Medical Waste

Rabu 23 Mei lalu, bertempat di ruang sidang Walikota Surabaya, diadakan forum diskusi tentang medical waste (limbah klinik). Acara ini dimaksudkan untuk menginventarisir keadaan limbah klinik di Surabaya. Narasumber dalam forum tersebut dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Penendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Surabaya, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, Rumah Sakit DR Soetomo Surabaya dan salah satu LSM di Surabaya. Berdasarkan forum itu, secara umum pengelolaan medical waste di Surabaya sangat memprihatinkan sementara volumenya semakin meningkat. Peserta forum diskusi adalah pengelola laboratorium klinis yang berada di Surabaya.

Untuk pertama kalinya, pengelolaan medical waste dibicarakan banyak pihak di Surabaya. Apalagi dibahas dari berbagai aspek. Dengan pertumbuhan kota Surabaya yang semakin meningkat, ternyata juga dibarengi dengan pertumbuhan jumlah laboratorium klinis yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun BPLH kota Surabaya setidaknya ada 83 laboratorium klinis dan terdapat 53 buah rumah sakit (termasuk rumah bersalin) dari berbagai kelas di Surabaya. Bahkan menurut salah seorang pengelola laboratorium klinis, jumlah laboratorium klinis di Surabaya mungkin sudah mencapai 120 buah. Angka-angka ini sesungguhnya menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan di Surabaya sudah cukup lengkap dengan penduduk sekitar 2,7 juta jiwa. Akan tetapi dibalik itu, angka-angka itu juga berarti bahwa kuantitas dan kualitas penyakit semakin tinggi. Jumlah orang yang menderita sakit semakin tinggi. Kalau jumlah penderita sakit semakin tinggi, sebenarnya juga bisa berarti bahwa kualitas kehidupan masyarakat menurun.

Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, pada umumnya medical waste termasuk dalam kategori hazardous waste (limbah bahan berbahaya dan beracun, limbah B3). Pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 85 tahun 1999, limbah medis yang berasal dari Laboratorium Klinis dan Rumah Sakit terutama limbah infeksius termasuk dalam daftar limbah B3. Limbah ini umumnya berasal dari sisa bahan kimia yang digunakan dalam analisa laboratorium, sisa peralatan (jarum suntik, kapas, kassa dll) yang kontak dengan pasien, sisa sampel pasien (urine, darah, faeses dll), sisa proses pencucian film (sinar X). Limbah dari rumah sakit termasuk sisa bahan obat-obatan, sisa bahan pasien (termasuk sisa organ dari proses bedah). Dengan karakter limbah seperti itu, maka limbah infeksius adalah berbahaya bila tidak dikelola dan diolah dengan baik.

Pada umumnya medical waste bisa mengandung kuman dan bakteri patogen, parasit, virus, dan zat berbahaya (sisa bahan kimia). Bekas infus dan bekas obat-obatan juga dikategorikan sebagai limbah infeksius. Medical waste bisa sangat berbahaya bila pasien pengguna fasilitas pelayanan kesehatan (laboratorium dan rumah sakit) adalah penderita penyakit menular yang berbahaya seperti HIV/AIDS, flu burung, penyakit menular, dan penyakit lainnya. Sekecil apapun limbah dari penyakit-penyakit tersebut bila perlakuannya kurang baik, maka penyakit bisa tertular termasuk kepada petugas pelayanan kesehatan dan masyarakat luas. Dengan gambaran yang demikian dapat difahami, bahwa medical waste bisa sangat berbahaya.

Dari semua laboratorium klinis di Surabaya, tidak ada yang mempunyai fasilitas pengolahan limbah infeksius. Sampai saat ini baru 9 laboratorium klinis yang bekerja sama dengan Rumah Sakit DR Soetomo untuk pemusnahan limbah infeksius. Laboratorium lainnya tidak jelas bagaimana mengelola limbah infeksius.

Fasilitas pemusnahan limbah yang dimiliki Rumah sakit DR. Soetomo Surabaya adalah incinerator yang mempunyai kapasitas 5 meter kubik perhari. Fasilitas ini adalah untuk memusnahkan limbah padat. Proses incinerator adalah pembakaran limbah dengan menggunakan tungku pembakaran. Secara teoritis, incinerator harus bisa mencapai temperatur antara 1000 derajat Celcius sampai 1200 derajat Celcius untuk mematikan semua bahan-bahan berbahaya dan beracun. Bila temperatur pembakaran kurang dari 1000 derajat Celcius, maka sebagian dari bahan-bahan berbahaya tidak terbakar tuntas dan sisanya tetap masih bisa berbahaya bagi lingkungan hidup. Untuk mendapatkan temperatur antara 1000-1200 derajat, maka diperlukan sistem pembakaran yang baik dan efisien yang ujung-ujungnya memerlukan biaya yang cukup besar. Diperlukan pengawasan dan monitoring untuk melihat kemampuan pembakaran yang demikian.

Berdasarkan pemaparan pada forum diskusi tersebut, untuk mengolah limbah cair, RS DR Soetomo menggunakan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL). Proses pengolahan di IPAL RS DR Soetomo diawali dengan equalisasi, kemudian proses intermittant activated sludge (aeration process) yang sekaligus berfungsi sebai pengendap (settling tank), setelah itu dilanjutkan dengan proses klorinasi untuk membunuh kuman, dan kemudian disalurkan ke badan air penerima. Dengan proses yang demikian, maka sistem pengolahan yang diterapkan adalah “biological treatment” (pengolahan biologis) dengan menggunakan lumpur aktif (activated sludge). Pada pengolahan ini, bakteri pada tangki activated sludge akan dikondisikan dengan supply oksigen yang cukup untuk “memakan” limbah biologis. Sehingga limbah terurai dan dapat diendapkan, maka kadar (konsentrasi) limbah menjadi turun. Untuk menurunkan konsentrasi limbah sampai pada baku mutu air limbah, maka sistem pengolahan biologis harus dirancang sesuai dengan karakteristik dan jumlah limbah yang akan diolah.

IPAL dengan sistem “biological treatment” tidak dapat mengolah limbah non biologis seperti sisa bahan kimia. Sisa bahan kimia berbahaya harus diolah dengan sistem “chemical treatment“. Padahal medical waste banyak mengandung sisa bahan kimia dari proses analisa laboratorium. Sejauh ini di Surabaya limbah medis belum diolah dengan “chemical treatment“.

Dari forum diskusi juga terungkap bahwa saat ini ada pihak-pihak yang mencari dan menampung sebagian limbah medis terutama botol infus bekas dan jarum suntik bekas. Tidak jelas bagaimana pihak-pihak itu memperlakukan dan memanfaatkan limbah jarum suntik dan limbah botol infus bekas tersebut. Padahal jarum suntik bekas dan botol infus bekas bisa sangat berbahaya bila pasien yang menggunakannya menderita penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS, flu burung atau penyakit berbahaya lainnya.

Secara teoritis plastik dari jarum suntik bekas dan botol infus bekas memang mempunyai kadar plastik yang baik dan mempunyai nilai yang tinggi bila di daur ulang (recycle). Kondisi ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mencari penghasilan tanpa memperhatikan bahwa pemanfaatan jarum suntik bekas dan botol infus bekas bisa menularkan penyakit. Bukan tidak mungkin bahwa salah satu penyebaran penyakit HIV/AIDS adalah melalui pendaur ulangan jarum suntik bekas dan botol infus bekas.

Dengan informasi yang didapat dari forum diskusi itu, dapat digambarkan bahwa pengelolaan limbah medis masih sangat memprihatinkan dan memerlukan pemecahan yang sistematis dan konsisten dari semua pihak.

6 thoughts on “Medical Waste

  1. tahukah orang yang melakukan bisnis daur ulang botol infus ini? saya sedang menelusuri peredaran jarum suntik bekas dan botol infus bekas ini. terimakasih.

    Like

  2. Botol infus bekas memang diklasifikasikan sebagai limbah B3 oleh KLH. Demikian juga menurut referensi asing(WHO). Namun apa dasarnya mengingat botol infus tidak kontak langsung dengan tubuh manusia saat pemakaiannya (kan melalui jarum intra vena dan selang infus), terutama yang berisi cairan bukan obat seperti cairan RL dan NaCl. Apakah sudah dibuktikan secara ilmiah faktor-faktor pembawa resikonya, secara kimia dan mikrobiologi? Menurut saya bila dapat dibuktikan ok-ok saja, tapi kalau berdasarkan informasi belaka, asumsi atau malah intuisi justru tidak menyelesaikan masalah yang ada.
    Daur ulang botol infus menurut saya merupakan salah satu solusi terbaik penanganan limbah medis, mengingat bila dibakar dalam incenerator yang tidak memenuhi syarat justru akan menambah masalah. Pertimbangan lain adalah biaya operasional incenerator saat ini semakin lama makin tinggi.
    Sebagai seorang medis yang saat ini concern di bidang kesehatan lingkungan, saya berpendapat bahwa alat-alat medis single use (contohnya jarum suntik)sudah saatnya ditekan penggunaannya. Solusinya adalah dengan memperbaiki sistim desinfeksi dan sterilisasi. terima kasih

    Like

  3. Mohon kejelasannya…Untuk botol infus dimusnahkan atau di recycle. Menurut Permenkes 1204/menkes/sk/x/2004 tidak disebutkan secara detail. Supaya pengelola sampah medis punya dasar.

    Like

  4. mohon penjelasan untuk memeanfaatkan bekas sampah dari limbah rumah sakit, ada alatnya agak untuk memproses hal tersebut kasih informasi doonk !!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s