Tempe kok jadi mahal ya??

Ada beberapa pengalaman saya yang menarik tentang tempe. Yang pertama tentang pengolahan tempe yang pernah saya lihat, yang menjadi suatu kesan yang mendalam bagi saya. Tapi kali ini saya ingin menulis pengalaman kedua yang menurut saya juga menarik. Kenapa tempe, makanan sehari-hari itu menjadi seolah tidak terjangkau sekarang. Harga kedelai impor asal Amerika melambung, tempe jadi mahal.

Sejatinya kedelai adalah palawija yang sudah sangat lama dikenal masyarakat Indonesia. Kedelai ditanam petani hampir diseluruh bagian negeri ini. Masyarakat tau persis bagaimana membudidayakan kedelai. Ia dikonsumsi menjadi tempe dan tahu, yang merupakan makanan masyarakat awam. Tapi bagaimana ceritanya kok kemudian untuk membuat tempe, Indonesia harus mengimpor kedelai dari luar negeri?.

Impor kedelai sebenarnya sudah lama dilakukan, sejak awal masa Orde Baru dijaman Soeharto. Ketika jumlah penduduk Indonesia bertambah dengan cepat, kebutuhan kedelaipun ikut meningkat. Kala itu Pemerintahan Soeharto memanfaatkan peningkatan kebutuhan kedelai dengan melakukan impor kedelai. Kebijakan impor sengaja diambil, dan bukannya meningkatkan pertanian kedelai secara sungguh-sungguh. Kenapa, karena dengan mengimpor, maka para pedagang “kroni” pejabat akan mengambil keuntungan. (Biasanya “keuntungan” itu dibagi juga ke orang yang meloloskan kebijakan impor (kedelai). Malahan banyak yang menyelundupkan kedelai ke Indonesia.

Kalau kebijakannya waktu itu mengintensifkan pertanian kedelai, tentu saja para pedagang itu tidak bisa bermain. Inilah pangkal ketergantungan kepada kedelai impor. Kebijakan ini diambil oleh orang-orang yang didikte oleh pedagang (kedelai). Apalagi kemudian KOPTI (koperasi tahu tempe Indonesia) juga dikooptasi, maka merajalelalah pedagang (kedelai). Kebutuhan akan kedelai terus meningkat, akhirnya ketergantungan pada kedelai impor sangat besar. Sementara pertanian kedelai tidak berkembang, petani malahan dikuasai pengijon.Sempurnalah ketergantungan dan semakin besarlah keuntungan para pengimpor kedelai.

Sekarang harga kedelai Amerika naik, pedagang kedelai impor semakin berpesta pora. Yang tunggang langgang adalah pengusaha tempe dan tahu, yang tak mampu membeli kedelai mahal. Buntutnya harga tempe yang meskipun sudah dibonsai tetap harus naik. Pengusaha kecil menjerit.

Kebijakan impor kedelai yang demikian, juga diadaptasi untuk impor beras.Bukannya memajukan pertanian, tapi mengimpor beras, supaya importir beras menangguk keuntungan besar. Kebijakan yang sama juga dilakukan terhadap BBM. Sejak dulu, Indonesia yang menjadi produsen minyak mentah, kebijakannya bukannya mengembangkan kilang minyak untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM. Kebijakannya malah mengekspor minyak mentah dan mengimpor BBM. Aneh tapi nyata.

Jadi kalo tempe sekarang mahal, ya itu adalah akibat warisan kebijakan yang sudah terlanjur terlalu jauh salahnya. Oalaaaa…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s