Insentif Mobil Ramah Lingkungan

“Pemerintah akan mengkaji untuk memberikan insentif bagi mobil ramah Lingkungan”, begitu pernyataan Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian, Budi Darmadi. Pengertian mobil ramah lingkungan juga akan dikaji. Pernyataan itu menanggapi pidato Presiden SBY pada pameran mobil di Jakarta 19 Juli 2007 sebagaimana dikutip oleh berbagai media. Sebenarnya selain mengkaji dan memberlakukan insentif, yang penting juga adalah memberlakukan dis-insentif bagi kendaraan yang tidak ramah lingkungan.

Untuk mendorong upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup, perlu diambil langkah-langkah konsisten disemua lini termasuk pada bidang otomotif. Kontribusi bidang otomotif dalam peningkatan gas rumah kaca (GRK) sangat besar karena emisi gas buang otomotif merupakan sumber penyebab gas rumah kaca.

Pengembangan teknologi otomotif yang ramah lingkungan sebenarnya merupakan keharusan yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Di negara-negara maju dan negara yang sangat peduli lingkungan, pengembangan teknologi otomotif ramah lingkungan merupakan keharusan. Masalahnya adalah bahwa negara-negara maju itu selama ini mempunyai pabrik otomotif yang masih mempunyai teknologi lama yang tidak ramah lingkungan. Mesin-mesin itu secara teknis masih dapat berproduksi dengan baik, sehingga adalah sangat sayang kalau kemudian mesin-mesin pembuat kendaraan itu dibuang begitu saja.  Tetapi karena peraturan di negara maju mengharuskan menggunakan teknologi ramah lingkungan, maka negara-negara maju mau tidak mau harus tunduk pada aturan.  Lalu para industriawan otomotif itu melempar pabrik otomotif yang tidak ramah lingkungan itu ke negara-negara yang pelaksanaan aturan Lingkungannya sangat longgar, termasuk Indonesia.

Para insudtriawan negara maju itu masih bisa meraup untung dengan memindahkan pabriknya ke negara-negara berkembang. Lalu kemudian kita yang di Indonesia ini yang akan menerima dampak lingkungan dari pemindahan itu. Dengan berbagai alasan termasuk pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja, Indonesia menerima saja limbah teknologi dari negara maju. Kita kemudian baru melakukan kajian untuk memberikan insentif kalau industriawan mau mewujudkan “mobil ramah lingkungan”.

Karena dari tempat asalnya pabrik-pabrik itu sesungguhnya sudah limbah teknologi, ya, di bolak-balik ya tetap saja tidak ramah lingkungan. Kalau kemudian terminologi ramah lingkungan yang ikut dikaji (sebenarnya sudah jelas kriterianya), dikuatirkan yang terjadi adalah justifikasi terminologi, seolah-olah limbah teknologi itu ramah lingkungan padahal sebenarnya tidak. Hal ini betul-betul harus dicermati.

Dis-insentif terhadap otomotif yang tidak ramah lingkungan perlu diberlakukan secara konsisten. Otomotif setiap saat menimbun limbah yang dampaknya mencakup banyak orang. Resiko kerugiannya semakin hari semakin menumpuk, beban untuk menanggulangi dampak limbah itu semakin membebani masyarakat. Karena itu perlu pemberlakuan disinsentif yang didukung oleh peraturan perundangan yang dilakukan secara konsekwen.  Instrumen pemberlakuan ini harus disiapkan dan dapat dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat.

Supaya disinsentif dapat dilaksanakan dengan baik, maka diperlukan pemahaman dari semua stakeholder. Diperlukan edukasi publik bagaimana memberlakukan disinsentif itu.

Lingkungan semakin rusak, perlu upaya bersama untuk menanggulanginya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s