Dinamika Warga Kota

Ada perkembangan menarik pada dinamika warga kota dalam beberapa tahun terakhir ini. Hampir disetiap aspek kehidupan, warga kota sangat giat menyampaikan aspirasi dan tuntutan kepada pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab untuk merealisasikan tuntutan warga tersebut. Bila ada warga yang merasa ada haknya yang harus dipertahankan, maka tuntutan akan kompensasi akan segara diminta dengan berbagai cara.

Adalah hak setiap orang untuk menuntut hak, hal itu dijamin oleh aturan dan kesepakatan. Atas dasar itulah kemudian warga kota akan  meminta pertanggungjawaban atas haknya.  Sejauh tuntutan hak itu disampaikan melalui mekanisme yang benar, hal itu sah-sah saja terjadi. Semua pihak harus menghormati proses penuntutan hak. Akan tetapi sering kali dijumpai bahwa proses penuntutan hak menyimpang dari cara-cara yang wajar.

Sebagai contoh, dalam suatu proses pembangunan pusat perbelanjaan di Surabaya, pada waktu proses penyusunan analisa dampak lingkungan, masyarakat meminta kompensasi apa yang disebut “hak privasi” yang berkurang. Sebelum pembangunan pusat perbelanjaan, bangunan di lokasi lahan pusat perbelanjaan dan kawasan sekitarnya adalah bangunan yang tidak bertingkat. Kawasan pusat perbelanjaan yang akan dibangun, nantinya merupakan bangunan bertingkat. Warga disekitar lokasi pusat perbelanjaan itu merasa bahwa nantinya “hak privasi” mereka akan berkurang karena kegiatan dilahan mereka akan terlihat dari ketinggian bangunan pusat perbelanjaan tersebut. Warga merasa akan ada yang mengintai mereka dari ketinggian bangunan. Merasa diintai itu dianggap mengurangi hak. Hak privasi yang berkurang itu dianggap sebagai dampak negatif dari pembangunan pusat perbelanjaan. Untuk itu mereka meminta kompensasi berupa uang.

Berdasarkan ketentuan analisis dampak lingkungan, pengembang berkewajiban untuk menanggulangi dampak yang timbul dari pembangunan pusat perbelanjaan.  Pengembang diwajibkan untuk melakukan upaya pengurangan dampak lingkungan yang timbul. Masalahnya adalah bagaimana merumuskan dampak hak privasi seperti yang disebut diatas. Bagaimana merumuskan jumlah dan kualitas dampak itu, dan yang lebih sulit lagi bagaimana menghitung nilai uang kompensasi dari dampak itu.

Yang juga menarik dalam penyampaian tuntutan masyarakat, khususnya  yang terkait Amdal adalah adanya peningkatan jenis dan kuantitas tuntutan dari proses Amdal yang satu dengan Amdal yang lainnya. Seolah ada benang merah yang menghubungkan tuntutan warga di suatu lokasi terhadap lokasi lainnya. Meski tidak dapat dibuktikan, seolah ada akumulasi tuntutan yang semakin meningkat dari suatu proses Amdal, ke proses Amdal berikutnya.

Dalam metologi Amdal yang ada, memang tidak secara tuntas aturan tentang proses menghitung dampak kerugian yang mungkin timbul dari suatu kegiatan. Belum ada suatu metoda yang cukup baik untuk menghitung kompensasi yang harus diberikan kepada pihak-pihak yang merasa mengalami dampak.  Dengan belum adanya metoda dan aturan main yang akurat seperti itu, proses menetapkan jumlah kompensasi menjadi sangat rawan. Masyarakat disekitar lokasi akan menyampaikan tuntutan kompensasi yang setinggi-tingginya, sementara pengembang  (pemrakarsa) akan mengininkan kompensasi seminimal mungkin. Menurut yang aturan Amdal kedua pihak harus berunding untuk menentukan kompensasi. Tetapi aturan dan pedoman untuk merundingkan kompensasi itu tidak tersedia.

Tidak adanya aturan perundingan itu bukan tidak difahami oleh pemerintah, hal itu juga merupakan perdebatan yang tidak kunjung selesai. Sejatinya dampak dari suatu kegiatan belum dapat ditetapkan secara akurat, karena itu pula akan menjadi sulit untuk menghitung nilai kompensasi dari dampaknya.  Perdefinisi dampak lingkungan memang adalah suatu hal yang bisa berkembang. Amdal adalah alat untukmemperkirakan dampak, tetapi untuk menghitung nilai kompensasi, Amdal bukan lah alat yang tepat untuk itu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s