Kebijakan setengah hati, mengganti BBM untuk kendaraan pribadi

Wakil Presiden Yusuf Kalla mengatakan bahwa Pemerintah akan mengambil kebijakan pengurangan subsidi BBM, khusus untuk kendaraan pribadi roda empat. Dengan kebijakan itu direncanakan mulai Januari 2008, BBM untuk kendaraaan pribadi akan dibanderoli Rp. 6.750 per liter. Untuk melengkapi justifikasinya, disebutkan BBM itu akan ditingkatkan nilai oktannya menjadi 90 dari BBM premium dengan oktan 88 sekarang ini. Tahap pertama wilayah pelayanan BBM oktan 90 meliputi Jabodetabek. Kebijakan ini saya nilai serba tanggung, tidak menyelesaikan persoalan yang ada, baik dari aspek subsidinya atau pun untuk perlindungan lingkungan. Jadinya malahan tidak akan jelas hasilnya.

Dengan pengurangan subsidi khusus untuk kendaraan pribadi tersebut diharapkan akan bisa mengurangi subsidi triliunan rupiah. Akan tetapi sesungguhnya kebijakan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ia hanya memberi efek sesaat yang tidak signifikan. Pemerintah seharusnya lebih tegas dan lebih berani untuk menghapus subsidi BBM secara keseluruhan agar masalah yang sudah belasan tahun ini bisa diselesaikan. Menghapus subsidi BBM secara keseluruhan memang penuh resiko. Gejolak masyarakat akan timbul. Sudah bisa diduga akan ada penolakan dari masyarakat, demo akan bermunculan. Tapi membiarkan subsidi BBM membebani keuangan negara juga bukan langkah yang baik. Penjelasan secara terbuka tentang dampak subsidi BBM pada akhirnya akan bisa diterima masyarakat. Sesungguhnya secara keseluruhan beban subsidi BBM tidak hanya memberatkan keuangan negara tetapi juga membebani ekonomi secara keseluruhan. Masyarakat juga menanggung beban akibat subsidi BBM. Kalau kalkulasi subsidi BBM disampaikan secara terbuka dan masyarakat membandingkan sendiri perbedaan “total cost” antara BBM bersubsidi dan BBM tanpa subsidi, maka masyarakat nantinya akan menilai sendiri mana yang lebih baik.

Kalau saja subsidi BBM dihapus dan diberlakukan mekanisme pasar seperti dinegara-negara lainnya di Asia, maka masyarakat akan melakukan “adaptasi” terhadap kebijakan itu. Dengan harga BBM berkisar antara Rp. 9.000 sampai Rp 10.000 perliter, maka gerakan penghematan akan menjadi pilihan. Masyarakat akan berhitung dengan teliti sebelum melakukan kegiatan yang memerlukan atau berdampak terhadap penggunaan BBM. Dengan sendirinya masyarakat akan melakukan penyesuaian dengan kondisi itu. Ada resiko sebagian masyarakat akan mengalami penurunan kemampuan daya beli. Untuk itu perlu disiapkan instrumen ekonomi untuk memberikan insentif bagi kelompok masyarakat tersebut.

Kebijakan yang akan dilaksanakan Januari 2008 itu kelihatannya hanya setengah hati, mau bertahan di harga sekarang, maka subsidi untuk BBM dalam APBN bertambah besar karena naiknya harga minyak dunia. Kalau menghapus subsidi BBM secara keseluruhan, kuatir gejolak masyarakat akan digunakan untuk “menggoyang” kepemimpinan pemerintahan SBY-Kalla. Jalan tengah diambil, merupakan pilihan sulit pada pemerintah. Tapi jalan tengah inipun tidak menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya. Ibarat penyakit, yang diobati hanya rasa sakitnya saja, tidak memusnahkan virus penyebab penyakit itu sendiri.

Dasri aspek lingkungan hidup, subsidi BBM harus diikuti dengan upaya meyiapkan BBM yang ramah lingkungan. Jadi penghapusan subsidi harus dibarengi dengan penyediaan BBM yang tingkat emisinya rendah. Mestinya subsidi tidak hanya diberikan untuk pemakaian bensin kendaraan pribadi, tapi harus mencakup seluruh jenis BBM. Dengan demikian maka manfaat yang diperoleh akan menjadi lebih signifikan untuk menekan emisi gas buang.

Emisi gas buang dari bahan bakar premium oktan 90 akan lebih rendah, tetapi dengan masih adanya bensin premium oktan 88 dan BBM jenis lain yang mempunyai emisi gas buang tinggi, secara keseluruhan perubahan kebijakan itu tidak dapat dikatakan berhasil. Untuk mengurangi pencemaran emisi kendaraan bermotor, Pemerintah mestinya lebih tegas untuk menghapus BBM dengan emisi tinggi. Kebijakan itu harusnya mencakup seluruh jenis BBM termasuk solar, minyak tanah minyak disel, dan BBM lainnya. Dengan kebijakan menyeluruh akan lebih mudah mengukur indikator perbaikan lingkungan yang diakibatkan oleh emisi kendaraan gas buang.

One thought on “Kebijakan setengah hati, mengganti BBM untuk kendaraan pribadi

  1. Baru seminggu, Wapres merencanakan kebijakan baru, sekarang kebijakan itu sudah dinayatakan akan dievaluasi untuk ditunda. Kenaikan harga minyak dunia, diantisipasi secara terburu-buru, belum apa-apa sudah berubah pendirian.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s