Pengelolaan air limbah perkotaan di Indonesia; jalan di tempat

Pengelolaan air limbah perkotaan sesungguhnya sudah cukup lama ada di Indonesia, meskipun dalam kondisi yang sangat sederhana dan terbatas. Sayangnya yang terbatas itu belum bisa dikembangkan secara baik. Yang dimaksud baik disini adalah yang sesuai untuk skala kota dan beroperasi secara menerus dengan kinerja yang terukur.

Beberapa kota sudah pernah pernah mengembangkan air limbah perkotaan, seperti Bandung, sayangnya belum bisa beroperasi dengan benar, karena banyak masalah. Medan, juga sudah pernah membangun instalasi pengolahan limbah (IPAL) beserta jaringan kolektor di daerah permukiman. Tapi inipun kemudian kurang berhasil. Jakarta malah juga tidak berfungsi baik. IPAL di Setia Budi (dekat Kuningan) juga tidak beroperasi sesuai rencana. Yang baru saja dibangun ada di Denpasar, berikut jaringan kolektor dan transmisinya. Belum tau operasinya apakah berjalan dengan benar. Tapi sepertinya hampir semua kota di Indonesia mengandalkan ”septic tank”.

Air limbah perkotaan Surabaya, juga sudah pernah direncanakan. Sekitar awal tahun 80 an sudah pernah ada studi sanitasi Surabaya. Waktu itu studinya mencakup juga sistim drainase. Dikerjakan oleh Ditjen Cipta Karya Departemen PU. Kemudian tahun 97 sampai 99 Cipta Karya melakukan studi Surabaya Sanitation Development Project (SSDP) yang menghasilkan sebuah master plan dan immediate plan. Sayangnya sejak studi itu selesai hingga sekarang nyaris tidak ada yang dilaksanakan dilapangan. Rencana ada, pelaksanaan tiada. Air limbah perkotaan sepertinya masih jalan di tempat.

Persoalan air limbah di Indonesia, kelihatannya lebih berat pada aspek institusinya ketimbang teknologi. Komitmen dan konsistensi untuk melaksanakan pengelolaan air limbah secara benar sulit didapat. Kasus Bandung, Medan, Jakarta, Denpasar dan Surabaya lebih banyak pada masalah capacity building. Pengambil keputusan, mungkin karena ketidak fahaman, tidak bisa memberikan prioritas yang cukup bagi pengelolaan air limbah. Jadi pemahaman akan pentingnya air limbah perlu ditingkatkan, selama itu masih terseok-seok, maka sistim air limbah perkotaan yang benar masih akan memerlukan jalan panjang untuk diwujudkan. Masyarakat dan swasta masih belum memahami sepenuhnya pentingnya air limbah. Perlu pendidikan massal untuk bisa meningkatkan pemahaman itu. Dan pendidikan butuh waktu yang lama.

Secara teknologi, pengolahan air limbah, sesungguhnya tidak terlalu sulit, berbagai metoda sudah tersedia. Untuk Indonesia, rasanya belum memerlukan teknologi yang terlalu canggih. Pengolahan air limbah umumnya dilakukan secara biologis, fisik dan kalau perlu secara kimiawi. Karena itu yang terutama adalah bagaimana keputusan diambil dan dilaksanakan untuk mengelola air limbah perkotaan secara benar. Supaya dampak kerugian yang diderita masyarakat bisa berkurang.

Tumpuan harapan banyak pada Pemerintah Pusat, karena Pemda sulit mengembangkan pemahaman pengelolaan air limbah. Dengan kondisi seperti sekarang Pemda sulit menjadikan air limbah sebagai prioritas pembangunan. Maka terobosan satu-satunya adalah Pemerintah Pusat. Persoalannya adalah bagaimana meyakinkan pemerintah pusat untuk melaksanakan pembangunan air limbah perkotaan. Aturan perundangan sudah menetapkan bahwa ”urusan” air limbah ada pada pemerintah daerah. Mencabut kembali mandat itu bukanlah hal yang mudah. Siapa yang bisa meyakinkan Pemerintah Pusat bahwa air limbah tidak akan pernah jadi prioritas pembangunan di daerah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s