Deklarasi Bogor

Untuk menyongsong pertemuan COP 13 UNFCCC di Bali Bulan Desember 2007, Kementerian Lingkungan hidup bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor dan ICLEI Australia-Oceania mengadakan workshop dengan topik “Kebijakan Lokal untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dalam Mengendalikan Perubahan Iklim Akibat Pemanasan Global”. Workshop dilaksanakan tanggal 2-3 Juli 2007 dan diikuti oleh 30 kota di Indonesia dan peserta dari Bogor yang terdiri dari unsur Pemerintah Bogor dan unsur perguruan tinggi di Bogor.

Sejumlah pengalaman dari kota Bogor, Surabaya, Yogyakarta dan Balikpapan dipresentasikan dalam workshop. Sebelumnya  acara dibuka dengan pidato kunci (keynote speech) dari Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar. Dalam pidatonya Rachmat Witoelar menekankan bahwa pemanasan global sudah membawa dampak yang nyata kepada dunia tidak hanya dinegara-negara maju bahkan juga di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pak Rahmat menyampaikan beberapa informasi bahwa permukaan es di kutub Utara sudah berkurang dan telah jadi patahan-patahan es yang sebelumnya tidak pernah terjadi.  Banyak informasi dan perkembangan terbaru yang disampaikan oleh pak Rachmat, serta pengalamannya sewaktu menjadi Presiden UNEP.

Kota Surabaya mempresentasikan upaya yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan seperti upaya pengelolaan sampah berbasis komunitas. Dengan sistem ini masyarakat melakukan pemilahan sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos dengan metoda Takakura maupun metoda lainnya. Sementara sampah anorganik yang bisa dimanfaatkan di daur ulang untuk mendapatkan penhasilan tambahan bagi masyarakat. Upaya penyebarluasan sistem komposting di masyarakat akan diupayakan dengan program CDM. Dimana sudah akan segera dimulai dengan penyusunan PIN (Project Identification Note). Dengan pelaksanaan dengan CDM selain mendapatkan tambahan investasi, tetapi program ini juga sekaligus untuk mendapatkan apresiasi yang luas dari berbagai pihak.

Paparan Surabaya yang lain adalah upaya peningkatan sistem transportasi perkotaan dengan implementasi sistim BRT (Bus Rapid Transit) yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2009. Pada tahun 2007 Pemerintah Kota Surabaya melengkapi studi-studi pendukung BRT dan design infrastruktur sehingga konstruksi infrastruktur dapat dilaksanakan pada tahun 2008. Selain BRT dijelaskan juga pembangunan pedestrian di kawasan pusat kota disekitar Jalan Basuki Rahmat, Tunjungan dan Jalan Pemuda. Dengan pedestrian ini diharapkan pejalan kaki lebih nyaman berjalan kaki di pusat kota dan tidak memerlukan angkutan kendaraan bermotor.

Selain pemaparan pengalaman kota-kota, sejumlah tanaga hali dari ITB, Universitas Pakuan dan dari PLN menyampaikan paparan dari penelitian dan perspektif masing-masing khususnya yang berkaitan dengan gas rumah kaca.  ITB melalui Dr. Driejana menjelaskan pengamatan TPA di Bandung sebagai penghasil gas methan. Universitas Pakuan menjelaskan upaya-upaya penghematan pemanfaatan energi pada bangunan. Salah seorang staf PLN menjelaskan kondisi PLN saat ini yang sering mengalami shortage meski coverage pelayanan belum mencapai seluruh masyarakat Indonesia. Karena itu PLN sedang giat-giatnya melakukan kampanye pengematan energi pada industri dan rumah tangga. Saat ini sumber energi pembangkitan PLN menggunakan BBM dan batu bara dan mencapai 70% dari total produksi.  Karena itu PLN termasuk kontributor emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia.

Peserta workshop sepakat untuk menyusun suatu komitmen untuk mengambil langkah-langkah mengantisipasi pemanasan global sekaligus dan mengatasi dampaknya. Komitmen yang dituangkan dalam dokumen yang disebut dengan “Deklarasi Bogor”. Secara umum deklarasi Bogor memuat antara lain:

1. Mengupayakan pengurangan emisi gas rumah kaca di tingkat korporasi dan komunitas sesuai dengan semangat good governance dan kemampuan sumber daya yang dimiliki melalui peningkatan efisiensi pemakaian energi, pemanfaatan energi terbarukan, penataan sistem transportasi, penanganan sampah dan upaya lainnya, untuk mendukung pembangunan berkelanjutan;
2. Mengkoordinasikan, melaksanakan dan menyebarluaskan agenda tindak lanjut dari Deklarasi ini untuk mengurangi dampak pemanasan global secara konsisten.

Untuk menindaklanjuti deklarasi tersebut disepakati disusun agenda dan komitmen kota-kota dalam rangka mengantisipasi dampak negatif pemanasan global dan perubahan iklim, serta mengajak seluruh lapisan masyarakat perkotaan Indonesia untuk :
a. Melakukan inventarisasi dan prediksi emisi gas rumah kaca;
b. Menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca;
c. Membuat rencana pengurangan emisi gas rumah kaca;
d. Melaksanakan kegiatan pengurangan emisi gas rumah kaca dan;
e. Membuat laporan pelaksanaan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Dengan deklarasi ini kota-kota diharapkan akan segera mengoperasionalkan dalam kegiatan tahunan. Waktu yang akan menunjukkan seberapa jauh kota-kota akan bisa mengukur dirinya sendiri dalam mengantisipasi dampak gas rumah kaca.

One thought on “Deklarasi Bogor

  1. Salam kenal Pak Togar. Mo nanya. Apakah Kota Surabaya sudah menginventarisasi dan menghitung emisi CO2nya? Software apa yang digunakan? Berapa persen target pengurangan emisinya?

    Thanks.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s