Larang Mobil Masuk Kota Sesuai Pelat Nomor

Jawa Pos, Rabu, 29 Agt 2007, (Khoiron Fadil)
Solusi Pintar Sao Paulo Atasi Kemacetan Lalu Lintas Kota

Jawa Pos mengakhiri kunjungan di tanah Brazil kemarin (28/8). Dua pekan tinggal di Sao Paulo, kota terbesar di Samba, banyak hal yang mungkin bisa menjadi masukan buat Surabaya. Salah satu di antaranya adalah cara mengatasi problem kemacetan di kota. SETELAH 15 kilometer meninggalkan Bandara Internasional Sao Paulo, Guarulhos (baca: Guarulus), tepatnya di perbatasan centro Sao Paulo, sekilas melempar pandang, kota terbesar ketiga di dunia (setelah New York dan Hongkong) itu mirip dengan Jakarta atau Surabaya.  Kalau siang udaranya panas. Suhu rata-rata bisa 25-30 derajat Celsius, meski malam berubah drastis hingga 10-5 derajat Celsius. Maklum, Sao Paulo sudah masuk kawasan Brazil Tengah. Iklimnya berbau subtropis dan tropis. Tapi, Brazil Utara berlokasi tepat di garis khatulistiwa. Iklimnya sama seperti Indonesia, tropis. Kemiripan kedua adalah banyak gelandangan. Puluhan orang sakit jiwa (gila) juga seenaknya berkeliaran di depan gedung-gedung megah nan tinggi di jalan-jalan protokol Sao Paulo. Ketiga, Kota Sao Paulo sangat padat. Penduduknya sekitar 19 juta, meski total area hampir tiga kali luas Jakarta atau delapan kali luas Surabaya.

Padatnya jumlah penduduk itu juga seiring dengan berjubelnya jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di kota bisnis terbesar di Brazil tersebut. Hampir semua jalan-jalan utama di Sao Paulo itu padat dengan mobil. Namun bedanya, kendaraan tersebut masih bisa berjalan. Sebab, jalan itu tidak macet total seperti Surabaya atau Jakarta ketika jam kerja atau pulang kerja. Meski kecepatan mobil tidak lebih dari 60-70 kilometer, para pengguna jalan utama Sao Paulo tersebut bisa tetap santai berkendara. Udara di Sao Paulo juga lebih sejuk.

Mau tahu rahasianya? Kalau Anda mengetahui jumlah pembeli roda empat di Sao Paulo, mungkin Anda tidak bisa membayangkan macetnya jantung bisnis Brazil tersebut. Dalam sehari, izin mobil baru yang dikeluarkan departemen perhubungan Sao Paulo mencapai 1.000-5.000 buah.  “Industri di Brazil sudah sangat maju. Pertumbuhan ekonomi sudah meningkat tajam. Wajar bila banyak yang mampu beli mobil baru dan bagus-bagus,” kata Daniel Camarco, editor TV Gazeta, stasiun televisi nasional di Brazil.

Tapi, Sao Paulo bisa mengatasi kemacetan. Salah satunya, pemerintah Kota Sao Paulo sudah mengatur jumlah peredaran mobil. Caranya adalah membatasi jumlah mobil yang masuk kawasan kota sesuai dengan pelat nomor. “Pemerintah kota dan polisi menyeleksi mobil yang masuk ke centro dari dua angka terakhir di pelat nomor. Mereka sudah punya daftar nomor mobil yang bisa masuk kota sesuai jumlah dua angka terakhir. Jadwalnya diurut sesuai hari,” jelas Marco Franco Marseis, pegawai pemerintah Kota Sao Paulo.

Misalnya? Jika dua angka terakhir di pelat nomor mobil dijumlah hasilnya satu hingga lima (10, 12, 31, 14, dan seterusnya), mobil itu dilarang masuk kota pada Senin. Selasa, polisi akan mencekal mobil yang masuk ke centro dengan pelat nomor dua angka terakhir yang berjumlah enam hingga sepuluh (33, 43, 52, 55, dan seterusnya).  Begitu seterusnya hingga Jumat. “Sabtu dan Minggu bebas masuk. Sebab, banyak perkantoran dan karyawan libur akhir pekan,” ujar Fabio Santos, personel polisi setempat. Menurut Fabio, aturan itu sudah diberlakukan tujuh tahun terakhir.

“Kalau melanggar, denda tilangnya sangat besar,” jelasnya. Berapa? Satu kali denda, lanjut dia, mencapai 170 real atau USD 100 atau Rp 950 ribu. “Tidak ada ampun. Polisi langsung menahan surat izin mengemudinya (SIM),” tuturnya. Aturan itu diberlakukan agar sebagian pemilik mobil bisa memanfaatkan kendaraan umum yang ada.  “Kami punya Metro (kereta bawah tanah) yang bagus dan jadwalnya banyak. Kalau tidak bawa mobil, mereka terpaksa naik itu dari rumah ke tempat kerja di kota. Begitu juga, warga yang tinggal di pusat. Mereka dilarang bawa mobil di kota saat gilirannya tiba. Tidak ada ampun, meski pejabat daerah sekalipun,” tambah Daniel.

“Tapi, pejabat kan punya mobil lebih dari satu, bisa ganti-ganti, tidak seperti kami,” candanya. Selain Metro, warga bisa memanfaatkan jasa bus dan taksi. “Bus di Sao Paulo juga punya jalan sendiri di kota, namanya busway. Sesama bus juga dilarang mendahului karena jalurnya hanya satu,” katanya. Sekadar catatan, jalur busway tersebut memang sangat mirip dengan Jakarta. Bahkan, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pernah belajar ke Brazil, terutama Sao Paulo, sebelum memutuskan untuk membangun busway di pusat Jakarta beberapa tahun lalu.

“Ide busway yang dilakukan Bang Yos (panggilan Sutiyoso) itu juga dari Sao Paulo. Saya yang mengantar beliau untuk melihat-lihat suasana dan pemerintah kota saat berkunjung di Sao Paulo,” ujar Hassan D., orang Indonesia yang kini menjadi warga Brazil sejak 1960-an. Selain penjadwalan pelat nomor, pemerintah kota dan polisi Sao Paulo menganakemaskan pemilik mobil. Maksudnya? Pengguna jalan harus mengalah kalau di perempatan jalan. “Kalau ada lampu hijau, mobil jalan, sedangkan pejalan kaki tidak boleh menyeberang. Kalau tertabrak, yang disalahkan bukan mobilnya, malah pejalan kaki,” ujar Daniel.

Kenapa? “Jalan harus bersih dari pejalan kaki biar tidak macet. Pejalan kaki juga harus patuh lalu lintas, menyeberang sesuai lampu hijau. Kalau melanggar, pengendara tidak segan-segan menabrak lho. Tradisi itu dilakukan orang-orang Sao Paulo beberapa tahun,” jelasnya.  Tidak pakai jembatan penyeberangan? Menurut Franco, jembatan dianggap tidak bagus buat keindahan kota. Karena itu, di sepanjang jalan utama Kota Sao Paulo nyaris tidak ditemukan jembatan penyeberangan. “Cross line diefektifkan. Pejalan kaki harus patuh pada aturan lalu lintas bila ingin menyeberang jalan,” paparnya.

Suasana sejuk di kota juga tidak lepas dari peran pemerintah Brazil. Selama 10 tahun terakhir, Negeri Samba tersebut menerapkan bahan bakar Alcool (Alkohol) yang dibuat dari olahan tebu. Harganya lebih murah daripada bensin (gasoline). Jika di Brazil harga bensin 2,4 real (Rp 15 ribu) per liter, Alcool dibanderol sekitar 1,2 real (Rp 6 ribu) per liter.  “Mobil-mobil di Brazil rata-rata pakai flex power. Bahan bakar ganda. Bisa dipakai bensin dan Alcool. Namun, sekarang banyak orang memilih Alcool karena jauh lebih murah meski agak boros,” jelas Franco. Keuntungan penggunaan Alcool itu langsung berimbas pada polusi udara di kota. “Meski ada jutaan mobil di Sao Paulo, udara tetap bersih. Asap Alcool bisa mencair di udara,” katanya.

Sekadar catatan, selain peternakan dan pertanian, Brazil adalah penghasil tebu terbesar di dunia. Karena itu, mereka memanfaatkan hasil tebu untuk menyuplai bahan bakar. “Kami punya banyak pabrik pengolah tebu menjadi bahan bakar Alcool. Negara kami sukses untuk itu,” jelasnya. Bagaimana dengan orang miskin atau gelandangan yang ada di kota? Menurut Daniel, pemerintah kota Brazil punya kebijakan prorakyat miskin. Mereka menyediakan beberapa restoran yang khusus untuk rakyat jelata. “Ada yang gratis dan harganya sangat murah. Restorannya ada tanda khusus. Bahkan, banyak restoran mewah atau kelas menengah yang diwajibkan untuk menyisihkan makanan tidak laku untuk orang miskin,” tandasnya. (*)

One thought on “Larang Mobil Masuk Kota Sesuai Pelat Nomor

  1. hallo sy ada rencana pergi ke sao paulo brazil,saya ingin bertanya masalah sewa rumah yang lengkap dengan fasilitas ac,tv,kasur disana sekitar berapa??? karena sy ada rencana tinggal disana selama 1 tahun..biaya hidup disana mahal gk? perjalanan kesana berapa lama dan cuaca disana panas ato gk ya..makasih jawabannya

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s