Setelah konperensi perubahan iklim di Bali, Indonesia lalu bagaimana.

Konperensi COP13 UNFCCC di Bali tinggal beberapa hari. Tujuan utama konperensi ini adalah menegosiasikan kepentingan negara-negara berkembang kepada negara maju untuk perubahan iklim. Jadi akan ada tawar-menawar yang alot, antara negara berkembang yang kali ini dikomandoi Indonesia dengan negara maju. Sebagaimana layaknya negosiasi, tidak ada yang mudah dalam prosesnya. Negara-negara maju pasti minta kompensasi tertentu kalau mereka harus mengurangi emisi gas rumah kaca dinegaranya. Sebaliknya negara berkembang harus ngotot meminta ketegasan negara maju untuk pengurangan emisi. Sayangnya serunya negosiasi itu, tidak bisa dilihat semua orang.

Pada umumnya sebelum negosiasi, sudah harus disiapkan “jurus-jurus pamungkas” untuk mendapatkan “harga” tertinggi yang bisa didapatkan. Dalam COP13 UNFCCC, Indonesia mengagendakan 4 target utama yang ingin dicapai. Jadi untuk mendapatkan hasil maksimal, para negosiator biasanya harus menyiapkan bahan, argumentasi dan cara negosiasi yang handal. Prof. Emil Salim sebagai ketua delegasi Indonesia dalam negosiasi tentulah sudah mempersiapkan semua hal yang mungkin untuk mendapatkan hasil yang paling tinggi. Kemampuan Emil Salim sesungguhnya cukup baik dari segi substansi lingkungan hidup dan ekonomi. Tetapi karena negosiasi ini tidak semata masalah subsansi semata, maka lobby-lobby juga memegang peranan penting.

Kalau lobby-lobby yang efektif sudah dilakukan, maka proses negosiasi biasanya akan lebih mudah. Meski Amerika Serikat tidak meratifikasi Kyoto Protocol, tapi nampak tanda-tanda bahwa negara itu akan melunak dan ikut dalam program perlindungan iklim. Masalahnya adalah bagaimana melakukan loby ke Amerika supaya rumusan hasil negosiasi bisa sesuai harapan. Jepang merupakan negara terdepan yang bisa diharapkan melakukan loby ke Amerika. Jepang sendiri sudah merencanakan untuk melakukan pengurangan emisi sebesar 50% dari tingkat tahun 1990. Hal ini merupakan langkah luar biasa yang perlu perumusan bagaimana proses mencapai target itu.

Sesungguhnya untuk mencapai rumusan yang efektif, rasanya perlu beberapa tahap negosiasi. Dalam kaitan ini seberapa besar peran Indonesia bisa menggolkan negosiasi sesuai target. Dan yang lebih penting, komitmen Indonesia sendiri untuk melaksanakan perlindungan iklim harus dijabarkan dalam kegiatan operasional oleh semua komponen Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Momentum konperensi Bali jangan hanya punya gaung sesaat, setelah itu hilang dan komitmen yang dibangun juga ikut lenyap. Pemerintah dibawah komando SBY harus terus melaksanakan agenda perlindungan iklim yang dicanangkan di Bali. Menjadi tugas berat semua pihak untuk terus menggiatkan upaya perlindungan iklim melalui berbagai program dan kegiatan.

Kegiatan mitigasi (pencegahan) harus terus dilaksanakan oleh semua intansi pemerintah dengan menjabarkan menjadi program-program berkesinambungan. Harus ada petugas dan personil yang betul-betul memahami dan merealisasikan program mitigasi perubahan iklim. Sebagai contoh, Departemen Energi dan Sumber Daya mineral harus mencari sumber-sumber energi terbarukan yang ekonomis, sehingga gas rumah kaca bisa dikurangi secara signifikan.

Pada program adaptasi, perlu dirumuskan program-program operasional ditingkat nasional dan daerah. Kalau perubahan iklim sulit dihindari, maka berarti pembangunan dan pendayagunaan sepanjang pesisir pantai harus dikaji betul supaya tidak merugikan semua pihak. Banjir pasang di jalan Tol Bandara Cengkaren beberapa waktu lalu membuktikan betapa seriusnya upaya adaptasi yang harus dilakukan supaya kelancaran transportasi di jalan tol itu bisa terjamin.

Program mitigasi dan adaptasi kedengarannya sederhana, tapi tanpa penjabaran yang sungguh-sungguh, kita hanya akan menunggu hari pada saat bencana perubahan iklim datang. Kekeringan, angin puting beliung, topan, banjir air pasang adalah bencana perubahan iklim yang sudah didepan mata.

3 thoughts on “Setelah konperensi perubahan iklim di Bali, Indonesia lalu bagaimana.

  1. Saya ingin menanyakan hasil apa saja yang telah dicapai dalam negosiasi itu,,dan tolong saya diberikan bagaimana cara – cara untuk menjadi negosiator yang handal seperti Prof. Emil Salim

    Like

  2. Saya tidak ikut negosiasi, yang menjadi negosiator itu ditunjuk secara resmi oleh Pemerintah. Menjadi seorang negosiator UNFCCC, tentu saja selain pakar dibidang lingkungan dan pemanasan global, juga menguasai administrasi pemerintahan dan punya kemampuan negosiasi yang baik. Syarat detailnya saya tidak tau, mungkin bisa tanya langsung tanya Prof Emil Salim.

    Hasil COP 13 Bali bisa dilihat diberbagai media massa, akhirnya bisa merumuskan Road Map paska 2012. Hasil lain adalah disepakatinya upaya Indonesia menggolkan REDD.
    Semua hasil dari Bali baru berupa kesepakatan umum, untuk menjadikannya sebagai kegiatan opereasional, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada serangkaian proses administrasi yang harus dilakukan agar benar-benar diwujudkan dilapangan.

    Sesi yang saya ikuti adalah LOCAL CLIMATE SESSION, dimana seluruh peserta sudah mengeluarkan deklarasi yang menuntut pengurangan emisi bahkan sampai 80% dari pada tahun 2050 bagi negara maju dan 60% bagi negara berkembang. Tuntutan kota-kota ini sangat ambisius. Detail ada pada posting saya tanggal 28 desember 2007 yang lalu.

    Yang sangat disayangkan adalah Jepang, yang pada masa pemerintahan PM Shizo Abe sudah mencanangkan pengurangan emisi sampai 50% pada tahun 2050, ternyata kemudian berubah disaat PM Fukuda. Begitu juga Amerika, selama Presiden Bush, tentu tidak bisa diharapkan apa-apa. Para kandidat Presiden Amerika sekarang baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, belum memperlihatkan tanda-tanda mengenai perubahan iklim. Tapi semua kandidat mengusung isu PERUBAHAN. Mudah-mudahan termasuk perubahan iklim.

    Like

  3. nama saya runi nurhayati mahasiswa ilmu hubungan internasional universitas airlangga surabaya. sekarang ini saya sednag mengerjakan skripsi saya mengenai “Mekanisme REDD sebagai isu penting Indonesia pada UNFCCC 13”. Blh kah saya bertanya mengenai beberapa hal kepada bapak? karena saya sangat menglami kebingungan ketika membaca beragam artikel baik yang sifatnya internasional ataupun lokal. yang ingin saya tanyakan adalah:
    1. sebagaimana telah diketahui bahwa isu REDD ini tidak muncul secara tiba2, namun ada akomodasi pembahsan sebelumnya yaitu mengenai RED (Reducing Emissions from deforestation in Developing Countries) saat COP 11 di Montreal, Canada, namun saat itu topik ini tidak bisa dijadikan kesepakatan karena banyak negara Annex II yang tidak bersepakat. benarkah demikian? apakah alasan wacana REDD selama ini muncul berbasiskan pengulangan kembali “sejarah pembahasan RED” yang dulunya belum terakomodir?
    2. apakah negosiasi2 yang sebelumnya dilakukan oleh negara2 Annex II sewktu UNFCCC berlangsung, terkait dengan dana adaptasi dan mitigasi sudah terealisasikan ke Indonesia, maksudnya mereka sudah menyerahkan sebagian besar dana tersebut ke Indonesia? klo misalnya sudah, di alamat website mana saya bisa mengaksesnya?
    3. sebenarnya sudahkah hasil UNFCCC 13 berupa bali road map sudah diimplementasikan ke Indonesia, dan hasilnya berupa apa sampai Indonesia begitu getol memperjuangkan REDD ini, karena secara eksplisit sangat terlihat kalau Indonesia ingin membnagun citranya sebagai negara yang sangat serius mengembangkan nilai2 positifnya terhadap penanganan perubahan iklim guna mencapai serangkain tujuan ekonomi seperti mendapatkan dana bnatuan adaptasi dan mitigasi. sebenarnya apakah ada tujuan lain selain itu?
    4. negara2 pengahsil hutan yang tergabung dalam UNFCCC sebenarnya disebut apa? forestry 8, forestry 12 or coalition of rainforest nations? negara2 yang fix bergabung sapa ja?
    mohon bantuannya ya pak, karena saya benar2 sangat memerlukan kepastian data. terima kasih banyak sebelumnya.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s