900 juta US Dollar hilang di sektor pariwisata akibat sanitasi buruk di Asia

Citynet dan ADB bekerjasama menyelenggarakan seminar internasional dibidang sanitasi dengan fokus utama pada air limbah perkotaan.  Beberapa perwakilan kota Asia ikut menghadiri seminar 2 hari tersebut yang diselenggarakan di kantor pusat ADB di kota Mandaluyong, Manila (Metro Manila terdiri dari 16 kota). Secara umum kota-kota di negara berkembang di Asia masih menggunakan sistim sanitasi yang sederhana dan tidak mampu mengantisipasi tuntutan perkembangan sebagai kota yang sehat. Dari seminar dua hari itu, terungkap bahwa kerugian ekonomis dibidang pariwisata akibat sanitasi yang buruk sudah mencapai 900 juta dollar.  

Seminar mengidentifikasi beberapa permasalahan sanitasi secara umum di kota-kota negara berkembang di Asia. Pada umumnya cakupan pelayanan sanitasi kota-kota negara berkembang masih sangat rendah dan tergantung pada sistem setempat (on-site) berupa septik tank.  Sebagai contoh, cakupan pelayanan Metro Manila baru mencapai 10 % dengan sistem sanitasi terpusat dengan perpipaan, sisanya masih menggunakan septik tank. Beberapa kota bahkan belum mempunyai lembaga yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan sanitasi dan air limbah perkotaan.

Isu-isu yang dikemukakan antara lain bahwa sanitasi yang buruk selain mengakibatkan kerugian karena penyakit menular, juga telah mengakibatkan kerugian ekonomi yang nyata untuk kota-kota di Asia. Menurut ADB, dari bidang pariwisata saja diperkirakan terjadi kerugian ekonomis sebesar US $ 900 juta akibat berkurangnya kunjungan wisata pada kota-kota yang sanitasinya buruk. Bila kota-kota di Asia menunda untuk melakukan pembangunan sanitasi perkotaan, maka ongkos yang harus dibayar akan menjadi lebih besar. Hal ini selain karena semakin sulit menyiapkan lahan untuk lokasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga karena tingkat kerugian yang sudah sangat besar.

Kerugian sebesar 900 juta dollar tentulah bukan angka yang kecil. Kalau saja kerugian itu bisa dihindari dan digunakan untuk program-program pembangunan perkotaan, maka hasilnya akan sangat luar biasa. Katakan saja untuk membangun gedung sekolah, berapa banyak ruang sekolah yang bisa terbangun dengan uang sejumlah 900 juta dollar (kurang lebih 8 trilliun rupiah). Meski semua menyadari besarnya tingkat kerugian ini,  akan tetapi tampaknya banyak pihak masih belum dapat merumuskan langkah-langkah konkrit dengan kegiatan-kegiatan yang jelas.
 

7 thoughts on “900 juta US Dollar hilang di sektor pariwisata akibat sanitasi buruk di Asia

  1. Luar biasa.. mungkin itu yg bisa saya ucapkan untuk tulisan2 Anda.
    namun sedikit menambahkan 900 juta dollar itukan hanya perhitungan diatas kertas saja
    Btw its Great Post

    Like

  2. Tulisan yang sangat menarik.
    untuk mengatasi masalah sanitasi perkotaan sangat perlu dilaksanakan pengintegrasian beberapa program pembangunan kota.
    mungkin dimulai dari pengubahan persepsi para pengambil keputusan di Pemerintah

    Great Post..

    Like

  3. sepertinya sanitasi memang belum mjd isu yg menarik buat pemerintah kota untuk diperhatika ya bapak… lalu ada informasi tidak, tentang berapa seharusnya biaya anggaran untuk sanitasi perkotaan yg baik, perorang/pertahun, dari info di seminar tsb? kalau tidak salah, di negara kita, masih

    Like

  4. Supaya menjadi prioritas dalam pemerintah kota, maka sanitasi harus menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Masalahnya RPJMD adalah dokumen perencanaan yang merupakan penjabaran visi-misi walikota pada waktu kampanye. Kalau sanitasi tidak masuk dalam isu kampanye CALON walikota, maka sulit untuk menjadi prioritas dalam RPJMD.

    Karena itu masyarakat harus menyuarakan sanitasi pada waktu kampanye pemilihan walikota, supaya menjadi prioritas pada RPJMD. Jadi perlu ada dukungan masyarakat secara signifikan untuk meminta sanitasi perkotaan yang baik. Berbagai pihak termsuk Perguruan tinggi, LSM dan pihak lainnya perlu menjelaskan hal ini kepada masyarakat. Supaya masyarakat tau bagaimana harus meminta kepada CALON Walikota ketika kampanye Pilkada.

    Harga sanitasi perkotaan, sangat tergantung pada kondisi kota dan teknologi yang akan dipakai. Biasanya kemudian, sebelum memilih teknologi, harus melihat kemampuan pembiayaan. Kalau pembiayaannya hanya mengandalkan APBD, maka hampir dipastikan sulit mendapatkan sistim sanitasi perkotaan yang baik untuk skala kota.
    Ya begitulah adanya.

    Like

  5. Tulisan ini cukup menegaskan bahwa ini yang terjadi di indonesia, beberapa daerah yang saat ini menjadi sasaran program destinasi pariwista oleh pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, hal-hal mengenai sanitasi untuk pariwisata sesuatu yang terlupakan, sebagai contoh pada daerah pesisir dimana mempunyai objek pariwisata pantai yang menarik, masyarakatnya masih belum menggunakan jamban baik dirumah atau dilingkungannya.
    hal ini tidak terlepas masih belum terkoordinasinya program-program yang diluncurkan oleh pemerintah, yang semestinya bisa dilakukan. misal antara depkes, dep budpar dan dep PU melaakukan kerjasama program untuk pariwisata pada daerah-daerah wisata unggulan.
    Tapi ya kembali kepada kemauan para pembesar dinegeri ini untuk melepaskan ego sektor masing-masing.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s