Jawa Timur Lumpuh Empat Jam

Kompas, 1 November 2007

Lumpur Lapindo
Pasuruan, Kompas – Separuh Jawa Timur lumpuh selama empat jam setelah Jalan Raya Surabaya-Malang dan Surabaya- Pasuruan di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, diblokade ratusan warga dari empat desa di Pasuruan. Mereka menuntut pembuangan lumpur ke Sungai Porong dihentikan karena tempat tinggal mereka terancam banjir.

Blokade warga dari Desa Carat, Gempol, Japanan, dan Legok di Kecamatan Gempol ini dimulai sekitar pukul 08.00, Rabu (31/10). Mereka datang secara bergelombang dan menuju jembatan Sungai Porong, yang menghubungkan Surabaya ke Malang/Pasuruan. Warga Desa Carat menutup pertigaan Japanan, Pasuruan. Lalu lintas jalur alternatif melalui Mojosari lumpuh.

Blokade di Bundaran Gempol, Pasuruan, mengakibatkan jalur alternatif melalui desa-desa di sekitar Jalan Raya Porong juga ikut lumpuh. Artinya, semua kendaraan bermotor dari Surabaya tidak bisa menuju ke daerah timur/selatan Jawa Timur, begitu pula sebaliknya.

Unjuk rasa dilakukan 200 warga dari 15 desa di Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Ini dilakukan di jalur pembuang lumpur di Desa Pejarakan, Porong, Sidoarjo. Mereka menuntut pembuangan lumpur ke sungai dihentikan.

Akibat penutupan jalan itu, semua kendaraan bermotor akhirnya menumpuk di jalur alternatif Mojosari, Mojokerto, atau sepanjang sekitar 44 kilometer. Jalur alternatif di sekitar Jalan Raya Porong dipenuhi kendaraan bermotor. Begitu pula di Jalan Raya Malang-Sidoarjo dan arah Pasuruan-Sidoarjo, kemacetan akibat menumpuknya kendaraan mencapai 5 kilometer.

Sering diblokade

Salikan (35), salah seorang sopir truk yang terjebak dalam kemacetan, mengeluhkan seringnya jalan raya dari Surabaya ke daerah timur/selatan Jawa Timur ditutup oleh blokade warga. Dalam catatannya, sedikitnya lima kali ia terjebak kemacetan di jalur ini karena blokade warga.

“Seharusnya aspirasi warga disampaikan ke DPRD atau kantor pemerintah, bukan dengan cara memblokade jalan,” ujar Salikan, yang mengatakan dengan pemblokadean ini dia rugi waktu selama empat jam dan baru tiba di Tuban malam hari.

Aksi pemblokadean itu dipicu kekhawatiran warga terhadap ancaman banjir yang bakal melanda desa mereka. Jika lumpur dibuang ke sungai, air sungai tak akan mengalir ke laut. Itu artinya air akan meluber ke desa-desa di sepanjang tepi sungai. Pongkor, warga Desa Gempol, mengatakan, kondisi ketinggian air Sungai Porong dengan puncak tanggul di Desa Carat dan Gempol sudah tersisa tinggal sekitar 50 sentimeter. Oleh karena itu, setiap cuaca mendung warga selalu resah dan berjaga-jaga di luar rumah.

Blokade warga ini baru berakhir pukul 12.15 setelah warga mencapai kesepakatan dengan Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS), yang juga dihadiri Wakil Bupati Pasuruan Muzammil Syafi’i. “Kami menuntut pembuangan lumpur di Sungai Porong dihentikan, endapan lumpur di sungai segera dikeruk, tanggul-tanggul sungai yang kritis segera dipertebal,” kata Furqon, koordinator warga, yang juga merupakan Kepala Desa Gempol.

Muzammil Syafi’i, yang juga Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Pasuruan, meminta pembuangan lumpur ke sungai dihentikan. “Setiap tahun Pemkab Pasuruan harus mengeluarkan uang Rp 8 miliar sampai Rp 18 miliar untuk menangani bencana,” ujarnya.

Atas tuntutan warga dan Wakil Bupati Pasuruan, staf senior BP BPLS Sugeng akhirnya sepakat menghentikan pembuangan lumpur ke sungai sampai pengerukan lumpur yang menghalangi aliran sungai selesai dilakukan.

Akibat blokade warga tersebut, proses ekspor dan impor barang yang melalui kawasan tersebut terganggu. (APA/BEE)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s