Poor & appropriate highway planning dalam pengembangan wilayah.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan melalui jalan tol Cikampek-Padalarang (Cipularang ?) dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Saya mulai masuk tol dari gerbang tol Bintaro sampai berakhir di Pasteur di Bandung dengan waktu 2 jam 10 menit, sudah termasuk berhenti di peristirahatan untuk “pis” dan beli air minum. Sejak Cipularang dioperasikan, itulah pertama kalinya saya melalui jalan itu. Meski sepintas mengamati fasilitas jalan tol, saya bisa melihat bahwa Cipularang sudah mengantisipasi pengembangan wilayah Jawa Barat di sekitar kawasan jalan tol tersebut.

Jalan tol Cipularang melintasi wilayah berbukit-bukit sehingga pemandangan sepanjang jalan tol cukup indah. Kawasan perbukitan disisi kiri dan kanan jalan memberikan kenyamanan mata memandang. Bukit-bukit dipisahkan oleh lembah dimana terdapat sawah-sawah serta dan kebun masyarakat. Kawasan ini masih banyak berupa hutan dan kebun yang ditumbuhi pepohonan. 

Keberadaan jalan tol membentang kawasan ini sehingga kawasan yang tadinya merupakan satu kesatuan menjadi terbelah disisi kiri dan sisi kanan jalan tol. Untuk mengubungkan kawasan di kiri dan kanan jalan tol dibangun beberapa “crossing” berupa “underpass” dan “overpass”, sehingga sisi kiri jalan tol tetap terhubungkan dengan sisi kanan jalan tol.  Jumlah fasilitas “crossing” cukup banyak, bahkan ada beberapa yang kelihatannya belum termanfaatkan. Ada fasilitas “crossing” yang baru dibangun hanya bagian bawahnya berupa pondasi saja. Hal ini mungkin karena crossing itu dibuat untuk pemanfaatan beberapa tahun lagi. Tetapi bangunan dasarnya telah disiapkan.

Fasilitas “crossing” di jalan tol Cipularang sudah mengantisipasi kebutuhan pada masa yang akan datang, terutama untuk pengembangan kawasan sekitar jalan tol. Highway planningnya sudah mempertimbangkan pengembangan kawasan regional (regional planning). Sehingga meskipun secara fisik jalan tol memisahkan kawasan menjadi dua bagian, tetapi akses kedua kawasan yang dipisahkan terencana dengan baik.  Ketika perkembangan pembangunan dikawasan jalan tol meningkat, keberadaan jalan tol tidak menjadi penghambat akses kawasan sekitar jalan tol.

Keadaan fasilitas crossing jalan tol Cipularang terbalik dengan keadaan crossing jalan tol Surabaya-Gempol (Porong). Sepanjang jalan tol Surabaya-Porong, terdapat banyak crossing yang berupa overpass. Akan tetapi keberadaan overpas tidak mempertimbangkan kebutuhan pegembangan wilayah. Jalan tol pada awalnya hanya mempunyai dua lajur dimasing-masing jalur. Sejalan dengan perkembangan kota Surabaya dan Jawa Timur, kapasitas jalan tol Surabaya-Porong harus ditingkatkan menjadi 3 lajur, khususnya diwilayah Surabaya. Ketika pengembangan jalan tol menjadi 3 lajur, fasilitas jalan tol Surabaya-Porong tidak mendukung. Overpass yang ada ditopang oleh dua kolom beton yang ditempatkan disamping bahu jalan tol.  Penempatan kedua beton penyangga tersebut sedemikian rupa persis disamping bahu jalan. Tidak ada beton penyangga di median jalan.

Ketika jalan tol harus diperluas menjadi 3 lajur, beton penyangga harus dibongkar dan dipindahkan. Hal ini terjadi karena perencana jalan tol Surabaya-Porong tidak mengantisipasi adanya pengembangan jalan tol. Designer jalan tol Surabaya-Porong tidak mempunyai antisipasi terhadap perkembangan wilayah. Tidak diperhitungkan bahwa setelah 20 tahun kapasitas jalan harus ditambah. Padahal umur jalan tol Surabaya-Porong baru sekitar 20 tahunan, fasilitas overpass mestinya dirancang untuk umur pakai sampai 50 tahun, tapi 20 tahun sudah harus diganti. Inilah yang disebut poor highway planning.

Kekurangan jalan tol Surabaya-porong yang lain adalah, ukuran overpass, terutama diwilayah Sidoarjo. Umumnya overpass yang ada mempunyai lebar jalan sekitar 4 meter, sehingga, overpass tersebut tidak dapat menampung kendaraan mobil untuk dua arah. Kondisi ini sudah tentu menghambat akses Timur dan Barat jalan tol. Perkembangan Sidoarjo sangat cepat, kehadiran jalan tol malah seakan menghambat pengembangan wilayah Kabupaten Sidoarjo. Perkembangan sisi barat jalan tol tertinggal dari sisi Timur, karena sisi Timur mempunyai akses yang lebih baik. Kabupaten Sidoarjo sudah berulangkali komplain karena keberadaan jalan tol Surabaya-Porong menghambat pengembangan kabupaten Sidoarjo secara keseluruhan karena ketimpangan pengembangan wilayah. Kondisi ini tentu merugikan pengembangan wilayah Surabaya-Sidoarjo. Perencana jalan tol Surabaya-Porong keliru memperkirakan perkembangan kabupaten Sidoarjo.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s