Rafting di Sungai Pekalen

Sabtu 26 Mei saya memenuhi janji ke anak saya untuk menemani dia dan kawan-kawannya rafting di Sungai Pekalen Probolinggo. Sudah beberapa waktu Daniel merencanakan mau rafting dengan teman-temannya setelah selesai Ujian Nasional SMP. Awalnya Daniel mau ajak banyak teman, supaya menjadi kenangan bagi teman-teman SMPnya, siapa tau nanti SMA pindah ke sekolah yang berbeda. Sekitar beberapa bulan sebelum ujian, Daniel sudah memberi tau teman-temannya bahwa rafting sangat mengasyikkan. Karena tahun lalu Daniel dan saya sudah pernah rafting di Sungai Pekalen. Tapi teman-temannya banyak yang takut, karena membayangkan bahwa rafting bisa berbahaya. Saya juga pada awalnya mengira rafting berbahaya karena melihat film di TV yang cukup menegangkan. Setelah dua kali rafting, saya malah ingin mencoba lagi dengan sungai yang arusnya lebih deras dan lebih menantang.

Karena agak sulit mendapatkan ijin dari orang tuanya, teman-teman Daniel, tidak banyak yang mau ikut. Terakhir hanya Patrick dan Felix yang mau, itupun setelah diyakinkan bahwa mereka akan didampingi oleh saya selama perjalanan dan dalam rafting. Akhirnya Jumat malam, sudah konfirm kami hanya berempat yang pergi, saya Daniel, Patrick dan Felix. Dennis sebenarnya ingin ikut, tapi karena masih ujian sekolah, terpaksa tidak bisa. Jumat malam, mama Patrick bahkan menelpon ke rumah memastikan bahwa nantinya kalau rafting tidak akan apa-apa. Kebetulan istri saya, Maya, yang menerima telepon ibunya Patrick. Maya yang sudah dua kali ikut rafting menjelaskan bahwa keselamatan dalam olah raga rafting menjadi nomor satu, dan akan didampingi oleh instruktur profesional. Barulah ibunya Patrick agak lega. Sabtu paginya, ketika mengantarkan Patrick, ibunya kembali berpesan supaya hati-hati dalam rafting. Saya kembali menegaskan, bahwa saya sudah pernah ikut rafting, dan bahwa olah raga rafting tidak lebih berbahaya dari renang. Maka ibu Patrick kelihatan tenang.

Jam tujuh pagi kami bertolak menuju Probolinggo. Saya tidak sempat memantau lalu lintas di Porong, tapi langsung saja berangkat berempat dengan saya dibelakang kemudi. Sesampai di Porong, ternyata lalu lintas lancar sekali, meski aliran air masih masuk ke jalan raya, tapi jalan raya Porong dapat dilalui. Tahun lalu ketika menuju sungai Pekalen, saya bisa lancar menemukan jalan masuk ke arah sungai Pekalen, ketika itu saya bisa melihat dengan jelas, papan penunjuk arah yang terdapat di jalan raya Pantura. Tapi Sabtu kemarin, saya tidak ingat jalan masuk tersebut dan tidak melihat papan penunjuk arah, padahal, saya juga sudah meminta Daniel memperhatikan. Setelah melewati kota Probolinggo, kami sudah memperhatikan dan mobil pun berjalan tidak terlalu kencang. Tapi kami tidak menemukan sampai kami melewati Kota Kraksaan, saya kemudian merasa bahwa kami sudah terlalu jauh. Setelah tanya di 108 Telkom, akhirnya saya telepon ke operator Rafting untuk memberi tahu jalan masuk. Ternyata kami telah melewati kurang lebih 15 km, karena jalan masuk adalah di Pejarakan, sekitar 20 km sebelah Timur Kota Probolinggo. Dari Pejarakan sekitar 15 km kami sampai di base camp rafting, jam sudah menunjuk 11.20.

Kami belum sempat booking ke operator rafting, ketika kami datang ternyata sudah banyak yang mendahului kami. Peserta rafting hari itu lebih dari 100 orang, karena ada 2 grup besar dan beberapa grup kecil. Ketika kami sampai, kami sudah tidak kebagian perahu, maka kami terpaksa menunggu sampai perahu pertama hari itu kembali ke base camp. Base camp merupakan sekaligus sebagai tempat finish rafting. Titik start berada dibagian hulu. Sambil menunggu, kami makan siang yang disediakan oleh operator. Harga Rp. 175.000 perorang untuk mengikuti rafting, sudah termasuk makan siang, sewa perahu karet, fee instuktur dan snak ketika istirahat di pertengahan rafting. Makan siang di tepi sungai amat asyik dengan menu yang bervariasi mulai dari pecel ikan, ikan goreng, jambal roti, tahu goreng, tempe goreng, urap-urap, sayur lodeh, dan lalapan serta sambal terasi.

Nasi disediakan cukup banyak berupa nasi putih dan nasi sampur jagung. Makannya sungguh nikmat setelah lebih dari 3 jam berkendara dari Surabaya. Tidak lama setelah selesai makan siang, dari kejauhan mulai terdengar suara para peserta rafting rombongan pertama. Mereka hampir mencapai titik finish yang tepat berada disebelah base camp. Setelah petugas menyiapkan perahu, kamipun dipersilahkan naik ke kendaraan pick-up terbuka yang akan membawa kami ke titik start. Sebelumnya kami diberi jaket pelampung, yang dicoba untuk menentukan ukuran yang pas, kami juga diberi dayung. Dengan menyusuri jalan desa kendaraan pick-up menuju tempat start. Saya kira kalau mengikuti jalan desa yang dilalui pick-up menempuh kurang lebih 15 km. Kami didampingi oleh dua instuktur yaitu Mas Amin dan Mas Eboy, keduanya mempunyai perawakan agak kecil, umurnya mungkin kurang dari 30 tahun.

Kendaraan pick-up tidak bisa mencapai tepi sungai, karenanya kami masih harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 400 meter. Perahu karet yang dibawa dalam keadaan kempes, harus dipompa terlebih dahulu di titik start, sementara itu Mas Eboy menjelaskan cara memegang dayung dan cara duduk di perahu. Dijelaskan juga aba-aba untuk mendayung maju atau mundur, serta berpindah posisi kalau keadaan membutuhkan. Bila melewati jeram, maka penumpang harus berpegangan pada tali perahu. Mas Eboy menjelaskan bahwa yang paling penting jangan sampai panik bila melalui jeram yang ada di sungai. Kalau instruktur berteriak “Boom”, maka seluruh penumpang harus masuk kebagian tengah perahu. Selebihnya kami duduk di badan perahu karet yang tepinya berbentuk bulat.

Selesai penjelasan kami diminta untuk berdoa terlebih dahulu sebelum bersiap untuk memulai petualangan di sungai Pekalen. Secara bergurau Mas Eboy mengatakan bahwa sungai yang dalam bisa ada buaya. Kami semua tertawa mendengarnya, karena tentu saja Mas Eboy hanya bergurau. Tebing sungai di titik start sangat curam hampir mencapai 70-80 derajat dengan ketinggian sekitar 3-5 meter. Sehingga posisi titik start memang terkesan sudah cukup menegangkan. Maka kami pun mulailah menyusuri aliran sungai Pekalen yang berbatu-batu. Di titik start air cukup tenang, barulah mencapai kurang lebih 20 meter mulai ada jeram kecil dengan batu-batu besar menghadang di tengah sungai. Jeram pertama ini belum terasa menantang, karena perahu karet kami dengan mudah melaluinya. Bagi orang yang pertama kali hal itu memang sudah mengasyikkan. Perahu karet yang dipompa tidak terlalu keras mempunyai fleksibilitas yang cukup baik untuk menyesuaikan dengan batu-batu di sungai. Jadi meski ada celah yang agak sempit dan batu yang agak menghambat, dengan mendayung dan maka perahu bisa bergerak. Begitu pula pada saat perahu melalui bagian yang arusnya cukup deras dan kemudian perahu membentur batu, maka perahu akan sedikit melipat dan penumpang terbentur ke bagian perahu karet yang tidak keras. Ada satu jeram yang kami lewati cukup deras arusnya dan tiba-tiba perahu menghunjam batu di tebing sungai. Kami semua berteriak kegirangan karena melewati bagian yang menegangkan tetapi juga mengasyikkan.

Setiap jeram diberi nama oleh operator rafting, saya tidak ingat semua nama jeram tersebut. Ada jeram bidadari, jeram merkuri dan lain-lain. Mulai dari titik start sampai titik finish, ada sekitar 17-20 jeram besar dan kecil. Jeram yang paling menantang adalah jeram yang dinamai “Godbless” yang mempunyai tingkat tantangan “3 plus”. Ketinggian terjunan dijeram ini hampir mencapai kurang lebih 2 meter dengan batu-batu besar ditengah sungai. Setiap jeram kami lalui, kami berteriak karena memang ada “excitement” yang dirasakan, seperti merasakan suatu ketegangan dalam permainan. Adrenalin dipompa dan dinaikkan. Pada bagian pertengahan rute rafting, kami berhenti dan ditempat perhentian sudah disiapkan kelapa muda untuk diminum dan kue onde-onde dari singkong. Selepas menikmati air kelapa muda, kami diberi kesempatan untuk berenang dibagian sungai yang landai, dan mempunyai kedalaman yang cukup. Ada juga bagian sungai yang arusnya cukup tenang dan landai. Menurut instruktur Mas Eboy, ternyata ada bagian sungai Pekalen yang mempunyai kedalaman sampai 7 meter. Karena itu kami memutuskan untuk melakukan gaya “loncat indah” dibagian yang cukup dalam tersebut. Daniel, Patrick dan Felix bergantian melakukan lompatan.

Sungai Pekalen, dimanfaatkan juga oleh masyarakat sekitar untuk mendukung kehidupan mereka. Sepanjang alur sungai, kami menemui masyarakat yang mandi dan mencuci pakaian di sungai. Kami juga menemukan sepasang suami isteri yang memandikan kambing. Sudah barang tentu, memandikan kambing sangat sulit, karena kambing memang tidak suka air. Saya melihat sipetani dengan susah payah menarik kambing masuk kedalam air. Tidak terasa setelah melalui jeram yang cukup banyak itu, maka tidak terasa 2,5 jam kami menyusuri sungai, sampai juga di titik finish. Dengan seluruh pengalaman itu, mengarungi jeram sungai Pekalen menjadi suatu pengalaman yang menarik dan mengasyikkan.

4 thoughts on “Rafting di Sungai Pekalen

  1. Selaku operator/pengelola wisata arung jeram di sungai Pekalen, kami mengucapkan TERIMA KASIH telah berarung jeram di sungai Pekalen Probolinggo Jawa Timur dan itu berarti anda telah mencintai & menikmati kekayaan alam Indonesia.
    semoga pengalaman anda dapat menularkan ras kecintaan pada kekayaan alam indonesia kepada saudara kita yang lain.

    Terima kasih

    Bagus Tjahjono
    (031) 71453654 / 0817585446

    Like

  2. perkenalkan, nama saya Priscilla Bunga Apriliani, Mahasiswi Semester 2 UNIKA Soegijapranata Semarang. Saya anggota mapala di univ tsb.
    Mas, saya maw tanya dong..di pekalen sana ada sekolah khusus rafting gitu ga?
    thx for d information ya..

    Like

  3. @Pricilla: Waktu saya rafting di sungai Pekalen (mei 2007), saya dapat info bahwa kalau ada peminat, operatornya mau memberi pelatihan menjadi instruktur rafting.

    Sekarang, saya kurang tau, apakah sudah dibuka kesempatan untuk kursus instruktur rafting. Mungkin hubungi saja mas bagus Tjahjono (yan komentar diatas), barangkali mas Bagus bisa membantu.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s