Manila

Saya punya pengalaman khusus dengan kota Manila, Filipina. Pertama kali saya mengunjungi Manila secara kebetulan dan tanpa direncanakan pada tahun 1999. Pada kunjungan pertama itu saya juga sempat ikut dalam acara jamuan makan malam dimana Presiden Philippina Joseph Estrada hadir. Saya merasa acara makan malam dengan presiden Filipina itu sangat santai karena sama sekali tidak terkesan pengamanan yang ketat.

Untuk pertama kalinya saya diundang sebagai pembicara di tingkat internasional di Manila pada tahun 1999. Ketika itu seharusnya yang jadi pembicara adalah Prof. Johan Silas, tetapi karena kesibukan beliau, maka saya diusulkan menggantikan dan panitia di Manila setuju. (Terimakasih untuk Pak Johan Silas). Saya hanya diberi waktu beberapa hari untuk menyiapkan bahan paparan. Sebelumnya saya hanya pernah jadi pembicara dengan audiens Indonesia, jadi pemaparan ya dalam Bahasa Indonesia. Kali ini audiens adalah para peserta dari Philippine Cities Forum yaitu asosiasi kota-kota di Philippina. Maka paparan saya harus dalam bahasa Inggeris. Semula ketika ditawari jadi pembicara dalam forum Internasional saya agak kuatir juga, tapi saya pikir kalau tidak diterima, maka tidak akan pernah lagi diminta. Jadi saya maju terus.

Pengalaman jadi pembicara di Manila itu benar-benar punya kesan sendiri. Sebelumnya saya tidak pernah ke Manila. Sewaktu mau berangkat ternyata paspor saya masa berlakunya tinggal 3 bulan. Ketika saya cek-in di bandara Juanda Surabaya, maskapai penerbangan SQ tidak mengijinkan saya berangkat dengan paspor yang masa berlakunya hanya tinggal 3 bulan, katanya otoritas imigrasi Philippina tidak akan memperbolehkan masuk bagi pemegang paspor yang hanya berlaku 3 bulan. Dikuatirkan tidak akan kembali dari Manila. Saya jadi kelabakan karena sudah dijadwalkan untuk bicara hari Sabtu, dan tiket saya sudah ok untuk berangkat hari Kamis. Meski sudah saya jelaskan kepada petugas SQ bahwa saya punya tiket kembali pada hari minggunya dan saya tidak mungkin tinggal di Philipina karena saya punya pekerjaan di Surabaya. Petugas SQ tetap tidak mau memberi keringanan kecuali ada keterangan tertulis dari Panitia di Manila. Saya kemudian menelepon ke Panitia di Manila dan menjelaskan masalahnya. Karena waktu tidak memungkinkan, akhirnya saya tidak bisa berangkat hari Kamis itu. Tapi Panitia di Manila tetap berusaha agar saya bisa berangkat Jumat besoknya. Akhirnya Panitia di Manila menghubungi KBRI di Manila dan minta bantuan. Dan akhirnya ada fax dari Manila ke SQ di Surabaya yang memperbolehkan saya berangkat dengan jaminan dari KBRI Manila. Untungnya seat SQ hari Jumat besoknya masih tersedia baik dari Surabaya ke Singapore dan dari Singapore ke Manila. Maka jadilah saya berangkat hari Jumat, karena jadwal saya presentasi di Manila adalah hari Sabtu.

Rupanya masalahnya tidak cukup sampai disitu. Ketika terbang mendekati Manila dan sudah hampir mendarat, ada pengumuman dari pramugari bahwa pesawat akan mendarat menuggu klarifikasi dari ATC (Air Traffic Control) Manila. Setelah berputar-putar di atas Manila, kemudian ada pengumuman bahwa bandara ditutup selama beberapa jam karena ada perbaikan di runway, dan diputuskan bahwa pesawat akan diterbangkan ke Kaoshiung Taiwan, sampai airport Manila dibuka kembali. Maka pesawat kemudian ke Kaoshiung, kurang lebih 2 jam terbang dari Manila. Kami singgah di airport Kaoshiung hampir selama 2 jam sebelum berangkat kembali menuju Manila. Akhirnya sampai juga di airport Manila malam itu setelah cukup lama terbang. Ternyata saya dijemput Panitia Seminar dan seorang petugas KBRI dipintu keluar dari moncong airport sebelum ke pemeriksaan imigrasi. Dengan bantuan dari petugas KBRI akhirnya saya bisa melewati imigrasi meski masa berlaku paspor hanya 3 bulan. Jadinya saya seperti seorang pejabat diplomatik yang dijemput dengan fasilitas khusus, padahal pesawatnya juga terlambat hampir enam jam.

Yang konyol juga pada waktu itu adalah saya masih menggunakan slide dengan overhead projector. Panitia memang memberikan pilihan mau pakai OHP atau komputer, supaya panitia menyiapkan. Saya pikir ya saya gunakan slide OHP aja karena saya memang tidak punya laptop pada waktu itu. Taunya ketika sampai pada acara pemaparan, semua sudah pakai LCD dengan Power Point, jadilah saya satu-satunya pembicara dengan OHP. Malu juga sebagai pembicara dengan peralatan paling kuno.

Setelah prsentasi hari Sabtu itu, malamnya diadakan resepsi yang dihadiri oleh Presiden Philippina waktu itu, Joseph Estrada dengan mengambil tempat di hotel saya menginap. Saya memperhatikan persiapan di hotel itu, sejak sore nyaris tidak ada kesan tkhusus di hotel, seolah-olah bahwa kehadiran Presiden malam itu biasa saja. Dan memang sepanjang acara terkesan Presiden sangat santai. Acara berlangsung sampai sekitar jam 9, nyaris saya belum bergerak selain dari ruang seminar dan hotel. Minggu pagi jam 5 saya sudah harus chek-out karena harus pulang ke Surabaya jam 8 pagi dengan SQ. KArena itu saya nyaris tidak melihat kota Manila. Karena sampai di airport Jumat malam, kemudian seminar sepanjang Sabtu dari pagi sampai sore, makan malam dengan presiden Sabtu malamnya, Minggu pagi sudah ke airport. Itulah perjalanan saya pertama kalinya ke Manila.

Pengalaman saya yang pertama menjadi pembicara di tingkat internasional di kota Manila. Kemudian di tahun 2007 ini kembali Manila menjadi sesuatu yang khas bagi saya karena untuk pertama kalinnya juga saya diundang sebagai pembicara dengan audiens swasta. Setelah tahun 1999, saya sudah beberapa kali menjadi pembicara di berbagai workshop atau seminar internasional. Pada umumnya audiensnya adalah para personil publik atau dari lembaga pembangunan, bukan dari kalangan swasta. Kini saya diundang jadi pembicara dengan kalangan swasta, dan lagi-lagi Manila menjadi tempatnya. Karena itu Manila menjadi kota yang mempunyai kesan tersendiri bagi saya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s