Resolusi Akhir Tahun

Barangkali belum terbiasa bagi kita membuat resolusi akhir tahun, dimana seseorang membuat pernyataan tentang apa yang ingin dicapai di tahun berikutnya. Budaya resolusi akhir tahun memang berasal dari Barat, di tempat asalnya, kebanyakan orang membuat pernyataan didepan kerabat atau keluarga, harapan yang ingin diwujudkan pada tahun berikutnya. Resolusi itu dimaksudkan untuk memotivasi diri agar bekerja lebih giat sehingga ada target pribadi yang ingin dicapai. Dimasyarakat kita kebiasaan ini belum banyak dilakukan. Kalau resolusi positif kenapa tidak dicoba.

Ada orang yang beranggapan membuat resolusi pribadi akhir tahun hanyalah semacam “pamer” kekuatan. Kalau resolusinya berhasil mungkin bagus, tapi kalau tidak berhasil ya dianggap malu-malu in aja. Membuat resolusi akhir tahun dianggap sebagai kesombongan dan gagah-gagahan. Pendapat ini mungkin berlatar belakang karena orang Timur biasanya tidak suka pamer.  Pamali kalau “sok pamer” bikin keinginan dan target tahunan. Orang lebih suka “mendem jero”, hidup dan bekerja tidak harus ngoyo dan membual tentang keinginan. Kultur keTimuran memandang hal seperti itu sebagai arogansi. “Kualat loh, kalau mendahului rencana Yang Kuasa”, begitu sering ucapan yang terdengar.

Dengan latar belakang keTimuran yang demikian, maka masyarakat cenderung beranggapan resolusi akhir tahun sebagai hal yang agak “pamali”. Berbeda halnya dengan masyarakat Barat, resolusi akhir tahun dinilai sebagai suatu hal yang penting, yang dapat memberikan semangat dan motivasi pada tahun yang baru. Resolusi dipandang sebagai rencana kerja pribadi selama setahun, rencana itu menjadi ukuran apakah akan berhasil atau gagal dalam menjalani kehidupan pada tahun itu.  Supaya rencana kerja pribadi itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka dideklarasikan supaya ada pihak dan orang lain yang mengetahui rencana dimaksud. Semakin banyak orang yang mengetahui resolusi itu, biasanya komitmen untuk melaksanakan dan usaha untuk mencapainya semakin tinggi. 

Resolusi yang dibuat haruslah realistis dan tidak muluk-muluk. Tetapi rsolusi yang terlalu mudah dicapai juga tidak memberikan banyak manfaat. Resolusi haruslah tetap mempunyai tantangan, semakin tinggi tantangannya semakin tinggi pula nilai kepuasan yang akan didapatkan. Karena itu resolusi dijadikan sebagai pendorong dan memotivasi seseorang untuk melakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Seorang ibu yang sedang hamil muda membuat resolusi, bahwa ketika melahirkan nanti di tahun yang baru ia bertekat untuk tidak merasa takut pada saat persalinan. Contoh resolusi yang lain adalah yang dibuat oleh seorang perokok berat yang bertekat untuk berhenti merokok pada tahun mendatang. Contoh lain adalah resolusi seorang salesman yang mentargetkan penjualan dua kali lipat dari tahun sebelumnya sehingga ia akan memperoleh bonus liburan ke luar negeri.

Resolusi yang realistis adalah resolusi yang dapat diukur keberhasilannya, ada ukuran-ukuran yang ditetapkan sehingga sipembuat resolusi bisa melihat tingkat keberhasilan yang dicapai. Resolusi yang terlalu umum, akan sulit dievaluasi dan cenderung tidak memberikan motivasi. Contoh resolusi yang terlalu umummisalnya:, “Saya ingin kaya ditahun 2008”. Resolusi semacam ini memang sederhana, tapi tidak bermakna apa-apa, karena target yang ditetapkan tidak dapat diukur. Kaya mempunyai nilai subyektifitas yang sangat tinggi dan sangat sulit diukur. Maka dari itu resolusi yang dibuat mestilah sesuatu harapan yang menantang dan memberikan motivasi untuk mencapainya.
Untuk blog ini, resolusi tahun 2008 adalah agar Kaki Lima bisa menjadi lebih enak dibaca, memberikan suatu nilai tambah dan hitnya bisa mencapai 25 ribu di akhir tahun, tanpa memuat posting kontroversial. Bisa ?.

4 thoughts on “Resolusi Akhir Tahun

  1. Hits 25.000 di akhir tahun? Itu namanya bukan target yang menantang, karena kemungkinan sudah tercapai pada bulan kedelapan, pas perayaan hari Kemerdekaan.

    Kalau gitu yang paling penting adalah Kaki Lima harus enak dibaca dan kian bermanfaat, baik bagi pemilik blog maupun pengunjungnya.

    Selamat Tahun Baru 2008

    Horas
    Raja Huta

    Like

  2. Angka memang tidak penting, yang utama adalah semakin enak dibaca dan bermanfaat. Kalau mau mengejar angka mungkin tidak terlalu sulit, banyak cara untuk itu, termasuk menulis isu kontroversial, sara dan yang memancing polemik. Saya menghindari itu.
    Sempat hampir terjebak, tulis isu kontroversial dan dipublish selama kira-kira 20 menit, tapi setelah saya baca lagi, saya putuskan untuk di delete.
    Yang paling sulit adalah menyajikan tulisan yang semakin enak dibaca, padahal modal saya cuma “dengkul nekat”. Tidak pernah belajar menulis secara formal.
    Tapi why not?.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s