Menjaga Konservasi Surabaya Timur

Jawapos, Jumat, 07 Sept 2007,
Menjaga Daerah Konservasi Surabaya Timur

Oleh: Agoes Soegianto
HINGGA kini, pembangunan di kawasan Timur Surabaya dapat dikatakan relatif lambat jika dibandingkan kawasan Barat Surabaya. Penyebab utamanya adalah tidak adanya akses jalan yang memadai terdapat di kawasan Timur Surabaya. Namun, dalam waktu dekat, kawasan ini akan dibuka oleh pemerintah kota (pemkot) Surabaya.

Di kawasan tersebut, pemkot berencana membangun akses jalan (lingkar timur) yang pembangunannya diperkirakan selesai akhir 2008. Dengan terbukanya kawasan itu (sebagai akibat dibangunnya akses lingkar timur yang menghubungkan Bandara Juanda dan Jembatan Suramadu), muncul kekhawatiran terjadi perkembangan tanpa arah jika tanpa pengawasan.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya, terdapat lahan di kawasan Timur Surabaya yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Luasnya mencapai 1.500 hektar. Kawasan konservasi itu tentu bukan seperti yang dimaksud dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (untuk suaka alam, suaka margasatwa, cagar biosfer, taman nasional dan sejenisnya). Kawasan itu ditujukan untuk melindungi Kota Surabaya dari bencana banjir tahunan. Bentunya adalah wetland (lahan basah) yang berfungsi menampung air saat musim hujan agar bagian tengah Kota Surabaya terhindar dari bencana banjir. Lahan basah di kawasan itu berupa daerah pertambakan, atau kombinasi tambak dan vegetasi mangrove.

Jika pemkot Surabaya tidak mampu (tidak berhasil) mengontrol keberadaan kawasan konservasi itu, sudah pasti bencana banjir tahunan tidak dapat dihindarkan. Saat ini saja, dengan luas kawasan wetland yang mencapai 1.500 hektar, sebagian besar wilayah Kota Surabaya tidak luput dari bencana banjir jika hujan datang, apalagi dibarengi dengan pasang air laut. Bayangkan jika luas kawasan konservasi itu berkurang. Pasti banjir akan terjadi di sebagian besar kota Surabaya. Oleh karena itu, komitmen untuk tetap mempertahankan kawasan timur sebagai daerah konservasi harus dipegang kuat oleh pemkot Surabaya.

Bagi investor, pembukaan kawasan timur akan membuat mereka tergiur. Melihat kondisi ini, ia bagaikan makhluk hidup yang lapar lahan. Seperti halnya kawasan pantai di dunia, kawasan pantai Timur Surabaya bagi mereka merupakan lahan yang berharga untuk dikembangkan menjadi daerah industri, perdagangan, maritim dan pariwisata.

Jika kita perhatikan, hampir 60 persen penduduk dunia tinggal di kawasan pantai. Hampir sebagian besar kota besar di dunia terdapat di kawasan pesisir. Oleh karena itu, jika pemkot Surabaya terlena dan memberikan izin pengembangan kepada investor, dalam waktu sekejap kawasan itu dapat berubah dan berkembang menjadi kawasan industri, perdagangan, maupun maritim.

Pemkot Surabaya perlu terus menerus diingatkan tentang pentingnya menjaga kawasan timur sebagai kawasan konservasi. Sebab, berdasarkan pengalaman, pemkot Surabaya sangat tidak konsisten dengan tata ruang yang sudah dibuatnya sendiri. Lihat saja kawasan Jalan Raya Kertajaya, Raya Darmo, bahkan kawasan baru Raya Rungkut Asri yang semula merupakan permukiman. Kini, dareah itu telah berubah menjadi kawasan komersial tanpa mampu mencegahnya.

Kawasan wetland, yang saat ini sebagian besar berupa tambak ikan dan udang, memang bukan usaha yang menjanjikan bagi pemiliknya. Sebagai kawasan pertambakan, ia berada di daerah yang menampung berbagai jenis limbah dari hulu Kali Wonokromo dan Kali Surabaya yang padat dengan berbagai macam industri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di Surabaya masih banyak industri yang membuang limbah secara langsung ke Kali Surabaya. Padahal, air tersebut akan mengalir ke hilir dan menjadi sumber air tambak di kawasan timur.

Sebagian besar tambak di daerah tersebut hanya dikembangkan secara tradisional dan sebagai usaha sampingan dengan hasil yang kurang memuaskan. Tidak ada masyarakat yang mengusahakannya secara intensif karena memang terlalu mahal investasinya.

Jika kawasan status kawasan konservasi seluas 1.500 hektar tersebut adalah milik Pemkot Surabaya, tentu tidak akan timbul masalah dalam pengawasannya. Namun, jika status lahan tersebut adalah milik masyarakat atau perorangan, masalah akan timbul ketika pemkot memaksa kawasan tersebut tetap dipertahankan sebagai wetland. Apalagi kalau pemkot tidak mampu menjamin kualitas air sungai sebagai sumber air tambak mereka.

Sebagai pemilik tambak, masyarakat pasti tidak akan mau mempertahankan lahannya untuk kawasan tambak/konservasi, jika kelangsungan usaha pertambakannya tidak terjamin. Misalnya, karena kualitas air tetap buruk karena tingkat pencemaran tinggi. Lebih baik mereka menjualnya jika ada investor yang berminat. Sebab. uangnya dapat digunakan sebagai modal usaha kegiatan lainnya.

Adalah tidak manusiawi, jika pemkot memaksa masyarakat pemilik lahan di kawasan timur untuk tidak boleh diusahakan kebentuk kegiatan lain selain pertambakan karena kepentingannya sebagai lahan konservasi (sebagai penampung air hujan agar wilayah tengah kota tidak banjir). Jika pemkot tidak mampu membeli (mengganti rugi) seluruh lahan milik masyakarat yang nantinya difungsikan sebagai kawasan konservasi, pemkot harus mampu menjamin kualitas air sungai sebagai sumber air tambak yang tidak tercemar. Dengan demikian masyarakat tetap dapat mengusahakan lahannya sebagai daerah pertambakan sekaligus berfungsi sebagai daerah tampungan air saat musim hujan.

Atau pemkot dapat bekerjasama dengan investor untuk mengusahakan kawasan tersebut sebagai kawasan dengan kegiatan terbatas, dimana fungsi konservasi tetap berjalan. Kawasan terbatas yang paling mungkin dapat dikembangkan adalah pariwisata atau olahraga dengan lahan terbuka yang luas dan dikelilingi oleh beberapa danau yang berfungsi sebagai daerah penampungan air. Mudah-mudahan pemkot Surabaya mampu mengawasi pengembangan kawasan Timur Surabaya tetap sebagai kawasan konservasi.

Agoes Soegianto (soegiant@indo.net.id)
Guru Besar Biologi Lingkungan Universitas Airlangga

One thought on “Menjaga Konservasi Surabaya Timur

  1. Saya sangat berteima kasih atas kepedulian pak Agoes, tapi tetap saja masih ada kekuatiran yang besar dari sisi pelaksanaan konsep investasi yang berbasis pada kawasan dengan kegiatan terbatas, jadi hemat saya perlu adanya sebuah publikasi dan mobilisasi yang luas, kontinyu, dari semua kalangan, komponen masyarakat Surabaya bahkan sampai ketingkat RW / RT sehingga pelaksanaan pengembangan kawasan timur Surabaya tetap terkontrol secara melekat. Saya mengutarakan ini karena bebrapa hal yang saya amati sejak dulu adalah ini: pada saat pergantian pejabat kota yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut umumnya muncul penyimpangan yang seolah olah disengaja yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan kebanyak sektor. juga dibutuhkan ketegasan serta komitmen dari penyelenggara kota tercinta ini. Karena kawasan timur ada exit dari pada semua curahan air baik dari kota sekitar Surabaya juga dari Surabaya apa lagi pada saat musim hujan. Mari kita jaga kota kita tercinta Surabaya, terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s