Penipuan dengan modus kirim pulsa

Untuk menambah pendapatan, istri saya menawarkan kamar di rumah untuk kos-kosan. Kamar itu tadinya untuk kamar menginap tamu, tapi karena tamu menginap sangat jarang, istri saya menjadikannya kos-kosan. Penawaran kos-kosan dilakukan melalui iklan mini di media cetak. Taunya, iklan dikoran itu dimanfaatkan orang untuk mencoba penipuan ke istri saya melalui modus baru. Ceritanya begini.

Pada iklan di koran, istri saya mencantumkan nomor HPnya dengan maksud, bila ada yang berminat terhadap kamar itu bisa menghubungi istri saya. Sabtu tgl 20 Oktober, sebuah sms dari o81-524030348 masuk ke HP istri saya yang berbunyi bahwa dia berminat terhadap kamar tersebut. Sms nya juga menyebutkan bahwa HP istri saya sulit dihubungi, sehingga minta istri saya menelpon orang tersebut yang mengaku bernama Rahmat. Tanpa curiga istri saya menghubungi orang tersebut di nomor dimaksud. Orang yang mengaku bernama Rahmat itu mengaku sebagai pengusaha yang berdomisili di Kalimantan, dan punya anak bernama Erni, yang sedang kuliah di UBAYA Surabaya. Menurutnya sebelumnya anaknya sudah pernah melihat kamar yang hendak dikoskan, sehingga ia sangat setuju kalau kamar itu akan dipakai anaknya. Istri saya menyetujui kamar akan diberikan ke orang tersebut, dan minta memberikan uang tanda jadi.

Si Rahmat saat itu mengaku sedang di Cimahi Jabar, sehingga tidak bisa datang kerumah saya untuk mengantarkan uang tanda jadi. Karena itu ia mengatakan akan membayar uang kos untuk setahun dan akan mentransfer langsung ke rekening istri saya. Menurut Rahmat, anaknya Erni agak boros, sehingga uang kos akan ditransfer lewat bank saja, karena itu ia minta nomor rekening istri saya supaya bisa ditransfer Sabtu itu juga melalui phone banking. Ia mengaku harus transfer hari itu karena besoknya (Minggu) harus ke Kuala Lumpur untuk urusan bisnis. Istri saya sebenarnya kurang setuju pembayaran uang kos melalui transfer.

Tanpa curiga istri saya memberikan nomor rekeningnya melalui sms. Sekitar setengah jam kemudian si Rahmat sms lagi memberitahu, kalau uang sudah ditransfer dan minta agar dibuatkan kuitansi pembayaran bermeterai dan minta di fax ke kantornya Jakarta. Selain itu ia juga minta dikirimi pulsa senilai Rp. 25.000, karena pengakuannya pulsanya habis, dan ia sedang di lokasi lapangan di Cimahi (Jabar), sehingga tidak bisa membeli pulsa. Ia mengaku harus menelpon atasannya untuk memberitahu bahwa ia sudah mentransfer uang ke rekening istri saya, karena saat itu ia menggunakan uang kantor.

Istri minta saya untuk membuatkan kuitansi dan memfaxkannya ke nomor fax yang diberikan di Jakarta dan mengirim pulsa secara elektrik ke si Rahmat di HPnya. Saya bertanya ke istri saya kenapa kita yang harus memfax kuitansi pembayaran dan mengirim pulsa. Karena menurut saya si Rahmat lah yang harus mengirimkan tanda bukti transfer ke istri saya, bukan sebaliknya. Lalu istri saya menjelaskan kejadiannya seperti yang tertulis di alinea diatas. Saya menjadi curiga dengan permintaan si Rahmat itu, dan bilang ke istri saya jangan-jangan itu penipuan. Istri, yang karena merasa mendapat rejeki dari kos-kosan, merasa orang itu tidak menipu karena sudah mentransfer uang, dan bahkan si Rahmat minta istri saya pergi ke ATM untuk mencek transfer itu. Karena ATM istri saya ketlisut, ia tidak bisa mencek transfer, sehingga hari Senin pagi baru bisa dicek transfernya.

Karena tidak mau mengecewakan istri, maka saya pun pergi ke wartel untuk memfaxkan kuitansi yang diminta. Setelah dicoba difax ke nomor yang disebut di Jakarta (021-304 39768), ternyata fax tidak bisa masuk, bahkan menurut operator wartel, tidak ada nada fax di nomor itu. Saya sebenarnya sudah tambah curiga kepada orang yang bernama Rahmat itu. Tapi kemudian saya telpon lagi dia di HPnya bilang kalau fax yang dituju tidak bisa menerima. Si Rahmat bilang bahwa nomor itu memang harus diaktifkan oleh sekretarisnya di kantor, jadi kuitansinya faxkan saja hari Senin tanggal 22 Oktober. Dia juga minta tolong supaya segera mengirim pulsa karena sudah sore, supaya ia segera bisa melapor ke atasannya. Lalu saya minta nomor HP anaknya yang bernama Erni, supaya bisa saya hubungi, dia memberikan nomor 081-319685511. Maksud saya sebenarnya adalah untuk crosscek orang yang bernama Rahmat tersebut. Saya mencoba menelpon nomor yang diberikan, tapi tidak ada nada sambung.

Senin pagi 22 Oktober, istri saya ke Bank mencek saldo rekeningnya, ternyata tidak ada uang masuk yang ditransfer. Istri menelpon saya di kantor memberitahukan hal itu, sambil mengatakan ternyata si Rahmat itu mencoba menipu. Saya memang sudah curiga dengan modus mengirim pulsa yang diminta si Rahmat. Dia tidak pernah menelpon ke istri saya, tapi sebaliknya istri sayalah yang diminta menelepon dia. Jadi dia tidak mau kehilangan pulsa kecuali untuk sms saja. Dia berharap bisa dikirimi pulsa Rp. 25.000,. Selain itu si Rahmat penipu itu juga mungkin berharap istri saya mau diminta mencek saldonya di ATM. Saya menduga, kalau saja istri saya pergi ke ATM, maka selama di ATM itu, si Rahmat dengan segala cara melalui telepon akan menyuruh korbannya untuk mentransfer atau bahkan mungkin menghipnotis melalui telepon. Syukur kami terlindungi karena kartu ATM istri kebetulan ketlisut hari Sabtu itu, tidak ada ditempat biasa, syukur juga kami tidak kirim pulsa karena sistem Mentari sedang trouble. Tapi kami rugi sudah menelpon si Rahmat di HPnya sebanyak 4 kai, kami kehilangan pulsa.

Macam-macam saja upaya orang untuk menipu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s