Air Limbah Rumah Tangga/Perkotaan

Mengembangkan sistem air limbah perkotaan yang memadai di Indonesia adalah memerlukan kerja keras luar biasa. Berbagai alasan bisa dikemukakan mengapa air limbah rumah tangga belum dikelola dengan baik dan benar. Apapun alasannya kebutuhan akan penataan air limbah perkotaan semakin hari semakin mendesak. Terlambat menyiapkan sistemnya, maka generasi mendatang akan membayar sangat mahal akibatnya.

Air limbah rumah tangga harus diolah sebelum dibuang ke badan air. Perlunya pengolahan itu karena alasan yang sudah dikemukakan pada Mau kemana lingkungan Surabaya. Pengolahan skala perkotaan idealnya menggunakan sistim perpipaan dimana setiap bangunan disambung dengan jaringan pipa, yang kemudian limbah dikumpulkan untuk diolah di instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Analoginya adalah seperti kebalikan dari jaringan perpipaan PDAM. Kalau PDAM mendistribusikan air ke rumah-rumah melalui pipa, maka sistem air limbah mengumpul dari rumah-rumah, menampung limbah dan kemudian diolah di IPAL. Perbedaanya adalah bahwa pipa PDAM ke rumah ( sambungan rumah, SR) biasanya berukuran 1 inci. Tetapi pipa SR untuk air limbah paling tidak harus berukuran 4 inci. Maka bisa difahami bahwa biaya investasi air limbah jauh lebih besar katimbang investasi air minum.

Demikian juga biaya operasi dan pemeliharaan air limbah umumnya lebih besar dari biaya air minum. Padahal bagi masyarakat awam, selama ini nyaris tidak pernah membayar untuk air limbah kecuali untuk biaya pengurasan septik tank. Jadi kalau masyarakat pelanggan air minum membayar kepada PDAM, maka seharusnya masyarakat juga membayar untuk pengelolaan air limbah.

Sistim air limbah yang menggunakan perpipaan adalah suatu yang diinginkan. Untuk mencapai kondisi itu memerlukan kerja dan kemauan yang sangat keras dari semua stakeholder kota. Untuk mencapai kondisi yang diinginkan seperti diatas, harus dimulai dari kondisi realitas kota saat ini. Sebab kalau tidak , maka sangat sulit untuk mencapai cita-cita untuk mempunyai sistim air limbah perkotaan yang baik. Kondisi saat ini dari segi biaya, masyarakat pada umumnya tidak membayar untuk air limbah, pada kondisi yang akan datang, kita harus membayar. Sekarang sistemnya setempat, nanti sistimnya terpusat. Karena itu untuk menuju sistim yang akan datang harus dikaji secara mendalam semua aspek yang harus disiapkan untuk pelaksanaan sistim air limbah.

Untuk Surabaya kajian itu sudah pernah dilakukan pada tahun 1996, tetapi setelah itu tidak ada realisasi. Tentu saja faktor-faktor yang dikaji pada tahun 1996 sudah banyak yang berubah dengan kondisi 2007, karena itu kajiannya perlu direvisi dan dievaluasi. Kadang-kadang orang tidak sabar dan mempertanyakan kenapa harus dikaji ulang. Tapi mengingat investasi yang dibutuhkan sangat besar dan melibatkan kepentingan banyak orang, maka diperlukan kajian sehingga pelaksanaannya secara teknis dan administratif dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanyaan yang kemudian timbul, kapan kita bisa mulai punya sistim pengelolaan air limbah rumah tangga. Waktu, uang, pemikiran, tenaga dan kemauan yang luar biasa besar dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Sekedar membandingkan, kota Kitakyushu yang menjadi partner Surabaya, sudah melayani 99,98 persen penduduknya dengan sistim jaringan air limbah terpusat. Penduduknya berjumlah kurang lebih 997.000 jiwa. Surabaya melayani penduduk lebih dari 4 juta jiwa di siang hari dan 3 juta pada malam hari.

6 thoughts on “Air Limbah Rumah Tangga/Perkotaan

  1. kota kawasan terpadu di indonesia pun, limbah rumah tangganya belum dikelola terpusat ya (masih septic tank, kalau saya salah)
    ..sebatas air limbah industrinya saja yang dikelola terpadu.
    itu setau saya, kalau tidak salah waktu kunjungan ke cikarang

    di kuliah belajar tentang air bersih yang konkritnya adalah PDAM,
    sedangkan soal air buangan domestiknya..hmmm..belum ada ceritanya deh..
    kalau limbah industri sih, kalau di kawasan industri, sudah ada instalasinya..

    long way to go yah

    Like

  2. investasinya masih ke gede an, duitnya gak ada
    duitnya masih dipake untuk kegiatan dasar
    kayaknye sampe gue meninggal PDRB kita masih kecil
    kecuali korupsi di pangkas
    tapi mangkas korupsi, Peg Negeri bisa bubar
    gitu bang togar
    Gak tau prioritas perbaikan WATSAN kita gimana dengan duit APBN yang cuma segitu

    Like

  3. MMMM…… emang siih kalo limbah rumah tangga, apaun jenisnya entah itu “grey water” maupun “black water” kalo ga di pikirkan pengelolaannya sejak dini akibatnya sangat fatal. Untungnya dibeberapa daerah hal itu sudah dipikirkan dan sisitem pengelolaannyapun telah direncanakan yaitu dengan Instalasi Pengolahan Air Limabh (IPAL) rumah tangga. Bila sisitem pengeloaan ini berjalan sesuai dengan rencana, maka permasalahn air limbah rumah tangga akan sedikit teratasi. Dengan jaringan pipa yang dirancang seperti jaringan pipa PDAM, menuju satu titik lokasi IPAL.

    Like

  4. bos, ada pengalaman soal penanganan limbah perkotaan di indonesia? tolong share pengalamannya melalui email saja ya bos.

    Terima kasih.

    Like

  5. Sekedar wacana saja..
    ternyata di malaysia , pemerintah sendiri pun memilki perusahaan IPAL domestik untuk rakyatnya..

    rakyat membayar iuran per blan..lumayan..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s