Kurang RTH, Picu Polutan

Jawa Pos, Kamis, 17 Mei 2007,

SURABAYA – Minimnya ruang terbuka hijau (RTH) membuat kualitas udara kota ini rata-rata masih tidak sesuai standar. Dalam setahun, warga Surabaya hanya menghirup udara dengan kualitas baik maksimal selama satu bulan. Itu terungkap dalam laporan evaluasi monitoring kualitas udara ambient hasil rekapitulasi Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) pemkot. Data itu diambil dari stasiun indeks pencemaran udara (ISPU) di Surabaya.

Pada laporan itu, kondisi udara ditilik dalam lima kategori. Yaitu, kandungan debu (PM10), karbon monoksida (CO), ozon (O3), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). Selama 2005 hanya 62 hari udara di Surabaya tergolong kondisi baik. Sisanya, 259 hari kondisi sedang, dan 9 hari tidak sehat. Data tahun lalu lebih “mengerikan”. Hanya 26 hari masyarakat kota ini menikmati udara baik. Sebagian besar (334 hari), kondisi udara sedang. Lalu, ada 5 hari ketika udara tidak sehat.

Kepala BPLH Togar Arifin Silaban mengatakan, keadaan udara yang buruk berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Misalnya, infeksi saluran pernapasan, sesak napas, kanker paru-paru, bahkan penyakit kulit. Namun, dia menambahkan bahwa kondisi udara Surabaya saat ini masih dalam taraf wajar. “Dalam taraf sedang masih bisa dikontrol dan diupayakan menjadi baik,” jelasnya.

Lebih lanjut Togar menjelaskan bahwa buruknya kondisi udara Surabaya disebabkan berbagai macam faktor. Terutama, jeleknya kualitas gas buangan kendaraan bermotor akibat buruknya kualitas mesin kendaraan bermotor dan kualitas bahan bakar. “Untuk mendapatkan buangan yang bersih, kualitas mesin dan bahan bakarnya juga harus bagus,” tegasnya. Keadaan tersebut diperparah dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor setiap tahunnya.

Menurutnya, pemerintah pusat harus membuat dan menjalankan regulasi untuk menekan pencemaran udara secara ketat. Negara yang telah menjalankan regulasi polusi secara baik adalah Singapura dan Jepang. Di negara-negara tersebut campuran sulfur untuk bahan bakar solar telah berada di bawah 10 ppm. Itu jauh di bawah Indonesia yang campuran sulfurnya masih berada di atas 5 ribu ppm. “Jika regulasi segera dibuat, dampak buruk yang timbul bisa ditekan sesegera mungkin,” jelasnya.

Selain itu, dia juga meminta agar pemkot dan warga kota menggalakkan upaya penghijauan. Apalagi, Dinas Kebersihan dan Pertamanan telah merilis bahwa luas RTH Surabaya saat ini sangat minim. Yaitu, hanya 10 persen dari luas kota. Togar menyarankan warga menanam pohon berdaun banyak, misalnya angsana. “Semakin banyak pepohonan, polusi udara bisa berkurang. Sebab, pepohonan mampu mengisap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis,” katanya. (cie)

Sumber : disini

One thought on “Kurang RTH, Picu Polutan

  1. Pingback: Silaban Brotherhood

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s