Tahun baru, bencana baru, bagaimana mencegahnya

Miris rasanya melihat media beberapa hari ini, dimana-mana beritanya tentang bajir, tanah longsor, puting beliung, gelombang pasang, kapal tenggelam dan lain-lain. Korban berjatuhan, mulai dari yang meninggal, kehilangan tempat tinggal sampai yang kedinginan dan kelaparan menunggu bantuan. Sepanjang tahun 2007 bencana seolah tidak lepas terjadi di negeri ini. Memasuki tahun baru 2008, sepertinya juga tidak luput dari kejadian memilukan, pergantian tahun seolah dihantar dengan perpanjangan penderitaan saja. Tahun baru dihantui dengan bencana baru.

Bahkan Presiden SBY mengisyaratkan masih banyaknya bencana yang bakal terjadi. Prakiraan cuaca mengindikasikan masih terjadinya hujan yang sangat tinggi selain badai dan angin puting beliung yang akan terjadi. Bencana terjadi seperti lagu medley yang terus sambung menyambung tanpa henti di berbagai daerah. Kita seperti tidak bisa menghindar dan berbuat banyak dari bencana berantai.

Tapi benarkah kita tidak bisa menghindari rentetan bencana itu ?. Pertanyaan ini wajib dicermati dan dikaji secara mendalam. Sebagian besar rentetan bencana itu merupakan bencana lingkungan hidup, banjir dan tanah longsor adalah karena tanah gundul dan sedimentasi di waduk. Tanah gundul karena penebangan hutan dan pertanian yang sembrono, sehingga tidak mengherankan kemudian hujan yang turun langsung menerjang kawasan hilir.

Waduk menjadi semakin dangkal karena sedimen dan erosi hutan dan pertanian yang masuk ke bendungan. Sebagian besar bendungan juga menampung limbah pertanian dan limbah penduduk, yang menyebabkan pendangkalan waduk semakin cepat. Ketika hujan turun, kapasitas waduk yang semakin dangkal tidak mampu menampung air, dan akhirnya meluap kedaerah hilir.

Kesimpulannya banjir dan tanah longsor adalah akibat ulah manusia yang tidak peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Manusia membabat hutan tanpa upaya memulihkan fungsi hutan, mengelola pertanian tanpa memperhatikan konservasi, membangun kota tanpa peduli keseimbangan ekologi. Pendek kata, kegiatan manusia hanya memikirkan kebutuhan jangka pendek, padahal dalam jangka panjang kerugian yang timbul sangat besar dan sulit untuk ditanggulangi.  Pembangunan disegala bidang berjalan sendiri-sendiri tidak mempertimbangkan keseimbangan ekologi, tidak memperhitungkan kapasitas lingkungan. Eksploitasi alam dilakukan untuk mendapatkan keuntungan sesaat, padahal dalam jangka panjang akan menjadi bencana yang menghantam seluruh aspek kehidupan.

Seandainya para perencana dan pelaksana pembangunan cukup bijak dan cerdas, maka bencana banjir, tanah longsor perubahan iklim dapat dicegah. Semua bencana telah terjadi, saatnya sekarang menanggulanginya dengan bersama-sama. Semua pihak harus secara bersama menjadikan pertimbangan kelestarian lingkungan dan alam sebagai pertimbangan yang penting, sehingga kegiatan yang dilaksanakan benar-benar menghitung resiko lingkungan yang ada. Semua pihak harus bersama-sama berbuat dan bekerja untuk menyelamatkan dan memulihkan lingkungan sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Menyalahkan penyebabnya saja tidak cukup,  kini saatnya bekerja membantu korban dan melestarikan lingkungan. Semua harus ikut, semua harus ambil bagian. Kalau itu terjadi, kita bisa berharap, suatu saat nanti bencana lingkungan akan semakin kecil dan pada saatnya bisa dihentikan. Mengapa tidak!.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s