Berbahasa Jawa di Dalian, China

Terletak dibagian Timur Laut Cina, kota Dalian, merupakan kota yang cukup besar dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa. Kota ini termasuk kota yang sangat cepat perkembangannya sebagaimaimana kota-kota di pantai Timur Cina setelah kebijakan ekonomi terbuka Cina. Terletak di tepi pantai dengan perbukitan dibagian belakang, Dalian menjadi kota yang sesungguhnya sangat ideal untuk dikembangkan. Pelabuhan laut Dalian termasuk pelabuhan sibuk, hal ini terlihat dari volume cargo yang ditangani sudah cukup besar mencapai hampir 10 juta TEU per tahun. (bandingkan dengan Surabaya yang hanya 1,7 juta TEU pertahun).

Dalian merupakan kota metropolitan yang sudah maju, dimana-mana terdapat gedung pencakar langit yang cukup tinggi. Jalan-jalan cukup lebar membelah kota dengan lalu lintas yang cukup ramai. Konperensi 7th Eastern Asian Society for Transportation Studies 2007 yang saya ikuti dilaksanakan di Dalian Maritime University. Sayang saya tidak punya banyak waktu menjelajahi kota karena waktu yang sangat terbatas. Ketika ada sedikit waktu sore setelah konferensi, saya sempatkan ke pusat kota dikawasan Victory Plaza. Dikelilingi gedung pencakar langit, tempat ini adalah terminal angkutan kota untuk bus kota dan bus antar kota. Dibawah terminal terdapat toko-toko yang menawarkan berbagai jenis barang, mulai dari mainan anak-anak, pakaian sampai souvenir khas Cina. Pertokoan terdiri dari 3 lantai dibawah terminal kota, jadi cukup banyak pedagang yang bisa ditampung.

Dipertokoan basement Victory Plaza banyak barang-barang tiruan merk terkenal dijual, parfum, tas, sepatu dan berbagai kebutuhan lainnya. Saya bersama Prof. Danang dari UGM mencoba mencari sesuatu untuk souvenir dari Dalian. Akan tetapi karena pedagang nyaris tidak bisa berbahasa Inggeris, jadi kami menawar menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa saja. Sebab menggunakan Bahasa Inggeris dan Bahasa Jawa sama saja, si pedagang tidak mengerti, dan tentu saja saya juga tidak bisa berbahasa Cina. Sambil menunjuk dan menggerakkan tangan suatu barang, saya katakan:
“Mbak, coba lihat yang itu”. Sipedagang lalu mengambilkan barang, sambil terus berbicara dalam Bahasa Cina yang saya tidak mengerti sama sekali.
“Sing iki hargane piro mbak?” saya bertanya.
Untuk menunjukkan harga yang diinginkan pedagang menggunakan kalkulator, begitu juga kalau saya menawar, saya minta kalkulator dan menekan angka-angka yang saya inginkan. Untung ada kalkulator untuk transaksi.

Harga tidak dicantumkan pada barang yang dipajang, jadi saya menawar setengah harga yang ditawarkan. Setelah dua-tiga kali pedagang minta naik, sementara saya tetap dengan minta setengah harga, akhirnya barang dilepas. Saya merasa harusnya menawar lebih rendah dari separuh harga. Mungkin harga yang sesungguhnya sudah dinaikkan ketika menawarkannya. Akhirnya saya ambil hiasan dinding sulaman bergambar panda seharga 80 Yuan. Ketika saya lihat-lihat etalase hiasan dinding panda dengan ukuran lebih kecil dari itu di airport Shanghai, harganya ternyata 175 Yuan. Jadi saya agak lega juga karena semula ketika di Dalian, saya merasa memeli terlalu mahal untuk hiasan dinding itu. 

3 thoughts on “Berbahasa Jawa di Dalian, China

  1. artikel bagus,sayang krn waktu anda terbatas jd kurang detil. Usul aja,lain waktu kl meliput kota2 di cina skalian dicritakan tingkat kebersihan air/udara, kerapian, kedisiplinan, kriminalitas, kemacetan dsb, biar jd perbandingan dgn di indo.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s