Sanitation; a child belongs to nobody

Sekali lagi tentang sanitasi dan air limbah perkotaan. Meski semua orang men”generate” limbah setiap hari, dan menghabiskan sejumlah waktu untuk membuang limbah, tapi nampaknya kebanyakan orang tidak mau tau, tidak peduli tentang air limbah, sanitasi. Dr. Roshan Raj Shrestra, dari UNHABITAT menggambarkan ketidakpedulian itu seperti seorang anak yang tidak dipedulikan orang lain. A child belongs to nobody.

Gambaran ketidakpedulian orang terhadap sanitasi dan air limbah terutama di Asia, memang sangat menyedihkan. Kota-kota di Asia berkembang pesat secara ekonomis, tapi sangat jauh tertinggal dibidang kepedulian sanitasi. Manila, Jakarta, Surabaya, Bangkok, Mumbai, Dakka, Kathmandu dan New Delhi adalah contoh-contoh kota yang sangat maju secara ekonomis, tetapi sangat miskin secara sanitasi. Kontradiksi ini seolah masih akan berlangsung terus bertahun-tahun kedepan. Kebanyakan kota-kota itu belum punya strategi pembangunan sanitasi yang jelas. Sebagian karena landasan legal yang belum ada, sebagian lagi karena prioritas pembangunan kota yang menempatkan sanitasi di level terrendah.

Padahal resiko kerugian sanitasi sudah sedemikian besar, di Philippina 18 orang meninggal setiap hari karena sanitasi buruk. Kerugian ekonomis juga tidak sedikit, dari sektor pariwisata sangat besar. Setiap pertemuan tentang sanitasi, apakah itu seminar, workshop, training dan kegiatan sejenis, selalu terungkap data-data kerugian karena sanitasi buruk. Penggambaran secara visual diperlihatkan sebagai anak yatim piatu dimana tidak ada orang yang peduli. Pertanyaannya adalah apakah negara-negara di Asia akan terus membiarkan anak yatim piatu tetap menjadi anak yang terpinggirkan. Tidak kah ada orang-orang yang mau peduli ?.

Tentu jawabnya, ada yang peduli, tapi kebanyakan adalah orang-orang yang tidak punya cukup kapasitas untuk melakukan perubahan yang signifikan. Harus diakui bahwa orang-orang yang peduli dan mengerti tentang sanitasi, punya kelemahan dalam “social marketing”. Sejak lama masalah sanitasi hanya dibicarakan secara teknis. Isu sanitasi harus dikemas sedemikian rupa, sehingga menarik perhatian publik secara luas sehingga menjadi perhatian para politisi dan punya nilai jual yang tinggi di masyarakat. Packaging isu sanitasi inilah rasanya yang harus ditingkatkan dengan terus-menerus. Pakar-pakar social marketing perlu diajak bicara untuk menentukan strategi kampanye yang jitu.

Paradigma NIMBY (Not In My Back Yard) melekat sangat kuat pada kebanyakan orang tentang sanitasi. Semua orang membuang limbah tapi semua orang tidak mau terkena limbah. Bahkan kebanyakan orang beranggapan bahwa limbah bukan urusannya. Padahal kalau tidak mau terkena akibat limbah, maka seharusnya harus mau “mengelola” limbah dengan benar. Sebagaimana hukum keseimbangan massa, limbah tidak bisa hilang dengan sendirinya. Limbah akan berpindah ke suatu tempat dan bila tidak dikelola akan membahayakan diri sendiri atau orang lain. Karena itu limbah dan sanitasi harus dikelola supaya tidak terus menerus menjadi “anak yatim yang tidak terurus”.

3 thoughts on “Sanitation; a child belongs to nobody

  1. Nice Post..
    luar biasa..masalah sanitasi ini telah menjadi masalah internasional, bahkan menurut informasi dari beberapa teman bahkan telah ada “hari sanitasi” nya. Masalah sanitasi telah menjadi masalah global yang penanganannya “agak merepotkan” karena melibatkan beberapa sektor seperti lingkungan, pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, perindustrian, perdagangan dll. Koordinasi menjadi kata yg mudah diucapkan atau ditulis atau digembar-gemborkan namun “merepotkan” untuk dilaksanakan oleh masyarakat kita. Masyarakat kita yg telah “terlatih dan terbina hanya “cukup” sebagai “komentator” saja..( spt saya sekarang ini.. he.he..). Untuk penanganan limbah mungkin prinsip “cradle to grave” ada baiknya sedikit diubah menjadi “cradle to cradle”, karena pada saat ini di Indonesia ada beberapa industri yg telah memanfaatkan “limbah” industri lain “sekedar” sebagai alternatif bahan bakar, atau sebagai bahan baku pendamping bahkan ada juga industri yg bahan baku utamanya dari “limbah” industri lain. Industri spt ini mestinya mendapatkan “reward” dari Pemerintah karena sedikit banyak telah mereduksi limbah. “Polluters pay principle” dimana produsen bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan atau sekarang lebih dikenal dengan ” Extended Producer Responsibility” perlu untuk diedukasikan ke masyarakat sehingga mendorong partisipasi swasta dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas-fasilitas pengolah limbah. Seperti diketahui limbah yang ada di TPA Surabaya dan kota-Kota lain di Indonesia di dominasi limbah plastik pembungkus dari salah satu produk mie yang sangat terkenal. Namun “kurang ada” kepedulian industri tersebut untuk “membantu” mengelola limbah yang dihasilkannya.
    Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda, memang saatnya untuk dikembangkan desain “socio engineering” yang bersifat “top down” yang dikombinasikan dengan pemberdayaan masyarakat (bottom up) untuk masalah sanitasi perkotaan.
    Dari beberapa hasil pemikiran dan tulisan Anda, sebenarnya Kota Surabaya sangat.. sangat membutuhkan Anda, bukan hanya sebagai “Planner” namun juga “pengambil keputusan” utuk pengembangan kedepan Sanitasi Perkotaan di Kota Surabaya yg kita cintai ini.

    Kind Regards

    Like

  2. menumbuhkan kesadaran per perilaku hidup bersih dan sehat sangat sulit bila belum kena kasus diare/kolera…
    kita perlu mengembangkan kesadaran, pola perilaku,hidup bersih dan sehat. salah satunya dengan clts
    yaitu menumbuhkan rasa jijik di kalangan masyarakat bila tidak menggunakan jamban keluarga…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s