Biofuel

Kampanye pemanfaatan biofuel semakin digalakkan baik oleh Pemerintah maupun oleh produsen BBM di Indonesia. Kenaikan harga minyak  menjadi salah satu alasan mengapa biofuel semakin dilirik sebagai alternatif “penghematan” secara global. Alasan pelestarian lingkungan, juga merupakan salah satu faktor digunakannya biofuel. Sebenarnya upaya pemanfaatan renewable energy  (energi terbarukan) seperti biofuel sudah lama dicanangkan, tetapi upaya sungguh-sungguh untuk  menyediakan di pasaran belum sepenuhnya dilaksanakan. Karena itu kampanye yang semakin gencar belakangan ini, patut menjadi perhatian.

Biofuel yang mulai disediakan dipasaran sesungguhnya adalah campuran antara BBM dengan etanol yang dipasaran saat ini dikenal sebagai bio-solar, bio-premium dan biopertamax. Diantara ketiga bahan bakar tersebut bio-solar yang telah lebih awal diperkenalkan kepada masyarakat khususnya di Jabodetabek dan Surabaya dan sekitarnya.  Sementara bio premium, sampai saat  ini baru disediakan di Malang, Jawa Timur. Yang baru saja dilaunching pada 11 Juni 2007 di Surabaya dan Malang adalah bio-pertamax.

Penggunaan biopertamax dapat menaikkan nilai oktan bahan bakar sampai mencapai 91, bahkan secara teoritis dikatakan bisa mencapai nilai 92. Sementara nilai oktan premium hanya 88. Dengan nilai oktan sampai 91, maka pembakaran dalam mesin kendaraan lebih sempurna, sehingga emisi gas buangnya menjadi lebih rendah. Dengan pembakaran yang lebih baik tentu performa kendaraan menjadi lebih tinggi sekaligus pada saat yang bersamaan mengurangi emisi gas buang. Korelasi antara performa mesin, jenis bahan bakar dan sistem pembakaran dalam mesin memerlukan perhitungan akurat. Untuk ini ahli otomotif mempunyai formula dan metodologi perhitungan. Dari segi pencemaran lingkungan hidup, yang diutamakan adalah kendaraaan dengan emisi gas buang rendah. Semakin rendah emisi gas buang, maka semakin baik kendaraan. Karena itu penggunaan bahan bakar bersih menjadi tuntutan kebutuhan untuk mengurangi polusi udara.

Saat ini kandungan etanol yang dicampurkan ke BBM berkisar antara 3% sampai 5%, sehingga biofuel sesungguhnya masih didominasi oleh BBM. Pertamina sebagai pemasok BBM memilih komposisi ini dengan harapan bahwa penambahan etanol sampai dengan 5% belum memerlukan modifikasi pada mesin kendaraan. Bila mesin kendaraan harus dimodifikasi, tentu akan ada biaya tambahan bagi pemilik kendaraan, dan biaya tambahan tersebut dikuatirkan bisa mengakibatkan sosialisasi pemakaian biofuel  mengalami hambatan. Karena itulah strategi pemasaran biofuel dipilih secara bertahap yaitu pada awalnya tanpa perlu melakukan modifikasi mesin kendaraan.  Secara teoritis campuran etanol dapat ditolerir sampai 10% tanpa harus melakukan modifikasi pada mesin. Tetapi bila kandungan etanol sudah lebih dari 10 persen, maka mesin kendaraan mutlak memerlukan modifikasi untuk mendapatkan efisiensi yang diinginkan. Di Brazil, negara yang pemanfaatan biofuel sudah sangat maju, kandungan etanol dalam bahan bakar yang dijual kepada masyarakat konon sudah mencapai 60% – 70%. Karena itu mesin kendaraannya sudah disesuaikan dengan kandungan etanol yang demikian.

Untuk keberlanjutan pemanfaatan biofuel, yang perlu dicermati adalah kesiapan industri hulu. Pengadaan etanol sampai saat ini masih belum sistematis dan didukung oleh infrastruktur yang memadai. Etanol yang bisa dihasilkan dari tebu, singkong dan jarak masih belum sepenuhnya menjamin kelancaran ketersediaan etanol dalam skala besar. Meski pemerintah sudah membentuk semacam tim ad-hoc dipusa untuk mempercepat ketersediaan etanol untuk campuran BBM, tatapi perangkat pendukung dan legal supportnya masih perlu dibenahi. Karena itu strategi pemakaian etanol secara bertahap memang pilihan rasional untuk saat ini.

Struktur harga BBM yang masih bersubsidi juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pemasaran biofuel. Berdasarkan hitungan Pertamina, biaya produksi  bioetanol masih pada kisaran Rp. 6.500 sampai Rp. 7.000 per liter. Hitungan Pertamina itu memang masih perlu diklarifikasi seakurat mungkin. Sementara harga jual bio-premium masih Rp. 4.500 (sama dengan harga premium biasa). Harga jual bio-pertamax di kisaran Rp. 6.600 per liter memang sudah mendekati biaya produksi biofuel. Maka kebijakan dan struktur harga BBM Indonesia juga perlu dibenahi agar keberlanjutan biofuel bisa terlaksana.

4 thoughts on “Biofuel

  1. Teringatnya minggu lalu pulang kampung ke DoSa oppung, terjadi kelangkaan Gas Elpiji besar2an. Bayangkan katanya sudah 3 minggu pasokan Elpiji dari Pertamina tak masuk ke DoSa yang notabene sekarang menyandang predikat Ibukota Kabupaten. Hal ini memaksa penduduk kembali menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah untuk kebutuhan sehari2. Sudah terbiasa efisien menggunakan elpiji, sekarang harus kembali meniup2 dan martimus2 menggunakan kompor. Padahal katanya “Pertamina On The Move”.. Ternyata hanya di kota besar saja (dimana ada saingan Shell sama Petronas) move-nya kelihatan (Tentunya selain ganti logo ya hehehe)..

    Berhubungan dengan biofuel ini, apakah bahan bakar ramah lingkungan ini sudah sepenuhnya ramah ? Dan apakah hanya dicanangkan untuk bahan bakar minyak (BBM) ? Bagaimana dengan Bahan Bakar semacam elpiji ini ? Bahas dong oppung ttg bahan bakar alternatif yang lain🙂

    Like

  2. Kalau soal ketersediaan pasokan, mungkin saja itu karena memang barangnya (Elpiji) memang sedang habis stok, atau mungkin ada permainan orang untuk mengeruk keuntungan (karena harga dinaikkan). Untuk hal beginian, saya tidak punya kompetensi mengomentari. Kompetensi saya yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan.

    Lain kali saya akan coba bahas masalah BBG dari segi lingkungan ya, dan mungkin enerji terbarukan (renewable energy) yang lain.

    Like

  3. gimana cara buat biofuel ? apa ada kompor ato mesinnya yang bisa dipakai buat satuan/per keluarga ??

    Like

  4. Prinsipnya bisa, mungkin pernah dengar/baca, bagaimana peternak didesa menggunakan kotoran sapi yang diolah untuk mendapatkan gas metan, kemudian digunakan untuk memasak. Saya juga pernah baca koran (lupa dimana dan kapan), dimana tinja dari septik tank, diolah menjadi gas metan dan juga digunakan untuk keperluan sehari-hari.

    Secara komersil untuk kebutuhan perkeluarga dalam bentuk kompor rasanya belum ada yang dipasarkan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s