Aji mumpung, meyalahgunakan tugas ditengah penderitaan orang lain

Sudah jatuh, ditimpa tangga, kena pakunya lagi. Mungkin itu yang bisa dikatakan pada korban banjir Bojonegoro Jawa Timur. Bagaimana tidak, rumah sudah tenggelam, barang-barang rusak, mau mengungsi disuruh bayar perahu dengan harga yang tidak masuk akal. Menarik ongkos perahu dari korban banjir yang mau mengungsi rasanya sungguh sangat keterlaluan, apalagi konon dilakukan oleh petugas yang seharusnya memberikan bantuan. Sudah sedemikian parahkan moral aji mumpung kita, ada orang menyalahgunakan tugas menangguk keuntungan dari orang yang sedang dirundung derita .

Tapi itulah yang terungkap di media massa, kejadian yang sungguh memalukan di Bojonegoro yang tengah dilanda banjir. Petugas instansi yang seharusnya memberikan perahu dengan gratis, malah memungut biaya sewa perahu yang hampir Rp. 1 juta per hari. Meski pimpinan instansi tersebut membantah, bahwa perahu yang disiapkan tidak bayar, tetapi kenyataannya ada petugas lapangan yang meminta imbalan dari penggunaan perahu.

Inilah potret bangsa kita. Disaat saudara kita tengah berjuang dalam menghadapi musibah, ada orang yang memanfaatkan musibah untuk mencari keuntungan sendiri. Sangat ironis, bukannya membantu tapi malah memeras. Kalau belum “mampu” membantu ya jangan sampai memanfaatkan penderitaan orang lain untuk mengeruk keuntungan.

Kejadian “pemerasan” terhadap korban musibah di Bojonegoro itu bukan yang pertama kali. Kalau kita membuka arsip berita-berita lalu, banyak kejadian serupa di berbagai belahan negeri ini. Di beberapa bencana yang terjadi, oknum-oknum tertentu malah menyelewengkan bantuan, dan masuk ke dompet sendiri. Konon bahkan oknum dari lembaga keagaamaan pun ada yang menilap bantuan dari luar negeri yang seharusnya diteruskan kepada korban bencana. Dari informasi yang saya dengar, hal serupa juga terjadi ketika bencana tsunami di Aceh dan Nias.

Kalau sudah seperti ini, rasanya ada yang keliru dalam masyarakat kita. Solidaritas kemanusiaan kita perlu dipertanyakan, apakah masih ada rasa peduli akan kondisi orang disekeliling kita. Padahal secara formal, kita selalu mendengungkan sebagai bangsa yang religius dan penolong. Yang melakukan memang oknum, tapi mungkin dari kejadian yang terulang berkali-kali, itu adalah tanda-tanda kekeliruan sistemik. Ada sistem kemasyarakatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau sinyalemen ini ada benarnya, maka sesungguhnya kita sedang dalam kondisi yang parah. Waktunya instrospeksi diri, memohon bimbingan Ilahi. Aji mumpung bukan jamannya lagi.

4 thoughts on “Aji mumpung, meyalahgunakan tugas ditengah penderitaan orang lain

  1. Biadab memang orang-orang semacam itu.

    Di Jakarta, saluran-saluran air sengaja tidak dibersihkan oleh unsur birokrasi pemda yang mengurus itu, karena mereka bakal tidak dapat duit kalau sampai Jakarta tidak kebanjiran.

    Masyarakat yang tinggal di bantaran kali juga bakal marah kalau tidak kebanjiran, sebab macam-macam bantuan rutin tidak akan “membanjiri” mereka.

    Tulisan lae tepat betul menggambarkan perilaku kriminal di balik istilah aji mumpung itu. Waktunya introspeksi. Waktunya untuk berhenti hidup mewah dari hasil mencuri atau menipu.

    Tapi adakah di antara kita yang tahan hidup proporsional, ketika lingkungan sekitar sudah kadung ultra pragmatis dan konsumtif?

    Like

  2. Itulah Indonesia.
    Ada orang yang mencari uang dari keadaan yang kacau, sampai mereka kadang-kadang sengaja membuat kekacauan supaya bisa cari uang.
    Ada orang yang memanfaatkan bencana dan kekacauan sebagai sumber pencaharian (memanfaatkan penderitaan orang lain).

    Like

  3. aji mumpung ini budaya merusak yang telah mengurat akar, warisan orba kah? atau hanya sifat manusiawi yang sebetulnya normal ada pada sekelompok orang tertentu? kalau warisan orba, sepertinya rantainya harus diputus dulu, mungkinkah dengan melenyapkan satu generasi? wah serem deh..

    Like

  4. Aji mumpung itu kebiasaan orang-orang serakah baik dimasa lalu dan dimasa kini. Karena banyaknya orang serakah, sampai mempengaruhi tatanan masyarakat bahkan merusaknya.
    Ketamakan itulah yang harus diberantas, dibangun suatu sistem dimana penyakit ketamakan sulit berkembang.
    Inilah pekerjaan beratnya. Tapi kalau mau, mesti bisa dilakukan.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s