Sepeda motor yang menyengsarakan masyarakat

Hari-hari ini banyak pihak yang bicara tentang sepeda motor. Setidaknya hal itu terjadi di Surabaya. Pihak kepolisian melakukan kampanye keselamatan berkendara, terutama keselamatan pengendara sepeda motor. Masmedia juga ikut mengulas tentang keselamatan sepeda motor. Bahkan salah satu TV swasta menurunkan liputan tentang keselamatan sepeda motor.  Pertumbuhan jumlah sepeda motor belakangan ini sangat luar biasa, hal itu sangat mengkhawatirkan. 

Sepeda motor roda dua saat ini sedang “super booming”, ia menjadi alat angkut serbaguna yang fleksibel. Dari sisi pengguna, sepeda motor menjadi alat transportasi yang “murah” dibanding alat angkutan yang lain. Bayangkan, dengan uang Rp. 10.000 beli BBM, sudah bisa keliling kota, padahal kalau menggunakan angkutan kota atau bis, uang Rp. 10.000 hanya bisa untuk dua kali naik angkot. Maka tidak heran kalau belakangan, supir angkot mengeluh karena penumpangnya berkurang, sebagian besar karena beralih ke sepeda motor. Apalagi membeli sepeda motor saat ini begitu mudahnya dengan sistem kredit.  Dengan uang Rp. 500.000, sudah bisa bawa pulang sepeda motor. Sangkin mudahnya untuk membeli sepeda motor, seorang teman bergurau, bahwa syarat untuk kredit sepeda motor cukup diperiksa nadinya saja. Kalau nadi masih berdenyut, maka sepeda motor bisa diperoleh. Agen penjualan sepeda motor bahkan saat ini sudah ada yang di pinggir jalan, dengan tenda ala kadarnya sang agen membuka konter kredit sepeda motor layaknya seperti pedagang kaki lima.

Pertumbuhan sepeda motor yang luar biasa itu ternyata tidak diikuti dengan kesiapan penmanfaatannya, baik itu disisi pemerintah maupun masyarakat. Pengguna sepeda motor pun nyaris tidak memperhatikan pemanfaatan sepeda motor dengan benar.  Keselamatan, seringkali diabaikan. Perlengkapan mengendara sepeda motor tidak digunakan sebagai bagian dari keselamatan. Padahal angka kecelakaan sepeda motor dan korbannya meningkat secara terus menerus. Perilaku pengendara sepeda motor dengan salip menyalip dan menerobos lalu lintas adalah pemandangan keseharian yang terjadi. Padahal dengan bentuk dan struktur sepeda motor serta kondisi jalan yang ada, sepeda motor mempunyai kemungkinan kecelakaan yang sangat besar.

Pemerintah ternyata tidak siap menghadapi jumlah pemakaian sepeda motor yang sangat besar. Nyaris tidak ada kebijakan yang mengatur pemanfaatan sepeda motor dalam jumlah besar. Baru pada sekitar 2 tahun terakhir Pemerintah mulai membicarakan bagaimana mengurangi dampak negatif dari pertumbuhan sepeda motor yang sangat besar itu. Terutama setelah demikian besar jumlah pengendara sepeda motor pada saat mudik lebaran. Sejauh ini belum ada kebijakan yang jelas, kecuali berupa himbauan agar para pengendara sepeda motor lebih berhati-hati di jalan.  Jumlah pengendara sepeda motor yang sangat besar, memang perlu dipertimbangkan secara serius. Di Surabaya saja, saat ini sepeda motor yang terdaftar di Samsat sudah hampir 1 juta unit. Dengan jumlah itu, dan ditambah sepeda motor yang berasal dari luar kota, lalu lintas kota dipenuhi dengan sepeda motor yang luar biasa banyaknya.

Sudah saatnya Pemerintah menerapkan kebijakan yang komprehensif untuk mengelola keberadaan sepeda motor. Pengelolaan tidak cukup dilakukan di bagian hilir yaitu di bidang transportasi dan lingkungan saja, tetapi juga sejak sepeda motor mulai dirancang dan dibuat  serta pemasarannya. Kota Dalian di China, membuat langkah besar dengan melarang sepeda motor dengan volume mesin > 50 cc beroperasi di jalan. Langkah ini sangat spektakuler mengingat China merupakan salah satu produsen sepeda motor. Tapi demi melindungi warganya dan lingkungannya, Kota Dalian berani menentukan kebijakan luar biasa.

Kebijakan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memproduksi sepeda motor  secara terbuka, sudah harus di rubah dengan memberlakukan persyaratan tertentu. Industri otomotif khususnya sepeda motor harus dievaluasi. Penanganan dibagian hilir saja alan menimpakan ongkos terberat kepada end-user yaitu masyarakat. Industri otomotif sepeda motor mengeruk keuntungan yang sangat besar dari volume penjualan yang luar biasa dan kemudian meninggalkan ongkos risiko yang sangat besar kepada masyarakat dan pemerintah. 

Sayangnya Pemerintah sendiri juga belum sepenuhnya seia sekata dalam penanganan sepeda motor. Departemen Perhubungan, Polisi Lalu Lintas dan Kementerian Lingkungan Hidup disatu pihak menggebu-gebu tentang keselamatan dan kemacetan serta pencemaran lingkungan. Disisi lain Departemen Perindustrian dan Perdagangan terus mengembangkan industri sepeda motor yang begitu-begitu saja. Menggenjot produksi dan menjual sepeda motor sebanyak-banyaknya ke pasaran. Bahkan Prediden SBY sendiri beberapa waktu yang lalu ikut meresmikan pabrik sepeda motor buatan India dengan kapasitas produksi yang besar.  Sehingga terjadi kompetisi yang saling bertentangan antar lembaga pemerintah untuk suatu obyek yang sama sepeda motor. Yang satu seolah tak peduli dengan yang lain.

Lalu kalau udah begini, lagi-lagi masyarakat yang menanggung risiko terbesar. Hooo…alaaaahh…..

2 thoughts on “Sepeda motor yang menyengsarakan masyarakat

  1. Surabaya memang harus ‘taking step’ untuk membatasi penggunaan motorist kalo enggak bisa membatasi kepemilikan kendaraan bermotor,ditengah harga minyak yang melangit sepeda motor menjadi solusi bagi masyarakat surabaya. Sudah saatnya Surabaya memiliki keberanian untuk menerapkan Traffic Demand Management dengan kebijakan yang mungkin tidak populis.

    Like

  2. Kebijakan yang tidak populis bisa dilakukan kalau ada komitmen kuat dari decision makers. Busway di Jakarta saja perlu waktu bagi Sutiyoso untuk memutuskan melaksanakan busway. Tapi akhirnya ia mengambil kebijakan yang tidak populis pada waktu itu. Tapi dalam jangka panjang itu solusi yang paling baik.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s