Padang Cuisine; Environmentally Sustainable

Ditengah kegiatan mengikuti Seminar AP-Network di Bangkok, sambil makan malam kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Peserta dari Jepang menceritakan pengalamannya sewaktu pertama kali mengunjungi restoran Padang di Jakarta. Dia bercerita bagaimana dia shock setengah mati ketika makan di restoran Padang tersebut.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, memasuki suatu restoran Padang barangkali yang terpikir adalah rendang, ayam pop atau sambal hijau yang menggoyang lidah. Lain halnya bagi dua orang Jepang yang karena ingin tau masakan Indonesia kemudian memutuskan untuk mengunjungi restoran Padang. Keduanya diberitahu kalau restoran Padang adalah restoran yang khas Indonesia dan terdapat di hampir seluruh Indonesia.  Mereka berdua tanpa didampingi pemandu langsung menuju sebuah restoran Padang tidak jauh dari hotelnya.

Sebagaimana biasanya restoran Padang, begitu tamu duduk, pelayan langsung datang membawa sejumlah makanan yang dibawa bersusun dan langsung diletakkan di depan tamu restoran hingga seluruh mejanya penuh dengan piring berisi lauk-pauk ala restoran Padang. Si kawan Jepang sangat kaget luar biasa, karena dia merasa belum memesan apapun, tapi sudah dihidangkan belasan jenis makanan. Dia berpikir dia tidak akan bisa membayar makanan sebanyak itu karena ia tidak membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Kebiasaan yang dia tau dibanyak belahan dunia adalah kalau ia masuk suatu restoran, pelayan akan menawarkan pilihan menu, baru kemudian makanan dihidangkan. Karena itu ia benar-benar shock ketika pelayan sudah menyediakan makanan yang sangat banyak sebelum ia memesan apapun. 

Ditengah kebingungannya ia mulai bertanya mengapa pelayan langsung meletakkan begitu banyak makanan. Pelayan restoran yang tidak bisa berbahasa Inggeris menjelaskan dengan gerakan tangan dan tubuh, sampai akhirnya si tamu Jepang mulai mengerti bahwa dia tidak harus menikmati seluruh makanan itu dan ia hanya perlu membayar apa yang ia makan.  Si tamu Jepang masih tidak habis mengerti bahwa makanan yang tidak habis akan dihidangkan lagi kepada tamu restoran yang lain. Bagi dia makanan yang sudah dihidangkan di meja, bila tidak habis dimakan, maka itu akan dibuang. Tetapi di restoran Padang, tentu saja makanan yang tidak habis akan digunakan lagi untuk dihidangkan kepada tamu yang lain. Begitulah cerita si kawan Jepang.

Mendengar pengalaman si Jepang, seorang peserta seminar yang berasal dari Amerika juga surprise kalau makanan yang tidak habis akan dihidangkan kembali. Sebagai seorang environmentalist, dia mengatakan bahwa prinsip restoran Padang itu adalah prinsip penghematan lingkungan sehingga ia mengatakan kalau restoran Padang adalah restoran yang ramah lingkungan dan mempunyai prinsip sustainable concern. Karena itu ia menyatakan salut akan prinsip penghematan yang dilakukan oleh restoran Padang.

Ada-ada saja.

Anda setuju kalau disebut restoran Padang sangat concern dengan penghematan lingkungan??.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s