Alun-Alun Surabaya

Pada umumnya kota-kota lama di Jawa mempunyai alun-alun kota yang menjadi pusat orientasi kota. Perkembangan kota dimulai dari alun-alun, karena alun-alun merupakan pusat kegiatan masyarakat dan pemerintahan. Penataan ruang alun-alun kota mempunyai pola yang sama dimana biasanya ditengah alun-alun merupakan lapangan terbuka. Sekedar mengambil contoh lihatlah alun-alun kota Bandung, Semarang, Yogya, bahkan kota Sidoarjo. Lapangan di alun-alun biasanya dikelilingi bangunan-bangunan penting seperti balai kota (pusat pemerintahan), pendopo (kediaman Bupati/Walikota), mesjid dan biasanya sisi yang lain adalah pusat kegiatan perdagangan. Pola itu secara umum terdapat di kebanyakan kota di Jawa. Alun-alun Surabaya mempunyai varian pola yang sedikit berbeda.

Alun-alun kota Surabaya dimana ditengahnya terdapat langan Taman Surya, sampai saat ini masih mengikuti pola tata ruang kota-kota di Jawa. Di sisi Utara lapangan Taman Surya terdapat balai kota sebagai pusat pemerintahan kota. Di sebelah Timur terletak rumah dinas Walikota, dimana biasanya Walikota menerima tamu-tamu penting dan kegiatan kemasyarakatan. Di bagian Barat alun-alun terdapat perkantoran dan kegiatan perdagangan dan jasa. Sisi Selatan alun-alun kota Surabaya berdiri Gereja GPIB Maranatha. Kalau pada umumnya alun-alun kota di Jawa di salah satu bagian terdapat mesjid, maka di Surabaya, rumah ibadah yang terdapat di alun-alun kota adalah gereja.

Balai kota Surabaya menghadap ke Selatan, dimana tepat ditengah-tengahnya terdapat jalan lurus membentang ke Selatan sampai menuju kota Sidoarjo. Sehingga Balaikota terletak persis diujung Utara koridor jalan utama kota yang membentang dari Selatan. Posisi balaikota yang demikian semakin menegaskan bahwa Balaikota memang merupakan pusat kota. Kota Surabaya sejak awal berkembang dimulai dengan koridor utama Selatan-Utara sepanjang jalan A. Yani, Raya Darmo, Panglima Sudirman dan koridor berakhir di balaikota. Sampai saat ini koridor ini berkembang menjadi pusat kegiatan kota Surabaya.

Dibalik posisi strategis Balaikota Surabaya, ada hal lain yang menarik yang bisa dicermati. Kalau umumnya di alun-alun kota di Jawa terdapat mesjid sebagai bagian dari alun-alun, maka di Surabaya bagian alun-alun yang mencerminkan rumah ibadah adalah gereja GPIB Maranatha. Entah secara kebetulan alun-alun kota Surabaya dikelilingi oleh sejumlah gereja. Dalam radius sekitar 1 (satu) kilometer dari balaikota terdapat beberapa gereja dari berbagai denominasi. Dibagian Selatan Balai Kota, selain Gereja GPIB Maranatha, terdapat juga Gereja Bethany di sebelah gedung World Trade Center. Disebelah Barat balaikota terdapat Gereja Baptis di Jalan Jimerto dan Gereja Bethel di Jalan Genteng Kali. Sebelah Utara balaikota terdapat Gereja Gloria di Jalan Pacar, kemudian Gereja Bethel Indonesia Ambengan serta Gereja Sidang Jemaat Allah Eben Haezer di Jalan Ambengan. Sementara disebelah Timur balaikota terdapat 3 gereja yaitu Gereja Katolik Kristus Raja dan GKI di jalan Residen Sudirman serta di jalan Prof. Dr. Moestopo terdapat GKI Jawi Wetan, diseberang kantor PDAM Surabaya. Jadi terdapat 10 (sepuluh) gereja dalam radius kurang lebih satu kilometer dari gedung Balaikota Surabaya.

Keberadaan sejumlah gereja disekitar balaikota, seolah menegaskan bahwa eksistensi gereja di Surabaya sebenarnya sangat signifikan. Maka keberadaan gereja dan umat Kristiani di Surabaya secara statistik memang cukup baik. Sekarang saja DPRD Surabaya mempunyai 4 orang wakil dari Partai Damai Sejahtera.

5 thoughts on “Alun-Alun Surabaya

  1. Balaikota Surabaya memang terletak di “tusuk sate” begitu istilah orang. Jadi kalau diibaratkan, balai kota itu bisa “melihat” dengan jelas apa yang disekelilingnya.
    Kalau soal feng shui, aku pribadi tidak percaya, jadi gak bisa komentar.

    Like

  2. balaikota surabaya bukan tata kota jawa, tapi tata kota kolonial belanda pada tahun 1923. Jadi tidak heran kalau banyak gereja dan berbeda dengan tata kota di jawa.

    Like

  3. kalo mau ambil contoh yang menggunakan pola tata kota jawa, sebenarnya dulu Surabaya punya keraton dan alun2 di sekitarnya. tapi sekarang sudah lenyap karena dihancurkan oleh Daendels(kalo tidak salah)

    Like

  4. Menurut sejarah, alun alun Surabaya bukan di taman surya kini, melainkan di bank indonesia tugu pahlawan, dahulu disebut stadtuin (taman kota) dilengkapi lapangan dan gedung pertunjukan yang megah
    Tapi memang betul tata kotanya tidak sesuai tatanan jawa, sebelah selatan alun alun ada gd kejaksaan (paleis van justitie) yang kini menjadi tugu pahlawan, tenggara ada kantor gubernuran, utara ada regenthuis (rumah pejabat kota) yang kini jadi kantor pos, barat ada pasar turi, barat laut barulah terdapat gereja kelahiran st perawan maria (kathedral) dan masjid kemayoran (masjid agung)

    CMIIW

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s