Penyidikan

Di mintai keterangan oleh penyidik polisi atau kejaksaaan adalah pengalaman yang tidak enak. Meski hanya sebatas saksi dalam suatu kasus, menjalani penyidikan tetap bukan kegiatan yang diinginkan. Mungkin kebanyakan orang akan menghindari dari dimintai keterangan oleh penyidik.

Disidik di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur merupakan pengalaman pertama saya menghadapi pemeriksaan. Kapasitas saya pada penyidikan itu adalah sebagai saksi ahli dalam perkara pembebasan tanah Jolotundo. Dalam kasus itu saya dua kali menjalani pemeriksaan di Kejati dan satu kali menjadi saksi di Pengadilan. Dalam pemeriksaan, penyidik kejaksaaan memang cukup ramah dan baik. Saya ditanyakan berbagai pertanyaan tentang prosedur penganggaran sampai pencairan dana APBD untuk pembebasan lahan. Saya tidak tau apakah keterangan saya memberatkan atau meringankan tersangka pada kasus itu.

Pengalaman disidik oleh Kejaksaan Negeri Surabaya, juga pernah saya rasakan. Perkaranya tidak dapat diteruskan, saya hanya satu kali diperiksa. Fokus utama pertanyaan hanya berkisar pada informasi mengenai kasusnya. Dengan Polwiltabes Surabaya, saya punya pengalaman ketika ada pengaduan dari rekanan yang kalah dalam proses tender. Sipelapor merasa tidak puas atas keputusan panitia lelang dimana dia akhirnya kalah. Dua kali diperiksa Polwil, kasusnya juga tidak berlanjut. Pelapor memang tidak mempunyai dasar untuk menuntut menjadi pemenang tender. Tapi karena tidak puas, dia melaporkan ke polisi.

Baru-baru ini saya menjadi saksi yang diproses di Polda Jatim. Tiga kali saya diperiksa di Polda Jatim, kasusnya masih belum selesai sampai posting ini published. Penyidiknya berganti dari yang pertama sampai yang ketiga. Pertanyaan yang diajukan oleh penyidik pertama saya jawab dengan lancar, penyidik mengakui bahwa ia masih awam dalam hal Amdal, karena kasusnya adalah adanya laporan masyarakat yang menyatakan ada data yang palsu digunakan dalam proses Amdal. Karena penyidiknya awam dalam hal Amdal, maka pertanyaan penyidik saya kategorikan sebagai “pertanyaan standar” .

Tapi rupanya berita acara pemeriksaaan itu tidak memuaskan kolleganya, sehingga saya dipanggil dan disidik lagi oleh penyidik yang lain. Sesungguhnya saya menilai penyidik yang kedua ini juga kurang memahami prosedur penyusunan Amdal, hanya saja kelihatannya “jam terbang”nya sebagai penyidik sudah cukup tinggi sehingga pertanyaannya lebih tajam. Saya bahkan seolah digiring untuk mengikuti kemauannya sebagai penyidik. Saya tentu tidak mau digiring apalagi sampai terjebak keseleo lidah dalam menjawab. Ada pertanyaan yang menurut saya agak menjebak, tapi saya tidak mau menjawab pertanyaan itu secara langsung. Sehingga terkesan pertanyaannya tentang A, tapi jawaban saya tentang B. Meski A dan B memang bisa dikaitkan. Untuk sampai pada jawaban itupun saya dan penyidik sempat adu argumentasi cukup lama, dan saya bertahan pada jawaban semula.

Menjalani proses penyidikan menambah pemahaman saya bagaimana aparat penegak hukum bekerja. Latar belakang penyidik yang selalu ingin membawa suatu kasus untuk berhasil sampai proses pengadilan, kadan-kadang membuat kesan bahwa proses penyidikan sarat dengan unsur “jebakan”. Dalam berbagai perkara, banyak saksi yang kemudian mencabut pernyatannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Setelah menjalani beberapa proses pemeriksaan, saya bisa memahami mengapa seseorang kemudian mencabut pernyataanya dari BAP penyidik. Disisi lain bila penyidik tidak berhasil membawa suatu kasus sampai proses pengadilan, maka ada kesan bahwa sipenyidik tidak mempunyai kemampuan memproses suatu perkara.

Kondisi yang demikian terjadi dalam proses penyidikan, baik itu oleh Polri maupun Kejaksaan. Kalau proses penyidikan menjadi salah satu indikator untuk mengukur kinerja penyidik, maka subyektifitas proses hukum bisa-bisa menjadi kabur. Substansi kebenaran dalam hukum bisa bergeser. Kalau itu terjadi, maka akan ada yang menjadi korban dalam proses penyidikan itu. Orang yang kurang awas dalam hukum dan administrasi bisa terjebak dan mungkin akan mengalami kerugian.

One thought on “Penyidikan

  1. Setuju banget bang.. Kadang kita itu diarahkan agar kita keseleo lidah sehingga perkara yang tadinya tidak ada menjadi ada akibat ulah kita sendiri yang dijebak.. So waspadalah!!!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s