Sulitnya melepaskan kacamata kuda

Masih ingat dokar alias bendi ?, suatu alat transportasi yang ditarik kuda. Alat transportasi ini semakin terpinggirkan dengan masuknya mesin-mesin. Perlengkapan standar kuda pada dokar atau bendi adalah kacamata yang dirancang sedemikian rupa sehingga kuda hanya melihat lurus kedepan dan tidak bisa melihat keadaan disampingnya. Tujuan kacamata kuda ini adalah untuk mengarahkan kuda supaya dalam menarik dokar atau bendi tidak terganggu oleh pemandangan disekelilingnya. Dengan begitu kuda lebih mudah dikendalikan.

Kacamata kuda diperlukan kusir (pengemudi) untuk memudahkan pekerjaannya. Kacamata kuda sering juga digunakan sebagai analogi bagi pandangan yang sempit. Orang yang menganalisa suatu masalah dari sudut pandang sempit sering disebut orang yang menggunakan kacamata kuda.  Biasanya orang yang mempunyai sudut pandang sempit adalah orang yang sangat terbatas pengetahuannya, atau agak keras kepala. Meski demikian ada juga orang yang sudah mempunyai pendidikan formal cukup banyak, tapi wawasan dan sudut pandangnya sempit. Yang terakhir ini perlu agak dicermati, apakah pendidikan formal yang dimiliki mempunyai kualitas yang mumpuni atau tidak.

Ada sementara orang yang sangat sulit melepaskan kacamata kudanya ketika menganalisa atau mengupas suatu permasalahan. Meski mengutip berbagai refensi dan sumber, tetapi ketika menganalisa suatu permasalahan, muaranya tetap pada suatu kesimpulan yang ia inginkan. Kacamata kuda tidak bisa dilepaskan meski ada pendapat lain yang juga relevan dan perlu diperhatikan. Dalam kondisi seperti ini, sampai kapanpun kacamata kudanya tidak bisa dilepaskan.

Contoh kecil yang saya alami baru-baru ini adalah ketika sejumlah mahasiswa mencoba mengupas global warming pada saat pelaksanaan konperensi COP13 di Bali beberapa waktu lalu. Saya ditugasi memberikan beberapa isu/catatan untuk menyikapi perubahan iklim.  Saya menjelaskan bahwa iklim sudah berubah, karena itu kita harus juga merubah perilaku dan gaya hidup agar pemanasan global bisa dikurangi. Berbagai contoh sederhana yang bisa dilaksanakan semua orang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca saya jelaskan. Contoh-contoh itu bisa dilaksanakan oleh semua orang di rumah, di kantor, di sekolah/kampus atau ditempat-tempat umum.
Pembicara lainnya melihat perubahan iklim sebagai akibat dari perbuatan negara-negara maju kapitalis yang serakah.  Berbagai cuplikan informasi diungkapkan bahwa pemanasan global adalah buah dari keserakahan dan arogansi Amerika. Ujung-ujungnya bahasan pembicara ini adalah caci-maki terhadap dunia Barat terutama Amerika yang dianggap sebagai monster yang mencelakakan dunia.

Diskusi publik yang saya nilai baik untuk membicarakan pemanasan global, kemudian  menjadi melenceng dari tujuannya, karena ada orang yang tidak bisa melepaskan kacamata kudanya ketika membahas isu perubahan iklim. Dalam istilah Surabaya sipembicara menggunakan “ilmu pokok e“. Pokok, e Amerika salah, karena itu harus dilawan.

*****************

Himpunan mahasiswa Karisma UNAIR Surabaya, tanggal 15 Desember 2007, melaksanakan diskusi publik tentang global warming.  Saya ditugasi untuk menyampaikan catatan tentang global warming.

3 thoughts on “Sulitnya melepaskan kacamata kuda

  1. emang kenyataanya, global warming disebabkan oleh budaya kapitalistik kok, jadi gak salah donk, klo nyalahin amerika.

    Like

  2. saya juga salah seorang yang hadir dalam diskusi tersebut.
    saya rasa justru jika memandang hanya dari segi lingkunganlah yang parsial. memandang kasus harus secara holistik termasuk penyebab masalah itu sendiri. memang GW akarnya ya kapitalisme, cara merubahnya selain dari sendiri sendirim seperti yang bapak paparkan, juga LAWAN KAPITALISME!!!

    Like

  3. Saya melihat pemanasan global sebagai peringatan bagi manusia untuk lebih peduli secara universal. Yang utama adalah bagaimana mengurangi laju pemanasan global dengan tindakan nyata dari masing-masing orang.

    Menyalahkan pihak lain yang menjadi penyebab, tidak cukup. Diperlukan kebesaran jiwa dan hati, bahwa meski orang lain berbuat negatif, tapi kita ingin mengurangi pemanasan global secara nyata. Itu lebih bermakna daripada menyalahkan pihak lain semata.

    Kalau memang mau melakukan upaya konfrontatif kepada para penyebab pemanasan global, lawanlah di forum yang berhadapan langsung. Kalau cuma teriak-teriak di rumah sendiri, yang dilawan saja tidak dengar, boro-boro dia mau berubah sikap.

    Kalau tujuannya untuk konsolidasi internal, lebih terpuji dengan tidak menjelek-jelekan pihak lain.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s