Bangkok

Awal agustus kemarin saya ke Bangkok untuk seminar Climate Change. Sebagai pendatang tentu saya ingin melihat-lihat Bangkok. Karena ada teman dari Indonesia juga maka kami kemudian jalan bersama setelah selesai acara seminar. Sampailah kami ke Siam Square, sedang jalan diantara pertokoan, ada seorang wanita menanyai kami, saya pikir dia baik sekali, menanyai mau kemana dan menyarankan ke suatu tujuan serta membantu mencari tuk-tuk, dia sendiri tidak minta sesuatu imbalan. Awalnya kami rasanya merasa dibantu, tapi kemudian kami yakin dikerjain.

Sedang santai jalan di kawasan pertokoan Siam Square, entah dari mana datangnya seorang wanita Thai menanyai kami mau kemana. Medrilzam yang dari Bappenas bilang mau ke MBK cari souvenir, yaitu suatu mall yang dia sudah pernah datangi sebelumnya. Si wanita bilang ngapain ke MBK, disana barang-barang mahal sekali. Mending ke Petunam Market aja, semua souvenir ada disana dan murah lagi.

Pak Saiful yang dari Dept Kehutanan mau beli Thai silk, jadi dia bilang mau ke Jim Thompson, si wanita bilang kalau disitu sangat mahal. Hanya turis Eropa kaya saja yang ke Jim Thompson, lalu dia menyarankan ke Manhattan aja, disana kualitas bagus dan lebih murah lagi. Lalu si wanita menelepon ke Manhattan apakah buka. Tentu saja kami tidak tau apa yang dibicarakan di telepon, karena tidak satupun kami ngerti bahasa Thai. Lalu siwanita bilang sekarang ada diskon di Manhattan karena hari Jumat, jadi bisa dapat thai silk murah, sudah itu ke Petunam Market untuk cari souvenir. Lalu siwanita bilang, dia akan cari tuk-tuk dan menawar supaya tidak dibohongi, dia menambahkan, jangan naik taksi, karena mahal. Kami berempat ditambah Hari dari Bogor, mengiyakan saja dibawa ke supir tuk-tuk (sejenis Bajaj), lalu dia bilang ongkosnya 50 Baht, si sopir akan menunggu di Manhattan selama 1 jam dan kemudian membawa kami ke Petunam Market.

Kami pun dibawa sopir tuk-tuk berempat sempit-sempitan ke Manhattan, ternyata disana tidak ada diskon. Toko tekstil India itu malah bergaya seperti penjual di Glodok. Pak Saiful yang ditawari thai silk semula harga ditawarkan 900 Baht per meter, setelah hampir mau jadi, si India bilang dia salah, sebenarnya bahan itu harganya 1200 Baht, tapi karena dia terlanjur bilang 900, dia mau rugi asal Pak Saiful mau membeli. Karuan saja kami tak jadi beli apapun di Manhattan, karena merasa pedagangnya tidak fair.

Kami pun menuju Petunam Market dengan diantar oleh sopir tuk-tuk yang menunggu. Ternyata lokasi pasar ini ada diseberang Siam Square dibatasi sungai dan pertokoan Siam Center dan Paragon. Kami merasa dikerjain oleh si wanita karena dibawa mutar-mutar oleh tuk-tuk taunya masih dikawasan Siam Center juga.

Saya jadi ingat bahwa sebenarnya saya sudah pernah ke Petunam Market beberapa tahun lalu ketika ke Bangkok, tapi sudah lupa jalan kesana. Yang menyebalkan adalah si wanita yang berlagak membantu, tapi rasanya kami dibohongi. Mungkin dia sudah janjian dengan supir tuk-tuk, akan dapat komisi, karena kami semua tidak bisa bahasa Thai.

Ketika Pak Saiful akan ke Jim Thompson, kami di dekati lagi oleh seorang wanita yang sepertinya mau membantu menjelaskan bagaimana ke sana. Tapi kami sudah jera, jadi tidak mengacuhkan tawaran wanita itu. Kami naik taksi aja.

Kehati-hatian memang perlu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s