Hadiah nan memilukan

Menerima hadiah adalah suatu hal yang sangat menggembirakan, apalagi bila hadiah itu didapat pada saat yang dibutuhkan seperti saat menjelang Lebaran. Mendapatkan hadiah Lebaran seolah memberi harapan agar kebutuhan yang bertambah bisa tercukupi. Namun keadaan berkata lain, manakala hadiah yang diharapkan justru menjadi derita. Setidaknya hal itu yang terjadi ketika perusahaan rokok terbesar di Kediri membagikan hadiah lebaran senilai Rp.10.000 – 20.000 kepada fakir miskin. Banyak orang yang pingsan terinjak-injak sewaktu berebut untuk mendapatkan hadiah lebaran.

Perusahaan rokok terbesar di Kediri selama beberapa tahun terakhir mempunyai tradisi memberikan hadiah lebaran bagi fakir miskin disekitar kota Kediri. Biasanya pada hari yang ditentukan para fakir miskin mendatangi tempat pembagian hadiah lebaran dengan harapan bisa mendapat sedikit uang untuk keperluan lebaran. Tahun 2007 ini perusahaan tersebut mengalokasikan sekitar Rp. 180 juta yaang dibagikan kepada sekitar 10.000 jiwa fakir miskin. Setiap penerima direncanakan mendapatkan antara Rp. 10.000 sampai paling tinggi Rp. 20.000. Tahun 2006, perusahaan itu menyediakan dana sekitar Rp. 120. juta. Demikian menurut pemberitaan masmedia.

Entah karena tidak menduga bahwa peminat hadiah lebaran untuk fakir miskin itu demikian membludak, atau karena para fakir miskin itu terlalu takut tidak kebagian, maka terjadilah rebutan hadiah uang di Kediri. Demi uang Rp. 10.000 orang rela berdesak-desakan sampai akhirnya ada yang terinjak-injak. Kejadian di Kediri ternyata bukan satu-satunya. Di Kalimantan, seorang pengusaha hendak membagi hadiah lebaran kepada fakir miskin. Ternyata kemudian para penerima hadiah itu banyak yang pingsan karena berebut untuk mendapatkan hadiah lebaran dimaksud. Beberapa kejadian lain hampir mirip dengan yang di Kediri.

Tragis, uang yang didapat bahkan tidak ada artinya dibandingkan dengan derita yang diperoleh. Maksud baik hendak memberikan hadiah, tapi musibah yang terjadi. Atas kejadian seperti itu, tentu ada yang perlu dicermati, mengapa orang tidak begitu sabaran untuk menunggu secara tertib. Agaknya kekuatiran tidak kebagian, membuat orang tidak mau tau akan orang lain. Yang penting dapat duluan, segala daya dilakukan termasuk mendorong bahkan menginjak orang lain. Banyak diantara korban yang pingsan dan terinjak-injak itu adalah orang tua dan anak-anak.

Rasanya petugas yang membagikan hadiah mesti berupaya menertibkan, tapi tidak mampu berbuat banyak akibat banyaknya orang berkerumun. Karena itu mekanisme pemberian hadiah seperti itu rasanya tidak bisa dilakukan lagi. Selain pemberian hadiah bisa salah sasaran, tetapi juga menimbulkan korban terinjak-injak. Dalam program pemberian hadiah lebaran seperti di Kediri itu, fakir miskin penerima tidak didata, dan tidak diverifikasi, apakah mereka memang benar-benar fakir miskin yang layak mendapatkan bantuan hadiah, atau sebenarnya sebagian merupakan orang-orang yang tidak berhak. Tapi karena mengetahui bisa mendapat hadiah, maka dengan mengandalkan kekuatan fisik bisa mendapatkan uang. Karena itu verfikasi fakir miskin perlu dilakukan. Disisi lain pemberi hadiah perlu memikirkan tata cara pembagian hadiah, supaya tidak terjadi lagi kecelakaan. Kalau saja fakir miskin yang sah didata terlebih dahulu, kemudian diberi kupon bernomor. Dengan nomor dalam kupon, ditentukan, waktu pembagian hadiah dimaksud. Sehingga pelaksanaan pemberian hadiah bisa lebih tertib.

Mestinya hal itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Tragis, sudah miskin, untuk mendapatkanRp. 10.000 saja harus pingsan terlebih dahulu.

One thought on “Hadiah nan memilukan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s