Perawat rambut (creambath) dan manicure.

Akhir bulan lalu saya menemani istri untuk merawat rambut alias creambath di sebuah tempat penataan rambut. Istri sengaja memilih creambath ditempat pelatihan dimana pelayanan dilakukan oleh “pekerja magang” . Istri saya ingin mempelajari seluk beluk perawatan rambut. Maka kamipun menuju salah satu “training center” di salah satu mall di Surabaya. Dengan creambath di training center itu, kami bisa tanya sana-sini kepada pekerjanya tentang penggajian karyawan, bonus, jam kerja dan lain-lain yang berhubungan dengan pengelolaan perawatan rambut.

Istri saya “mewawancarai” Hany (bukan nama sebenarnya), yang merupakan pekerja yang melayani creambath. Kalau  bertanya kepada pengelola “training center” sudah tentu tidak akan mendapatkan informasi yang diinginkan. Sambil meladeni istri, Hany bercerita bahwa ia sudah hampir 6 bulan magang di JA training center itu.

“Biasanya belajarnya antara 6 sampai 8 bulan, baru habis itu dipekerjakan”, kata Hany pada istri saya.

Selama hampir 8 bulan para pekerja itu “magang” di training center, kemudian setelah lulus magang mereka dipekerjakan di salon kecantikan JA yang mempunyai jaringan waralaba di berbagai kota besar. Selama magang para pekerja sambil belajar melakukan perawatan seperti creambath, manicure, pedicure, foot massage dan back massage. Hany bercerita kalau para pekerja magang diberi uang makan sebesar Rp 13.000,- (tiga belas ribu rupiah)  saja sehari.  Tidak ada transport, tidak ada upah dan lainnya. Mereka biasanya magang dari jam 10.00 sampai jam 20.00. Kalau hari Sabtu dan Minggu nyaris tidak bisa istirahat siang karena banyaknya pelanggan yang mau dilayani. Seperti hari itu istri saya harus antri lebih kurang setengah jam untuk bisa creambath, padahal para pekerja magang itu jumlahnya hampir 15 orang.

Setiap hari Hany bekerja magang dan dihargai tiga belas ribu. Sementara tidak jauh dari tempat Hany magang di mall itu, harga secangkir kopi paling tidak lima belas ribu. Hany sudah 6 bulan magang, ketrampilannya untuk creambath masih belum baik, entah karena instrukturnya kurang cekatan atau karena ia sendiri kurang konsentrasi untuk belajar. Tapi ia rela menjalaninya dengan harapan bisa bekerja menjadi perawat di salon kecantikan rambut.  Kalaupun nantinya ia selesai magang dan kemudian bekerja, gajinya juga tidak terlalu memadai.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan manjadikan orang rela magang selama 6 bulan untuk menjadi pekerja salon kecantikan rambut. Belitan persoalan ini seolah menjadi menu sehari-hari yang bisa dilihat disekitar kita.  Untuk mendapatkan pekerjaan sangat begitu rumitnya, bahkan seolah suatu hal yang sangat sulit untuk diperoleh.  Negara ini memang masih miskin, banyak orang yang hidupnya sangat memprihatinkan. Sulit membayangkan suatu hari Hany akan terbebas dari kemiskinan, masih syukur kalau ia tidak tergoda untuk “bekerja sampingan” melayani orang iseng. Bekerja di salon perawatan rambut, godaan iseng sering terjadi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s