreasi sekaligus untuk pelestarian lingkungan. Salah satu kota yang dianggap berhasil mengembalikan fungsi sungai adalah kota Kitakyushu di Jepang yang mempunyai sungai MURASAKI yang membelah kota.

Kota Kitakyushu berpenduduk kurang  lebih sekitar 970.000 jiwa (2006). Setelah Perang Dunia Kedua, kota ini sebagaimana kota-kota lain di Jepang berkembang menjadi pusat industri. Industri yang terutama pada masa itu adalah industri baja. Pada sekitar tahun 60 sampai 70 an booming industri di Jepang begitu tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi Jepang juga sangat tinggi. Akan tetapi akibat dari pesatnya industri itu, limbah yang dibuang juga sangat banyak dan mencemari lingkungan terutama sungai.

Kota Kitakyushu dengan industrinya mencemari sungai Murasaki sedemikian hebat sehingga tidak satupun spesies ikan yang bisa ditemukan disungai itu pada tahun 70 an. Air sungai bahkan berwarna kuning akibat pencemaran industri yang sangat berat. Dengan kondisi pencemaran itu masyarakat kemudian komplain terhadap pencemaran yang tinggi. Bersama-sama dengan pemerintah kota dan kalangan industri, warga kota Kitakyushu kemudian merencanakan rehabilitasi lingkungan dan sungai Murasaki.

Pada tahun 1979 kondisi Sungai Murasaki tercemar berat, air sungai berwarna hitam. Pada saat itu air limbah rumah tangga di kota Kitakyushu belum diolah sehingga mencemari sungai. Demikian juga limbah industri masih banyak yang masuk kesungai. Tetapi dengan kerja keras, kota Kitakyushu memperbaiki kualitas lingkungan hidup secara terpadu. Perbaikan pada semua aspek dilakukan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kota menjadi asri. Secara bertahap air limbah diolah, sampai kini seluruh penduduk kota sudah dilayani dengan jaringan perpipaan air limbah dan kemudian diolah di lima instalasi pengolahan. Panjang kesluruhan jaringan perpipaan air limbah mencapai 4.000 kilometer (pipa besar dan kecil), dan air limbah yang diolah setiap harinya berjumlah kurang lebih 463.000 meter kubik.

Dengan pengolahan air limbah yang demikian kualitas air sungai semakin baik. Sungai Murasaki juga dibenahi secara fisik. Bangunan dan rumah yang semula berdiri membelakangi sungai dirubah menjadi menghadap sungai (river view). Dengan kerja keras selama lebih dari 20 tahun, sungai Murasaki kini menjadi sangat bersih, sehat dan disenangi warga kota. Tepian sungai dirancang beraneka bentuk mulai dari fasilitas air terjun buatan, tempat bermain untuk anak anak sampai menyediakan panggung di tengah sungai.

Berbagai fesival juga diadakan untuk memanfaatkan kebersihan dan keindahan sungai saat ini. Dimusim panas, sungai Murasaki menjadi tempat rekreasi bagi warga kota. Beberapa taman dan jembatan dibangun untuk memberikan sarana bagi masyarakat menikmati taman sungai. Terdapat sebuah museum sungai dimana pengunjung dapat melihat air sungai sebagai akuarium raksasa, dimana fauna sungai hidup dengan bebas. Di akuarium tersebut bahkan bisa diamati batas antara air asin dan air tawar. Karena akuarium berada tidak jauh dari muara sungai di Dokai Bay. 

Yang lebih menarik dari keberadaan akuarium sungai itu adalah bahwa pembangunan akuarium sungai berasal dari gagasan seorang gadis kecil berusia 9 tahun yang ikut lomba mendisain program revitalisasi sungai Murasaki. Untuk pembangunan sungai Murasaki, diadakan berbagai forum perlombaan tentang bentuk yang diinginkan oleh warga kota. Salah satu pemenang lomba gambar adalah seorang gadis kecil yang mengusulkan pembangunan akuarium sungai. Kini gambar yang dibuat anak adis kecil tersebut dipajang di museum sungai. Dan kini (2007) gadis kecil itu sudah menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak yang sudah menginjak sekolah dasar.

Gagasan yang bagus untuk dicontoh.

One thought on “Sungai Murasaki

  1. Sebenarnya bukan “butuh waktu 20 tahun untuk…” yang menjadi masalah, tapi “kapan kita mulai untuk…” yang perlu dijadikan semangat.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s