Sederhana yang tidak mudah

Seorang teman yang sudah beberapa tahun pensiun mampir ke kantor untuk ketemu kawan-kawan lama. Walau sebentar, saya sempat tanya tentang kegiatannya setelah pensiun. Dengan bangga dia cerita bahwa dia sangat enak setelah pensiun, karena anaknya sudah punya kegiatan sendiri, maka ia tinggal berdua saja dengan sang istri. Dengan uang pensiun sekitar Rp. 1,5 juta dia tidak perlu repot lagi, apalagi ia disibukkan menjaga kios air isi ulang di rumahnya. Sederhana, dia berkata dengan enteng.

Si teman tadi sebut saja Pak Udin, memang kelihatan masih sangat segar di usia yang sudah lebih 63 tahun, ia sudah lebih 7 tahun pensiun.
“Teman-teman ada banyak yang sudah sakit-sakitan, malah ada yang sudah “pergi”.
Pak Udin bercerita tentang teman-teman kantor yang sudah pensiun.
“Alhamdulillah, saya masih sehat saja, ini karena setelah pensiun saya rajin jalan pagi dan makan teratur”, Pak Udin menambahkan.
Pak Udin menceritakan bahwa ia berprinsip sederhana saja, apalagi setelah pensiun. Ketika anak pertama Pak Udin sudah mau berdiri sendiri, Pak Udin merasa perlu memberi sesuatu kepada anaknya. Lalu ia menjual rumahnya, hasil penjualan rumah itu ia gunakan untuk membeli dua buah rumah di lokasi yang agak dipinggir kota. Satu rumah untuk Pak Udin, satu lagi untuk anaknya yang pertama. Ketika anak kedua juga akan mandiri, dia jual lagi rumahnya lalu pindah ke tempat yang lebih pinggir kota lagi supaya bisa membeli dua rumah. Rumah yang satu diberi kepada anak kedua, dan rumah yang satu lagi untuk Pak Udin. Begitu seterusnya sampai anak ketiga, Pak Udin punya 3 anak.
“Sekarang saya sudah tidak punya tanggungan, cuma berdua dengan istri. Dengan uang pensiun Rp. 1,5 juta, saya sudah cukup. Enggak perlu pusing, sederhana saja”. Pak Udin melengkapi ceritanya.

Hidup memang harus disederhanakan, dibuat enteng supaya tidak menjadi beban pikiran. Pak Udin menjalani hidupnya dengan prinsip yang sederhana. Ya, sederhana, kata yang mudah, tetapi memerlukan kerja keras untuk menjalaninya. Kalau terbiasa menjalani hidup dengan prinsip dikejar target dan “dead line” maka kata sederhana menjadi sesuatu yang tidak mudah. Menjalani pola pikir seperti yang dilakoni Pak Udin menjadi sesuatu yang terasa mahal. Hidup “sederhana” memang sesuatu yang indah. Mahatma Gandhi menjalani kesederhanaanya dengan konsisten. Meniru kesederhanaan yang seperti itu membutuhkan kerja keras. Selain untuk merubah pola pikir, tetapi juga untuk menjalaninya secara konsisten.

Konon itulah yang harus dilakukan, menyederhanakan hidup, agar bisa menikmatinya dengan gembira dan sehat. Siapa yang tidak mau menjalani hidup yang gembira dan sehat. Itulah impian semua orang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s