Ketika peraturan gagal menjadi instrumen pengaturan

Carut marut peraturan dan perangkatnya sedemikian ruwet, sehingga peraturan yang dibuat seringkali tidak dapat mencapai tujuannya karena ketentuan yang mengatur peraturan itu sendiri tidak dapat berfungsi. Contohnya adalah apa yang sedang dikerjakan oleh DPRD Kota Surabaya saat ini ketika sedang menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pengendalian pencemaran udara. 

Peraturan daerah (Perda) pengendalian pencemaran udara (PPU) dimaksudkan untuk menjadi instrumen hukum dalam upaya meningkatkan kualitas udara perkotaan Surabaya. Dengan Perda tersebut, upaya peningkatan kualitas udara selain mempunyai landasan hukum yang operasional, sekaligus juga sebagai acuan bagi kegiatan pemantauan, pengendalian dan peningkatan kualitas udara. Karena itu Perda diharapkan mempunyai fungsi operasional selain sebagai landasan hukum. Kondisi kota Surabaya yang padat dan tingginya sumber pencemaran udara memerlukan perangkat hukum yang secara praktis dapat dilaksanakan. Untuk itulah Rancangan Perda tersebut (semula) dilengkapi dengan standar kualitas (baku mutu) untuk udara ambien (udara bebas) maupun standar kualitas emisi gas buang kendaraan bermotor. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) yang menyiapkan rancangan Perda itu beranggapan bahwa standar kualitas sebagai bagian dari Perda diperlukan sebagai instrumen pengaturan.

Akan tetapi naskah rancangan Perda yang disampaikan ke DPRD (oleh bagian hukum) tidak memuat standar kualitas dengan alasan bahwa sesuai peraturan yang ada (Peraturan Pemerintah no 41 tahun 1999), yang berwenang menetapkan baku mutu adalah Gubernur. Ketentuan PP 41/1999 itu diperkuat lagi oleh PP 38 tahun 2007, yang intinya hampir sama. Maka naskah rancangan Perda yang dibahas DPRD adalah yang tidak dilengkapi dengan baku mutu.

Yang menjadi persoalan adalah, sampai saat ini Gubernur Jawa Timur belum menetapkan baku mutu kualitas udara propinsi Jawa Timur, sehingga sesuai ketentuan, maka baku mutu yang dijadikan acuan adalah baku mutu yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkingan Hidup (MNLH) yang berlaku secara nasional.Sementara baku mutu yang dikeluarkan oleh MNLH sangat longgar, sehingga untuk kendaraan bermotor lama (sebelum 2007), nyaris semua kendaran bermotor akan bisa memenuhinya meski tanpa perawatan yang berarti. Bila kendaraan dengan perawatan minimal dapat memenuhi baku mutu (karena longgar), maka upaya peningkatan kualitas udara tidak akan tercapai.

Kondisi ini juga akan terjadi bila Gubernur Jawa Timur akan menetapkan baku mutu. Sudah dapat diduga bahwa baku mutu yang akan ditetapkan akan longgar, karena asumsinya adalah baku mutu tersebut diberlakukan untuk seluruh Jawa Timur. Maka baku mutu untuk Surabaya akan disamakan dengan Kabupaten Banyuwangi atau Kabupaten Pacitan. Padahal potensi pencemaran udara di kota Surabaya dengan Pacitan dan Banyuwangi sangat jauh berbeda. Karena itulah baku mutu untuk Surabaya seharusnya lebih ketat, sehingga dengan itu penegakan hukum peningkatan kualitas udara di Surabaya bisa berfungsi efektif.

Bila hal ini yang terjadi, maka Perda yang sedang digodok itu, tidak akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan baku mutu yang ketat pun masih saja ada kemungkinan penyimpangan di lapangan. Apalagi bila baku mutunya longgar, maka Perda itu nanti hanya ibarat macan ompong yang tidak mempunyai daya gigit. Sebab untuk menyatakan terjadinya pencemaran udara, instrumen yang digunakan adalah ukuran dari baku mutu. Bila baku mutu longgar, instrumen hukum pengaturannya tidak akan bisa mengatur pengendalian dan peningkatan kualitas udara. Dengan kata lain, Perda nantinya itu sudah ompong sejak lahir.

Lalu untuk apa dibuat Perda kalau tidak bisa menjadi instrumen pengaturan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s