Jeepney: How is my driving, sudah baikkah saya mengendara?

Kampanye peningkatan berlalu lintas memerlukan berbagai cara. Keselamatan lalu lintas menjadi hal yang penting dipahami oleh semua orang. Jumlah kecelakaan lalu lintas yang meningkat, mengkuatirkan kita. Harus ada upaya yang sungguh-sungguh supaya korban kecelakaan lalu lintas bisa dikurangi. Di Manila, angkutan umum termasuk Jeepney mengingatkan pengendara dan penumpang, dengan pertanyaan: Apakah saya sudah mengendara dengan baik; how’s my driving?.

Jeepney, angkot versi Manila, Philippina, sudah banyak dikenal karena bentuk dan hiasannya yang unik. Pemilik Jeepney berlomba-lomba menghiasi mobilnya dengan berbagai asesoris supaya terlihat menarik dan cantik. Sudah barang tentu tujuannya untuk menarik penumpang.  Hiasan lampu, atau modifikasi yang unik, menjadi ciri khas Jeepney di Manila.

Akan tetapi salah satu hal yang penting lainnya adalah peringatan yang ditulis dibagian belakang Jeepney. “How is my driving?. Call 091-123 4xxx”. Tulisan itu cukup jelas terbaca bagi siapa saja yang mengendara dibelakang mobil jeepney. Itulah bentuk kampanye yang digalakkan di Manila. Dengan peringatan itu, pengendara Jeepney yang mengemudi ugal-ugalan, akan dilaporkan ke call center. Inilah suatu bentuk kampanye yang rasanya sangat efektif untuk menghindari kecelakaan ditengah upaya pengemudi jeepney untuk mendapatkan penghasilan.

Dari apa yang saya lihat selama beberapa hari di Manila, memang jarang terlihat jeepney yang ugal-ugalan. Mereka berjalan dengan rapi, tidak main serobot untuk mencari penumpang. Tulisan peringatan how’s my driving itu tidak hanya dijumpai pada jeepney, angkutan umum lainnya juga dilengkapi dengan peringatan itu, dengan nomor telepon yang bisa dihubungi setiap saat. Taxi, bis kota bahkan angkutan barang juga mencantumkan tulisan pemberitahuan, kalau-kalau ada yang ingin menelepon tentang perilaku pengemudi kendaraan tersebut. 

Contoh di Manila itu, sangat baik kalau diterapkan juga di kota-kota Indonesia. Sehingga pengemudi kendaraan umum, akan berpikir dua kali untuk ceroboh dan mengendara secara ugal-ugalan. Setiap kendaraan umum mencantumkan nomor telepon pengaduan, sehingga setiap orang bisa melaporkan kejadian pengemudi yang berperilaku tidak baik. Tentu saja setiap pelapor, harus memberikan data yang benar, untuk itu pelapor juga harus menyampaikan identitas lengkap pelapor. Setiap laporan yang benar, harus ditindak lanjuti dengan mekanisme yang jelas dan transparan. Bila terbukti pengemudi bertindak ugal-ugalan, maka sanksi harus diberikan, kalau perlu ijin mengemudi (SIM) harus dicabut. Konsekuensinya kalau SIM sudah dicabut harus ada cara untuk menghindari si pengemudi membuat SIM baru dengan mudah. Dengan begitu masyarakat pelapor merasa bahwa laporannya bermanfaat. Sebaliknya bila ada laporan palsu, maka harus ada sanksi juga bagi pelapor palsu. Sehingga ada efek jera bagi pelanggar peringatan.

Meski kelihatannya sederhana, cara ini perlu dukungan dan kemauan kuat dari seluruh stakeholder. Demi keselamatan lalu lintas, cara ini patut dicoba. Kenapa tidak !!.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s