“Orang tua saya Kristen, saya tidak mempunyai agama”.

Bulan Ramadhan lalu, saya mengundang seorang teman dari Jepang yang sedang berkunjung di Surabaya untuk makan malam disebuah rumah makan. Saya mengundangnya selain karena ia baru pertama kali ke Surabaya, juga sebagai balasan karena ia melakukan hal yang sama ketika saya bertemu di Jepang dan di Bangkok. Dia sangat helpfull terhadap saya, jadi saya pikir mengajak dia makan malam di Surabaya adalah suatu hal yang sangat wajar. Ternyata dia sangat menyukai makanan lokal Surabaya.

Sebagaimana lazimnya pada bulan Ramadhan, rumah makan sangat ramai oleh pengunjung yang melakukan buka bersama. Melihat pengunjung yang demikian ramai, teman Jepang sebut saja namanya Fukuda, bertanya apakah sedang ada pesta atau apa. Lalu saya menjelaskan bahwa di Indonesia orang biasa melakukan acara buka bersama setelah berpuasa sepanjang hari. Fukuda bertanya secara umum tentang agama di Indonesia. Saya menjelaskan bahwa mayoritas orang Indonesia beragama Islam, sehingga pada bulan Ramadhan, acara buka bersama di rumah makan dan restoran sering bisa dijumpai.

Kemudian ia bercerita tentang kebiasaan orang Jepang dalam melakukan acara keagamaan. Fukuda bercerita bahwa kedua orang tuanya adalah penganut Kristen yang taat, sehingga ketiga putra-putrinya dinamai menurut tiga prinsip Kristiani yaitu iman, pengharapan dan kasih (faith, hope & love). Mereka diberi nama versi Jepang untuk iman, pengharapan dan kasih, dan ia diberi nama “pengharapan“. Didalam keluarganya, sejak kecil ia sudah dijari tentang Kristiani, termasuk ia sering dibawa ke sekolah minggu. Tetapi buru-buru Fukuda mengatakan bahwa dia tidak mempunyai agama. “My parents are good Christian, but I do not have any religion“, begitu ia mengatakan.

Saya agak kaget juga mendengar pengakuannya, tapi saya berusaha menyembunyikan kekagetan saya. Meski saya penasaran mengapa dia tidak mempunyai agama, saya menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Saya hanya mendengarkan apa yang ia ceritakan. Saya mencoba memahami kebiasaan internasional dan kebiasaan orang Jepang untuk tidak bertanya hal-hal yang bersifat pribadi. Kecuali kalau ia memang mau menceritakan dengan sendirinya. Saya yakin bahwa kedua orangtua Fukuda tentu berusaha mengajarkan keimanan kepada anaknya, supaya anaknya juga menjadi seorang pengikut Kristus. Tentu orang tuanya sejak kecil menanamkan keimanan Kristiani, dengan harapan anak-anaknya kelak juga mengikuti jejaknya, dan sekaligus itu juga merupakan amanat yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepada para orangtua. Orang tua harus membimbing anak-anaknya dan megajarinya tentang kasih dan keselamatan.

Itulah fakta di Jepang, meski orang tuanya adalah penganut Kristen yang taat, anaknya kemudian tidak menganut agama apapun. Meski dia mengaku tidak beragama, kegiatan sehari-hari yang saya lihat dia cukup baik, menghargai orang lain dengan tulus, helpfull dan profesional. He is a good guys, setidaknya itu yang saya lihat dari seorang Fukuda. Sepanjang yang saya temui pada umumnya orang Jepang memang adalah pekerja keras, disiplin, sangat respek terhadap orang lain. Meski mereka secara trus terang mengakui tidak beragama, tapi personality, kehidupan sehari-harinya cukup baik.

Sebaliknya banyak orang Indonesia, secara ritual agama, sangat taat, tapi pada saat yang bersamaan kehidupan sehari-harinya, malas, tidak disiplin, korupsi, tidak jujur. Lalu kita bertanya mana yang lebih bermanfaat, seorang yang secara ritual agama, melakukan kewajiban ritual dengan taat, tapi kehidupan sehari-hari tidak sesuai, atau seorang yang tidak beragama, tapi kehidupan sehari-harinya sangat baik dan penolong terhadap sesama.

15 thoughts on ““Orang tua saya Kristen, saya tidak mempunyai agama”.

  1. Sebenarnya anda suka yang mana , menjaalankan urusan agama sebagai kewajipan dan kepercayan walaupun melanggar hukum agama atau negara atau memilih kehidupan dengan kelakuan baik tapi tidak ada kepercayaan langsung dengan Tuhan sang pencipta.

    Like

  2. Itu dia masalahnya, mestinya kalau bisa menjalankan ritual agama dengan taat, juga harus bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang banyak terjadi kan, agama sering dibuat sebagai sekedar “make-up” untuk memperindah penampilan, tapi isinya payah.

    Like

  3. Yang baik menurut aku amang , adalah beriman kepada Tuhan dan berkelakuan yang baik pula, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati, kalau dia berbuat baik tanpa ada iman , entahlah …… nanti bagaimana biar Tuhan yang memberi penghakiman , horas ma dihita sudena .

    Like

  4. Bagus jadi perenungan… Menampar kesadaran orang-orang beragama, yang sibuk dengan ritual tapi tak memberi manfaat bagi siapapun, tak juga bagi dirinya…

    Like

  5. Semua agama mengajarkan kebaikan. tetapi di Indonesia agama/keyakinan hanya mengedepankan penampilan saja. Bila memakai sorban, berjanggut, berjilbab, selalau ke gereja, ikut latiha koor, dll. tetapi semua prinsip kebaikan itu tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Buktikan merahmu (imanmu/perbuatan baikkmu/ajaran kasihmu) di lingkunganmu tanpa memandang siapa dia/latar belakangnya/agamanya.

    Iman tanpa perbuatan adalah mati.

    Like

  6. Setuju dengan Lae Toga…
    Kini dunia kita bukan antara gelap dan terang, benar dan salah tetapi di antaranya!
    Apakah kita terseret ke arus itu??
    Kristen sejati bukan seperti itu. Bukan menjadi suam-suam kuku.
    Kristen bukanlah agama. Kristus tidak membawa “agama”. Surga bukanlah tempat untuk orang beragama.
    Dengan hal ini, berbahagialah kita yang sudah mengenal Kristus.
    Dengan demikian, semakin berbuahlah Kristen!
    (Seperti mengutip dari Alkitab : pohon dikenal dari buahnya. Selayaknyalah pengikut Kristus (orang Kristen) berbuah manis..)

    Like

  7. Pada dasarnya saya tidak ada masalah dengan orang yang secara terusterang mengklaim kalau mereka tidak beragama, tapi perilakunya baik sekali.
    Mungkin mereka tidak beragama justru karena melihat perbuatan kita yang beragama tapi mengatasnamakan agama itu untuk membuat manusia2 lain sengsara.

    Entah kenapa banyak sekali manusia2 beragama di dunia ini yang menganggap agama itu hanya mengatur hidup kita secara vertikal (dengan Pencipta), tapi tidak peduli dengan hubungan horizontal (dengan manusia lain (tanpa membeda2kan), dan dengan alam sekitar).

    Syalom.

    Like

  8. Pernah sahabat saya yang tidak beragama menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak ada, kehidupan di bumi ini akan berlangsung terus menerus seperti sekarang ini, dan hari kiamatpun tidak ada.

    Kalau benar apa yang diuraikan sahabat itu, maka jawaban untuk pertanyaan di atas adalah lebih baik tidak beragama, tapi kehidupan sehari-harinya sangat baik dan penolong terhadap sesama.

    Tetapi, kalau Tuhan itu ada, dan Tuhan akan mengakhiri kehidupan yang berdosa dari bumi, maka kedua jenis kehidupan di atas tidak ada yang lebih baik. Baik yang beragama/berTuhan tetapi tidak berbuat baik, maupun tidak berTuhan tetapi berbuat baik, sama sama tidak berkenan di hadapan Tuhan.

    Tidak akan ada orang yang hanyut atau secara kebetulan masuk kedalam kerajaan surga. Hanya orang yang menghidupkan kehidupan/suasana surga selama berada di dunia inilah yang akan masuk ke dalam kerajaan surga. Hanya orang yang merindukan Tuhanlah yang akan bertemu engan Tuhan, bukan orang menyangkal atau menantangNya

    Suasana kehidupan di surga adalah damai, penuh kasih, dan Tuhan ada di sana. Bila tidak memiliki damai di bumi, bagaimana mungkin akan masuk ke dalam kerajaan surga yang penuh damai? Bila tidak percaya kepada Tuhan selama di bumi, bagaima mungkin akan masuk ke dalam surga?

    Like

  9. Pesan dari postingan ini sesungguhnya adalah, kalau orang yang tidak mempunyai agama saja, bisa mengasihi dan berbuat baik pada orang lain. Kita-kita yang mengaku beragama dan beriman mestinya dan harusnya lebih baik dari dia yang mengaku tidak beragama.

    Like

  10. Ya ya ya setuju dengan postingan ini. Banyak yg NGAKU beragama tp di gereja malah menggosipin baju si a, ato emas si B. Banyak juga yg tereak-tereak dalam nama Yesus, tp 5 menit kemudian sibuk menjelek-jelekkan orang lain. Sigh! Jadi batu sandungan buat orang lain

    Like

  11. beragama itu suatu pilihan, oleh karena itu jangan salah pilih. Renungkan kebenaran agama yang akan dipilih. Sebagai muslim, saya mengimani Islam adalah agama yang benar, kebenaran tersebut terletak pada ajaran tauhid yang mengajarkan “keesaan ” Allah SWT yang tidak ada pada agama lain. Didalam ajaran Islam jelas sholat itu kewajiban yang harus dilakukan, dan perilaku tidak baik itu harus ditinggalkan (korupsi, mencuri, memperkosa, menyakiti orang lain). Tidak ada pilihan untuk melakukan hanya salah satu. Orang yang sholat tapi korupsi itu sama dengan orang yang tidak sholat, tempatnya di neraka. Apalagi orang yang tidak sholat tapi korupsi lagi, tempatnya neraka yang paling buruk.

    Like

  12. ” Sepanjang yang saya temui pada umumnya orang Jepang memang adalah pekerja keras, disiplin, sangat respek terhadap orang lain ”

    Saya ikut salut lihat orang Jepang !

    Like

  13. Ingatlah, hanya YESUS yang dapat menyelamatkanmu, percaya dan terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s